Peringati 70 Tahun Tragedi Situjuah

Presiden Jokowi Utus Moeldoko Ke Situjuah Padang

Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi menerbitkan Inpres Nomor 7 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Bela Negara. (Foto: Randy Tri Kurniawan/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Joko Widodo mengutus Kepala Staf Kepresidenan Jendral TNI (Purn) Moeldoko, untuk menghadiri sekaligus menjadi inspektur Upacara Peringatan Peristiwa Situjuah ke-70 di Situjuah, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, 15 Januari mendatang.

Peristiwa Situjuah adalah peristiwa paling dramatis di Ranah Minang. Sebanyak 69 orang perwira, prajurit dan rakyat wafat dibombardir Belanda pada 15 Januari 1948. Duka pejuang kemerdekaan itu terjadi di sebuah lembah sempit bernama Lurah Kincia, di Situjuh Batua, Situjuah Limo Nagari, Limapuluh Kota, terpaut 12 km dari kota kecil Payakumbuh, utara Kota Padang.

Sebelumnya, Walinagari Situjuah Batua, Situjuah Limo Nagari, Limapuluh Kota, Sumbar Don Vesky Dt Tan Marajo, bersama niniak mamak, alim ulama dan cadiak pandai berkirim surat ke Presiden Joko Widodo pada November 2018. 

Dalam surat bernomor 117/104/XI/2018 itu, Walinagari (kepala desa) memohon kepada Presiden Joko Widodo untuk hadir dalam peringatan Peristiwa Situjuah yang ke-70, sebagai mata rantai perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 1948-1949.

Surat Walinagari ini ditembuskan ke sejumlah Kementerian, Gubernur Sumbar, Bupati Lima Puluh Kota, dan Camat Situjuah Limo Nagari. "Terakhir, kami juga kembali membuat surat dan mengirimkannya kepada Pak Moeldoko," kata Tan Marajo, Sabtu (12/1).

Kabar kehadiran tokoh militer yang juga mantan Panglima TNI Jendral (Purn) Moeldoko ini, didapat Tan Marajo dari sejumlah pihak. Termasuk, dari jaringan masyarakat petani di mana Moeldoko menjabat Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

"Dibantu teman-teman pegiat media sosial, ananda Muhammad Bayu Vesky, Pak Ulin Yusron, Pak Masril Koto, kemudian tokoh- tokoh yang peduli dengan PDRI, Insya Allah, bapak Presiden hadir diwakili Jenderal Moeldoko," kata Tan Marajo, didampingi Camat Situjuah Rahmad Hidayat.

Peristiwa Situjuah adalah mata rantai Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 1948-1949 di Sumatera Tengah, yang nilai-nilai perjuangannya sudah diakui pemerintah melalui Keppres Nomor 28 Tahun 2006 tentang Hari Bela Negara.

Presiden Jokowi kemudian menindaklanjuti dengan menerbitkan Inpres Nomor 7 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Bela Negara. "Dalam peristiwa heroik mempertahankan NKRI dan UUD 1945 ini, sebanyak 69 pejuang kemerdekaan kemerdekaan Indonesia dinyatakan gugur," kata Jokowi.

Sebagian besar korban adalah tokoh sipil dan militer di Sumatera Tengah. Termasuk diantaranya,  Kapten Zainudin Tembak (ayah almarhum Mayjen Purn TNI Ismed Yuzairi) dan Chatib Soelaiman (pejuang yang namanya diabadikan sebagai nama jalan utama dan lapangan sepakbola di Kota Padang, Padangpanjang, Payakumbuh, Limapuluh Kota, serta Tanahdatar, Sumatera Barat). 

Sebagian besar pejuang dan rakyat yang gugur dalam Peristiwa Situjuah, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Lurah Kincia, Nagari Situjuah Batua. Selain itu, juga ada yang dimakamkan di  Makam Pahlawan Nagari Situjuah Banda Dalam dan Makam Pahlawan Nagari Situjuah Gadang. 

Upacara Peringatan Peristiwa Situjuah dan tabur bunga, sudah dilakukan masyarakat bersama TNI dan Polri, sejak 15 Januari 1968. Sampai kini, tidak pernah berhenti setiap tahunnya. 

Sejumlah tokoh, seperti Wakil Presiden Muhammad Hatta, Dubes RI untuk Singapura Mayjen A Thalib dan Pangdam I Bukit Barisan Mayjen Ismet Yuzairi pernah memimpin upacara tersebut.

Begitupula dengan para Gubernur dan Wakil Gubernur di Sumbar. Mulai dari Gubernur Syoerkani, Hasan Basri Durin, Muchlis Ibrahim, Zainal Bakar, Gamawan Fauzi, Fachri Ahmad, Marlis Rahman, hingga Irwan Prayitno, dan Bupati Irfendi Arbi.

"Peringatan Peristiwa Situjuah ke-70 tahun pada 15 Januari 2019 merupakan momentum yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat di Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar umumnya," jelas Tan Marajo. [HES]

RM Video