Kerja Pertama Sebagai Komut Pertamina

Dipanggil Yang Mulia, Ahok Mesem-mesem

Ahok mengikuti kegiatan Pertamina sebagai Komisaris Utama, di Jakarta, kemarin. Hadir juga dalam acara itu, Menteri ESDM Arifin Tasrif (dua kiri) dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati (kiri). WAHYU DWI NUGROHO/RM
Klik untuk perbesar
Ahok mengikuti kegiatan Pertamina sebagai Komisaris Utama, di Jakarta, kemarin. Hadir juga dalam acara itu, Menteri ESDM Arifin Tasrif (dua kiri) dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati (kiri). WAHYU DWI NUGROHO/RM

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sambutan Pertamina terhadap Komisaris Utamanya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sungguh luar biasa. Di acara diskusi yang digelar perusahaan pelat merah itu misalnya, Ahok dipanggil dengan sapaan “yang mulia”. 

Disapa begitu, eks Gubernur DKI Jakarta itu hanya mesem-mesem. Acara yang dihadiri Ahok adalah Pertamina Energy Forum (PEF) 2019 yang digelar di Hotel Raffles, Jakarta, kemarin. 

PEF merupakan acara tahu nan yang dimulai tujuh tahun lalu. Diskusi ini membahas seputar perkembangan dunia bisnis minyak dan gas di Tanah Air. Ahok yang kini sudah jadi bagian keluarga besar Pertamina, ikut hadir dalam acara pembukaan. Bekas Bupati Belitung Timur ini tiba di lokasi sekitar pukul 9.15 pagi. 

Stelannya resmi, batik lengan panjang warna biru. Ia duduk di deretan kursi paling depan. Diapit Menteri ESDM Arifin Tasrif dan Dirut Pertamina Nicke Widyawati. 

Hadir pula perwakilan dari instansi dan juga duta besar sejumlah negara. Di acara ini, Ahok jadi sorotan juga mendapat sambutan spesial. 

Berita Terkait : Jakarta Banjir Lagi, Pertamina Tanggap Salurkan Bantuan

“His Ex cellency (Yang Mulia) Komisaris Utama kami, Bapak Ahok,” kata MC membuka acara. Sapaan MC tersebut langsung disambut tepuk tangan hadirin. Ahok kemudian berdiri setengah membungkuk. Wajahnya mesem-mesem. Ahok memang menjadi salah satu bintang di acara itu. 

Usai acara banyak yang ingin berfoto dengannya. Sebagian lagi minta salaman. Ahok melayani permintaan itu dengan ramah. Hanya saja, Ahok yang dulu rajin bicara kini mendadak irit bicara. 

Setelah pembukaan PEF rampung, ‎awak media menunggu Ahok di pintu keluar. Saat ditanya, Ahok enggan menjawab pertanyaan awak media seputar penunjukannya sebagai komisaris utama. 

Ditanya macam-macam, Ahok hanya senyum. Awak media pun kembali menunggu Ahok ‎di tempat istirahat sementara sebelum meninggalkan tempat acara, namun Ahok kembali menolak menjawab pertanyaan. 

Ia bergegas pergi menaiki mobilnya. Ahok sendiri sebelumnya mengaku, tak mau asal bicara usai dilantik menjadi Komut Pertamina. Alasannya, jabatan Komut berbeda dengan saat dirinya menjadi Gubernur DKI Jakarta. “Jadi ini beda dengan Gubernur (DKI Jakarta), dulu apa aja saya jawab. Ini kan ada hak dan wewenangnya,” ujar Ahok. 

Baca Juga : Komisi VII DPR Akan Cari Jalan Keluar Masalah Larangan Ekspor Nikel

Ahok menjelaskan, tugas utama Komut Pertamina adalah pengawasan internal di tubuh perusahaan minyak plat merah itu.“Saya hanya duduk bantu awasi, jadi masyarakat bisa lihat perkembangan bagaimana hasil kerja kami, di lapangan seperti apa, hasilnya seperti apa, itu ada kerja sama tim,” ucap dia. 

Sementara itu, Dirut Pertamina Nicke Widyawati mengungkap, lima pekerjaan rumah (PR) yang harus segera diselesaikan perusahaan pelat merah itu. 

Pertama, terkait ketersediaan BBM di dalam negeri yang masih dipenuhi impor.“Sejujurnya, kami masih harus sebagian impor karena belum mampu mencukupi kebutuhan sendiri,” kata Nicke. 

Kedua, yaitu akses. Memang, berbagai infrastruktur sudah dibangun pemerintah dan perusahaan minyak nasional, namun kebutuhan energi bagi 70 ribu desa di Indonesia masih belum sepenuhnya terjangkau dari sisi akses. 

“Ini masih jadi tantangan karena punya 70 ribu desa. Tapi, ketersediaan energi belum sepenuhnya terpenuhi dan rasio elektrifikasi yang belum 100 persen,” imbuh Nicke. 

Baca Juga : Wamen PUPR Keluhkan Pembangunan Di Daerah Lambat

PR ketiga, keterjangkauan harga. Nicke menuturkan kebijakan BBM Satu Harga sedang diterapkan. Tetapi, itu pun belum menyeluruh ke wilayah-wilayah di Indonesia. 

PR Keempat, lanjut Nicke, penerimaan sumber energi. Hal ini berkaitan dengan pemenuhan target bauran energi sebesar 23 persen dari energi terbarukan. 

Pemerintah sendiri sudah melangsung kan kebijakan pencampuran minyak nabati pada BBM alias biodiesel. Namun, itu pun belum cukup. Begitu pula dengan penggunaan energi dan panas bumi lainnya. 

“Artinya, kita harus mencari sumber energi terbarukan. Kita lihat CPO terdapat banyak di Sumatera, maka perlu bangun bio refinery di sana. Lalu, batu bara di Sumatera Selatan, maka bangun coal grasifikasi di sana,” tandas Nicke. [BCG]