Serat Srinata Dari Babad Tanah Jawi Turut Bercerita

Tinjau Jejak Tsunami Masa Lampau, Kepala BNPB Kunjungi Pantai Binuangeun

Klik untuk perbesar
Kepala BNPB Doni Monardo (kemeja putih, rompi coklat) saat mengunjungi Pantai Binuangeun, Lebak, Banten bersama Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Kepala PVMBG Kasbani, peneliti LIPI, ahli geologi, dan ahli vulkanologi, Sabtu (12/1). (Foto: BNPB)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo melakukan kunjungan ke Pantai Binuangeun, Lebak, Banten yang menjadi jejak tsunami 300, 1700, dan 3000 tahun yang lalu, Sabtu (12/1). Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), para ahli geologi,vulkanologi turut menyertai kunjungan Doni ke lokasi tersebut.

Dalam akun Facebook-nya, BNPB mengatakan, Pantai Binuangeun menyimpan energi potensi bencana yang belum dapat diketahui kapan terjadinya. "Adanya jejak tsunami ini menunjukkan bahwa pemda dan masyarakat setempat, harus meningkatkan kesiapsiagaan dengan memperkuat berbagai upaya mitigasi, menyiapkan rute-rute evakuasi, dan melakukan tata ruang yang berbasis risiko bencana," papar Doni.

Soal jejak tsunami, Perekayasa Bidang Kelautan Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai (BPTIPDP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko menulis dalam akun Twitter-nya. Ia menjelaskan, gempa tsunami berulang dan kejadiannya di masa lalu, bisa dijejaki melalui studi deposit/paleotsunami. Menurutnya, di Selatan Jawa, pernah terjadi gempa berkekuatan 9 Skala Richter (SR), pernah terjadi 400-an tahun lalu.

Widjo juga mengatakan, jejak tsunami masa lalu itu tak hanya diketahui melalui studi sedimennya. Tetapi juga tertulis pada tembang/sekar, seperti di tembang mocopat Serat Srinata berikut ini:

Serat Srinata dari Babad Tanah Jawi, yang menuliskan jejak tsunami masa lalu. (Foto: Twitter Widjo Kongko)

Sekadar kilas balik, di medio April 2018, Widjo pernah memaparkan hasil penelitian yang menyebut adanya potensi tsunami setinggi 57 meter akibat gempa bumi megathrust di Pandeglang, Jawa Barat. Informasi itu disampaikan Widjo dalam kegiatan Seminar Ilmiah oleh BMKG dalam rangka memperingati Hari Meteorologi Sedunia ke-68 di Gedung Auditorium BMKG. [HES]

RM Video