Mahalnya Tiket Pesawat Jadi Kendala Industri Pariwisata

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio ditemani Wamen Angela Tanoesoedibjo di Jakarta, Selasa (5/11). (Foto: Ist)
Klik untuk perbesar
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio ditemani Wamen Angela Tanoesoedibjo di Jakarta, Selasa (5/11). (Foto: Ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Harga tiket pesawat masih menjadi momok menakutkan bagi industri pariwisata. Apalagi menjelang akhir tahun, diprediksi kunjungan wisatawan akan meningkat.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio mengakui, harga tiket pesawat pasti punya pengaruh ke kunjungan wisatawan. Selama 2 minggu menjadi menteri persoalan harga tiket pesawat memang banyak dikeluhkan.

"Ya namanya harga. Seperti makanan aja kalau banyak diskon pasti banyak yang beli. Tapi, ini juga sudah saya bicarakan dengan Kementerian BUMN bagaimana agar bisa agar harga tiket bisa disesuaikan. Ini juga banyak keluhan," katanya disela-sela acara ngopi bareng dengan wartawan di Jakarta, Selasa (5/11).

Berita Terkait : Taspen Sabet Penghargaan Emerging Industry Leader

Selain dengan Kementerian BUMN, Wishutama juga membicarakan isu tiket pesawat ini dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). "Dengan Perhubungan juga sedang kordinasi. Pokoknya dukungan masing-masing kementerian. It's not alone," jelasnya.

Menurutnya, harga tiket pesawat harus bisa terjangkau. Tidak hanya untuk wisatawan mancanegara tapi juga domestik. "Turis lokal kan juga ingin ke Labuan Bajo, nggak cuma wisatawan mancanegara. Jangan sampai orang bilang ke luar negeri lebih murah daripada wisata dalam negeri," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Wishnutama yang ditemani wakilnya Angela Tanoesoedibjo punya harapan besar terhadap industri pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.  Ada dua hal, pertama, pariwisata menjadi penghasil devisa nomor satu di Indonesia. Kedua, produk ekonomi kreatif Indonesia akan jadi yang terbaik di Asia Tenggara.

Berita Terkait : Jokowi Pastikan, Pemberian Insentif Pariwisata Tak Tambah Penyebaran Corona

Tahun ini sektor pariwisata diproyeksikan menghasilkan devisa 20 miliar dolar AS atau meningkat dari tahun lalu sekitar 17 miliar dolar AS. Selain devisa pariwisata, Wishnutama juga meyakini saat ini momentum tepat untuk meningkatkan kualitas produk-produk ekonomi kreatif agar menjadi yang terdepan, minimal di kawasan Asia Tenggara. 

Target tersebut dapat terwujud dengan kolaborasi yang baik bersama Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo serta pemangku kepentingan terkait lainnya di sektor ini. 

Soal pembagian tugas dengan wakilnya, Wishnutama menegaskan, semuanya dikerjakan bersama. "Saya dan Bu Wamen Angela Tanoesoedibjo adalah satu. Apapun tugasnya kita akan selesaikan bareng. Kita sama-sama selesaikan apapun bersama. Kita saling melengkapi satu sama lain, bukannya bagi-bagi tugas yang berbeda," ucapnya. 

Berita Terkait : Kemenhub Siapkan Insentif Rp 443 M

Melalui sinergi pariwisata dan ekonomi kreatif, kata Wishnutama, pariwisata akan menjadi penghasil devisa utama dan hal ini diyakini bisa segera terwujud apalagi dengan melibatkan investasi yang besar untuk mengembangkan lima destinasi pariwisata super prioritas seperti Danau Toba, Labuan Bajo, Borobudur, Mandalika dan Likupang.

Sementara, Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo mengatakan, sangat senang berkolaborasi untuk memajukan pariwisata Indonesia termasuk dalam hal promosi ke mancanegara. Sebagai contoh, untuk mempromosikan wisata Indonesia juga bisa ditempuh dengan memperbanyak restoran Indonesia di mancanegara. "Itu bisa dilakukan di negara-negara Asia Pasifik dulu seperti Singapura, China, Australia," ucapnya. [KPJ]