Sebulan Jadi Menristek/BRIN

Januari, Menteri Bambang Siap Lari Kencang

Klik untuk perbesar
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang P.S. Brodjonegoro. Foto: M Qori Haliana/RM

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sebulan menjadi Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang P.S. Brodjonegoro mengaku tertantang dan excited. Sebab, di tugas barunya ini, ia punya sejumlah PR penting. 

Salah satunya, bagaimana mengubah Kementerian ini menjadi lebih membumi dan punya dampak langsung bagi masyarakat. Bukan sekadar menjadi kementerian pengoleksi temuan dan prototype semata.

Bagi Bambang, riset bukanlah barang asing. Sebab sejak di dunia akademisi hingga lalang melintang di dua kementerian di periode sebelumnya, yakni Kementerian Keuangan dan Kementerian PPN/Kepala Bappenas, ia mengaku sering bersentuhan dengan riset.

Berita Terkait : Obat dan Alat Kesehatan Masih Impor, Menristek Prihatin

"Di manapun kita tidak boleh melupakan pentingnya riset," kata Bambang ketika berbincang dengan Tim Rakyat Merdeka di ruang kerjanya lantai 24 Gedung BPPT, Jakarta, kemarin.

Yang membuatnya tertantang adalah perubahan nomenklatur kementerian dari Kemenristekdikti menjadi Kemenristek/BRIN. Di satu sisi terjadi pengurangan kewenangan di bidang pendidikan tinggi, di sisi lain kementerian yang dipimpinnya mendapat tugas baru yakni di bidang inovasi.
Dimana, kata inovasi ini merupakan kata yang baru pertama kali dibuat secara eksplisit di dalam portofolio kabinet. Perubahan nomenklatur ini adalah amanat dari UU Nomor 11 Tahun 2019 Tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Baca Juga : Pemprov DKI dan KAI Perkuat Kerjasama

Menurutnya, penambahan kata Inovasi itu punya pesan khusus. Antara lain bagaimana kementeriannya bisa mendorong lahirnya berbagai inovasi dari bangsa Indonesia sendiri. Tidak hanya membuat, tetapi juga inovasi yang punya dampak yang luas terhadap masyarat.

"Jadi selama satu bulan ini di satu sisi excited, menantang," ungkap Menteri yang akrab disapa Bambang Bro ini.

Sejauh ini, dirinya tengah menyelesaikan sejumlah pekerjaan administratif terkait perubahan nomenklatur itu. Karena di organisasi yang baru, Direktorat Jenderal yang mengurusi Pendidikan Tinggi (Dikti) pindah sebagian besar ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, diganti dengan badan baru yakni yang berhubungan dengan Inovasi. Otomatis akan ada restrukturisasi organisasi.

Baca Juga : Mantap, KAI Raih Penghargaan Contact Center World 2019

"Nah, sambil saya membayangkan seperti apa badan barunya, pada saat yang sama kita juga harus siap lari kencang Januari nanti," tuturnya.

Presiden, kata Bambang, memberikan batas waktu perubahan struktur organisasi ini bisa kelar paling telat Januari, yang kemudian langsung bisa dipakai untuk "tempur" selama 5 tahun ke depan. "Ya presiden memberi kayak deadline," ungkapnya. [SAR]