Menag Juga Suka Pakai

Urusan Celana Cingkrang Anggap Saja Tutup Buku

Klik untuk perbesar
Menteri agama Fachrul razi (tengah) mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (7/11). (Foto: Patra Rizki Syaputra)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Urusan celana cingkrang dan cadar tutup buku. Kembalikan ke aturan main tiap instansi, juga serahkan ke keyakinan umat yang memang suka meggunakannya. Dan, ternyata Menteri Agama, Jenderal (Purn) Fachrul Razi sendiri termasuk barisan penyuka celana cingkrang.

Pengakuan Fachrul soal suka memakai celana cingkrang disampaikan dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi VIII DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, kemarin. Ini merupakan Raker pertama Fachrul sebagai Menag. Fahcrul datang dengan disampingi Wamenag, Zainut Tauhid. Bagi Zainut, Komisi VIII tidak asing lagi. Sebab, ia pernah tercatat sebagai anggota komisi yang membidangi aga ma dan sosial itu.

Raker dimulai sekitar pukul 10.20 WIB, sedikit molor dari yang dijadwalkan sebelumnya: pukul 10.00 Raker ini disambut antusias para anggota DPR. Yang hadir hampir full. mencapai 47 orang. mereka juga antusias untuk bertanya. tercatat, ada 26 orang. Pertanyaannya pedas pedas. Ada juga yang menceramahi.

Ketua Komisi VIII, Yandri Susanto, ikut bertanya. Saat membuka rapet, dia langsung menembak soal wacana larangan cadar dan celana cingkrang. “Seolah-olah cara berpikir orang itu ada garis lurus dengan cara berpakaian, Pak. Nah, itu menjadi pro kontra sangat tinggi,” ucap politisi PAN ini.

Berita Terkait : Menag Fachrul Razi: Terima Kasih, Pak Lukman

Ia lalu mengutip pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyebut bahwa radikalisme tidak ada hubungan dengan cara berpakaian seseorang. “Kalau kita lihat bom thamrin, itu pakai blue jeans, Pak. Di New Zealand, yang nembaki masjid itu pakaian milenial. Kelompok kriminal bersenjata di Papua itu bukan celana cingkrang yang membunuh tentara dan sipil,” ucapnya.

Setelah itu, dia mempersilahkan Fachrul menyampaikan paparan. Nah, paparan Fachrul ini terbilang cukup panjang. Hampir satu jam. Isinya antara lain soal realisasi anggaran, soal penyelenggaraan ibadah haji, dan 12 program andalan.

Di tengah paparan itu, Fachrul sempat dihujani interupsi. Para anggota Dewan merasa, yang dibacakan itu tidak sesuai dengan materi yang diedarkan ke anggota DPR. Yandri kemudian menengahi, dan memberikan kesempatan Fachrul melanjutkan paparannya. “Toh, nanti ada kesempatan untuk mengkritisi,” kata Yandri. Fachrul lalu merampung paparannya.

Beres itu, para anggota Komisi VIII kembali memberondong Fachrul banyak pernyataan. Namun, inti nya relatif sama. menolak wacana pelarangan cadar dan celana cingkrang.

Berita Terkait : Menag: Saya Terlalu Cepat Mengangkatnya

Ali Taher salah satunya. Ketua Komisi VIII DPR periode lalu ini menyampaikan pernyataannya bak ceramah. Ia mengawalinya dengan membaca ta’awudz berserta artinya. Anggota Komisi VIII sontak terkekeh mendengarnya. “Ada 15 pertanyaan,” kelakarnya, yang lagi disambut ketawa hadirin seisi ruangan.

Pertama soal radikalisme. Ia mengingatkan sejarah Nabi Ibrahim ketika berhadapan dengan Namrud, Nabi Musa dengan Firaun, hingga nabi Muhammad dengan Abu Lahab. Menurutnya, kata radikalisme adalah akar dari sebuah persoalan teologis. Yang keliru adalah menggunakan radikalisme pada konteks politik yang menghancurkan agama. “Harap belajar lagi apa itu religion dan apa itu faith,” pinta Ali. “Saya sayang pada Anda, makanya Saya ngomong apa adanya,” sambung anggota Fraksi PAN itu.

Kritik yang hampir serupa datang dari politisi PKS, Ihsan Qolba Lubis. Dia meminta Fachrul tidak masuk terlalu dalam soal agama dan penafsirannya. “Biarkan penafsiran itu beragam,” sarannya.

Anggota Fraksi Golkar, Endang Maria, dan anggota Fraksi PKB, Maman Imanulhaq, ikutan mengkritik. Maman mengatakan, saat ini, celana cingkrang sudah jadi tren mode. Karena itu, ia meminta komunikasi politik Fachrul diperbaiki. Agar tidak mengundang kegaduhan. “Harus voice bukan noise,” omel Maman.

Berita Terkait : Pak Menag, Renungkan Nasihat Yusuf Mansyur

Namun, ada juga yang mendukung Fachrul. [SAR]