Turun Gunung, Menkeu Sri Mulyani Jadi Guru SD

Siswa Kelas 6A SDN Kenari 01 Jakarta Pusat, tampak antusias diajar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam sesi Kemenkeu Mengajar, Senin (4/11). (Foto: Humas Kemenkeu)
Klik untuk perbesar
Siswa Kelas 6A SDN Kenari 01 Jakarta Pusat, tampak antusias diajar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam sesi Kemenkeu Mengajar, Senin (4/11). (Foto: Humas Kemenkeu)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati turun gunung sebagai relawan, mengajar di Kelas 6A SDN Kenari 01 Jakarta Pusat, Senin (4/11).

Sri Mulyani yang tampil mengenakan kemeja putih, celana panjang hitam, dan sepatu kets hitam itu tampak ceria dan bersemangat mengajar di hadapan para siswa.

Begitu juga para siswa berseragam putih merah itu. Terlihat sangat senang diajar Bu Menteri.

Dalam sesi tersebut, menteri kelahiran Bandar Lampung 27 Agustus 1962 itu melempar pertanyaan ke para siswa. "Coba ada yang bisa jawab nggak, apa itu arti Indonesia yang maju?"

Para siswa pun tunjuk tangan. Ada yang menjawab,"Adil dan Aman". Ada juga yang menjawab,"Damai, berdaulat!".

Berita Terkait : Corona Ngamuk Utang Numpuk

Sri Mulyani pun menanggapi. "Benar sekali, aman karena dijagain sama Pak Polisi. Jadi kalau kita mau maju, mau adil, damai dan berdaulat, kita butuh dana. Karena pak polisi kan butuh dibayar. Maka dari itu, negara butuh orang-orang yg mengelola uangnya," terang wanita sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia.

"Mengelola uang negara adalah tugas Kementerian Keuangan. Menteri yang memimpin sekaligus menjadi bendahara negara, disebut Menteri Keuangan," sambungnya.

 

Menkeu Sri Mulyani dikelilingi para siswa Kelas 6A SDN Kenari 01, Jakarta Pusat, Senin (4/11). (Foto: Humas Kemenkeu)

Sri Mulyani pun mengilustrasikan sistem keuangan negara, dengan cara memberikan contoh situasi nyata yang sering terjadi di sekitar mereka. Seputar bendahara kelas dan uang kas.

Selain itu, juga ada sedikit penjelasan tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan seberapa pentingnya mengelola instrumen tersebut dengan sebaik mungkin.

Berita Terkait : Sri Mulyani Dibela DPR

"Jadi, dalam pengelolaan keuangan negara juga sama. Mengumpulkan rakyat. Rakyat kan juga punya kebutuhan. Jadi, kita kalau majakin, juga nggak mau terlalu memberatkan. Tapi kebutuhan juga banyak. Semuanya juga penting, ya kan? Ada yang butuh untuk kesehatan. Dan Indonesia ini, kalian tahu, pendidikan itu prioritas. Karena kalau Indonesia maju, bisa nggak tanpa pendidikan? Nggak mungkin kan? Jadi, penting banget ya? Makanya pendidikan dikasih 20 persen," paparnya.

Setelah itu, Sri Mulyani mengajak para siswa tersebut untuk bermain peran, selayaknya sebuah negara. Ada yang jadi Menteri Keuangan, Menteri Pendidikan, Pengusaha hingga profesi YouTuber.

Melalui permainan peran ini, Sri Mulyani yang masuk dalam masuk ke dalam Daftar 100 Wanita Paling Berpengaruh di Dunia 2018 versi Forbes, mengajarkan mereka tentang bagaimana Kementerian Keuangan mengelola keuangan negara.

Mulai dari mengumpulkan pendapatan, dan membagikannya sesuai kebutuhan negara pada setiap fungsinya.

Dijelaskan, Kementerian Keuangan sebagai pengelola keuangan negara, harus bisa menjaga keseimbangan antara pendapatan dan belanja. Bagaimana supaya pajak tidak membebani masyarakat, tetapi kebutuhan negara tetap cukup dibiayai.

Berita Terkait : Ditunjuk Kemenhub, Pelindo lll Layani Jasa Pandu Di 3 Selat

"Saya berharap, ketika dewasa nanti, kalian ingat ada Menteri Keuangan yang sesungguhnya, datang ke kelas kalian dan ingat hari ini. Agar kalian terus semangat untuk bekerja, demi memajukan Indonesia," tutur Sri Mulyani.

"Jangan pernah lelah untuk mencintai negeri ini. Karena kalau bukan kalian yang mencintai negeri ini, mau minta siapa lagi? Kalian janji ya sama saya untuk mau ikut memajukan negara. Janji ya kalian akan terus mencintai Indonesia?" tandasnya.

Hari ini, sedang berlangsung kegiatan Kemenkeu Mengajar, serentak di seluruh Indonesia.

Kemenkeu Mengajar adalah sebuah kegiatan yang bersifat sukarela (non-APBN), di mana pegawai Kemenkeu akan mengajar selama satu hari di Sekolah Dasar (SD).

Karena bersifat relawan, seluruh biaya yang dikeluarkan dalam pelaksanaan kegiatan Kemenkeu Mengajar ini tidak dibebankan kepada APBN. Jadi, relawan maupun panitia tidak diberikan kompensasi berupa apa pun. [HES]