Bicara Pelemahan Pertumbuhan Sektor Manufaktur

Menperin: Kita Perluas Pasar Ekspor

Agus Gumiwang Kartasasmita (Foto: Randy Tri Kurniawan/RM)
Klik untuk perbesar
Agus Gumiwang Kartasasmita (Foto: Randy Tri Kurniawan/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Penyebab pelemahan pertumbuhan sektor manufaktur dan Purchasing Managers's Index (PMI) karena permintaan barang-barang manufaktur dunia yang menurun, sehingga terjadi peningkatan aliran barang-barang impor dan penurunan eskpor.

Hal itu disampaikan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, kemarin.

Akibatnya, sambung Agus, utilisasi industri manufaktur seperti baja dan petrokimia masih rendah, ditambah rantai nilai bahan baku dan bahan penolong yang masih harus diperkuat.

Berita Terkait : Ekspor Pipa Fiberglass Ke AS, Perusahaan Ini Diacungi Jempol Menperin

"Menurunnya Purchasing Manager's Index (PMI) pada Oktober 2019 harus menjadi pemicu untuk memperbaiki daya saing industri nasional.Tekanan terhadap industri manufaktur nasional karena kondisi ekonomi dunia yang menurun," kata Agus. 

Menyikapi kondisi seperti itu, Agus sudah menyiapkan jurus penangkalnya. "Kita atasi dengan memperluas pasar ekspor seperti negara-negara Asia Pacific, Timur Tengah dan Afrika. Industri manufaktur Indonesia seperti kendaraan bermotor, makanan,  minuman, dan aneka industri mempunyai peluang untuk ditingkatkan ekspornya," tegas Agus.

Agus menambahkan, Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan di bawah koordinasi Menko Perekonomian, akan berusaha keras membuka dan memperdalam pasar ekspor. Sebagai contoh, Indonesia sudah ditunjuk sebagai negara mitra resmi pada Hannover Messe 2020 yang merupakan ajang pameran teknologi manufaktur terbesar dunia.

Berita Terkait : Bahan Baku Aman, Industri Tekstil Siap Meroket

"Ekspor industri otomotif pada tahun 2019 diperkirakan akan naik menjadi sekitar 300.000 unit berarti peningkatan 18 persen dari tahun sebelumnya," urainya.

Sedangkan industri manufaktur Indonesia yang mempunyai kontribusi besar pada pertumbuhan sektor manufaktur, tegas Agus, sedang memperbaiki diri dengan memperkuat rantai nilai bahan baku dan bahan penolong, seperti industri petrokimia dengan revitalisasi Tuban Petrochemical Complex, pengembangan Chandra Asri Petrochemical Complex, industri logam dasar dengan revitalisasi Krakatau Steel dan beroperasinya kompleks Industri Morowali, industri kendaraan bermotor, industri makanan dan minuman.

"Industri kecil, menengah dan aneka industri juga menunjukkan geliat yang baik untuk berperan meningkatkan pertumbuhan sektor industri manufaktur," terangnya.

Berita Terkait : Ini Lima Jurus Menteri Agus Kerek Pertumbuhan Industri

Untuk jangka menengah dan panjang, Agus menyatakan, Kementerian Perindustrian akan mendorong pembangunan Kawasan Industri di berbagai daerah di Indonesia yang terkait dengan bahan baku, dan posisi strategis. [KPJ]