Putri Gus Dur Ajak Organisasi Agama Atasi Masalah Lingkungan

Yenny Wahid usai menjadi pembicara diskusi Pergerakan Agama dalam Perubahan Iklim di Paviliun Indonesia di Madrid, Spanyol, Senin(9/12) siang, waktu setempat.
Klik untuk perbesar
Yenny Wahid usai menjadi pembicara diskusi Pergerakan Agama dalam Perubahan Iklim di Paviliun Indonesia di Madrid, Spanyol, Senin(9/12) siang, waktu setempat.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Organisasi keagamaan memiliki peran penting dalam mengatasi masalah perubahan iklim. Para ulama harus lebih rajin memberikan dakwah ke masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup. 

Hal itu dikatakan Yenny Wahid usai menjadi pembicara diskusi bertajuk Pergerakan Agama dalam Perubahan Iklim di Paviliun Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim Ke-25 Madrid, Spanyol, Senin (9/12) siang, waktu setempat. 

"Peran tokoh agama dalam perubahan iklim sangat diperlukan. Mereka harus menjadi motor penggerak dalam memberikan edukasi  lingkungan hidup ke masyarakat melalui dakwahnya," ujarnya.

Baca Juga : Sudah Minta Maaf, Yasonna Saja Masih Diceramahi Pengamat

Yenny mengatakan, selama ini gerakan perubahan iklim belum bisa menggerakan manusia untuk melakukan tindakan kongkrit dalam mencegah pemanasan global. 

"Selama ini pendekatan yang dilakukan keliru. Kalau ingin melakukan perubahan besar, tidak bisa hanya disuguhi dengan fakta. Tapi harus disentuh emosi dan perasaannya. Setelah itu, baru tergerak untuk melakukan suatu tindakan. Ini lah peran organisasi keagamaan untuk menjadi penggerak besar dalam perubahan iklim," jelasnya. 

Ia mencontohkan, di Kesultanan Oman. Negara Arab di pesisir tenggara Jazirah Arab ini, selalu ada pertemuan para imam dan ulama dunia. Pertemuan tersebut, membicarakan pentingnya menghemat air. Sedangkan dari sisi fiqih atau hukum islam, misalnya ada Sinagoge, tempat beribadah orang Yahudi.

Baca Juga : Pindah Ibu Kota Berpotensi Dorong Perekonomian Kita

Di sana, para tokoh agama menggunakan energi bersih yang beralih ke energi ramah lingkungan. Ada juga gereja menggunakan asetnya untuk berinvestasi dalam proyek yang bisa memperkuat menyelamatkan lingkungan hidup.  

"Jadi banyak tindakan nyata yang dilakukan pemimpin agama di seluruh dunia. Hal terkecil saja misalnya, mengurangi makan daging. Satu sapi itu  bisa mengeluarkan 120 kg gas metan. Satu sapi sama saja memakan 1000 liter bensin. Dan itu bisa dipakai untuk keliling dunia. Bayangkan kalau kita semua mengurangi makan daging sapi," ujar Yenny

Sedangkan di Indonesia, kata Yenny, NU dan Muhammadiyah juga sudah banyak melakukan inisiatif menyelamatkan lingkungan hidup, mulai tanam pohon bakau dan lainnya. Namun gerakan ini belum terlalu masif karena belum tumbuh kesadaran yang merata di tubuh kalangan agama di Indonesia.  

Baca Juga : Kasus Suap Proyek Masjid Agung di Solok Selatan, KPK Tahan Bos Dempo

"Kita lihat belakangan sudah ada kesadaran umat beragama untuk melihat permasalahan lingkungan hidup sebagai sebuah persoalan yang harus diatasi bersama. Masalah lingkungan hidup ini bisa menjadi pemersatu umat beragama. Ketika banjir atau longsor, tidak ditanya apakah kamu islam, kristen, Budha atau Hindu. Jadi isu lingkungan hidup harus menjadi platform semua umat beragama terutama dalam konteks Indonesia,"tandasnya. [FIK]