Buka Keran Ekspor Benih Lobster

Edhy Tak Sekeren Susi

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (kiri) dan pendahulunya, Susi Pudjiastuti dalam acara Sertijab di Kementerian Kelautan dan Perikanan, 23 Oktober 2019. (Foto: Ng Putu Wahyu Rama/RM)
Klik untuk perbesar
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (kiri) dan pendahulunya, Susi Pudjiastuti dalam acara Sertijab di Kementerian Kelautan dan Perikanan, 23 Oktober 2019. (Foto: Ng Putu Wahyu Rama/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di era Susi Pudjiastuti, benih lobster dilarang diekspor. Karena bisa mengurangi produksi lobster dewasa. Kini, saat Menteri Kelautan dan Perikanan dijabat Edhy Probowo, keran ekspor benih lobster dibuka kembali.

Edhy beralasan, ekspor untuk menambah penghasilan negara. Kebijakan Edhy pun dikritik, dianggap hanya mengutamakan kepentingan sesaat. Edhy pun dinilai tak sekeren Susi.

Saat menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi melarang perdagangan lobster di bawah 200 gram, atau yang berupa benih.

Aturan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keluatan (PMK) Nomor 56/2016 tentang Penangkapan Lobster.

Susi khawatir, bila ekspor benih lobster terus menerus dilakukan, jumlah lobster dan bahan baku benihnya akan habis dieksploitasi. Di saat yang sama, ia tidak mau Vietnam yang menjadi tujuan ekspor, malah diuntungkan.

Setelah Susi purnatugas, kebijakan pun berubah. Edhy berpandangan lain. Ia berkeinginan membuka peluang bagi pelaku usaha mengekspor benih lobster.

Ia beralasan, ada permintaan yang tinggi dari Vietnam terhadap benih lobster. Dulu, sekitar 80 persen kebutuhan benih lobster Vietnam berasal dari Indonesia. "Namun, kini kebutuhan Vietnam itu justru dipenuhi Singapura,” terang Edhy, di Jakarta, Rabu pekan lalu.

Berita Terkait : Emil Baik-baikin Prabowo

Atas pertimbangan itu, Waketum Gerindra ini berencana mencabut larangan ekspor benih lobster. Namun, dia memastikan, aturan ekspor itu akan ketat. Pelaku usaha bisa mengekspor, jika sebagian benih lobster yang ditangkap dibesarkan di dalam negeri.

Artinya, hanya 50 persen benih lobster yang ditangkap yang boleh diekspor.

“Kita bikin aturan, siapa yang ngumpulnya, kita tunjuk yang ngumpul, kita tunjuk pengusaha yang di sana, langsung dagangnya dari Indonesia ke Vietnam,” jelas Edhy kemarin.

Edhy kembali memberi penjelasan. Dia bilang, rencana itu masih dalam tahap wacana. “Ini kan masih dalam taraf wacana. Dan nanti akan kami putuskan berdasarkan hitungan. Saya sendiri kalau bisa memutuskan sendiri, saya siap kok untuk diekspor,” kata Edhy di Lembaga Ketahanan Nasional, Jakarta, kemarin.

Edhy beranggapan, ekspor lobster memberikan penghasilan untuk negara. “Ini bukan kepentingan pribadi. Devisa negara yang akan muncul, rakyat yang tadinya tergantung bisa hidup lagi,” klaim dia.

Menurut dia, tidak bisa semuanya ngotot melarang ekspor benih lobster melihat atas dasar lingkungan. Dia mengklaim, tidak ingin merusak lingkungan selama memimpin Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“Intinya, saya tak ada niat negatif atau niat pribadi untuk kepentingan ini,” kilahnya.

Berita Terkait : Sentra Kelautan Mimika Dongkrak Ekspor Kepiting

Menurut ahli, benih lobster di alam hanya hidup 1 persen saja dari semua yang ada.

“Jika nanti ada masalah kekurangan benih lobster di alam, kami akan ajukan bagi pembesar-pembesar lobster untuk wajib restocking, misalnya 5 hingga 10 persen. Berarti sudah ada 4 kali jumlah ana kan di alam,” ucap Edhy.

Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, Mohammad Abdi Suhufan, mengkritik keras kebijakan Edhy itu.

Ia menilai, kebijakan pembukaan keras ekspor lobster tak mendesak. Malahan bertolak belakang dengan upaya untuk mengembangkan budi daya perikanan.

“Saya lihat, kebijakan Edhy tidak sekeren Susi, yang berani melarang ekspor lobster,” ujar Abdi, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut Abdi, kebijakan tersebut justru merugikan petani. Sebab, tidak ada budidaya secara baik. Padahal, bila dilakukan budidaya terlebih dahulu, untung yang dihasilkan sangat besar dibanding menjual benih.

 “Kebijakan ini justru menguntungkan mafia yang ingin mendapat untung berlipat,” kritiknya.

Berita Terkait : Bantu Petani, Edhy Bidik Penurunan Biaya Angkutan

Ekonom senior Faisal Basri juga menyayangkan kebijakan Edhy ini. “Ekspor benih lobster dulu sudah dilarang. Sekarang mau dibuka. Sudah gila apa ini,” kritiknya.

Menurut Faisal, pembukaan kembali keran ekspor benih lobster akan berpengaruh buruk pada iklim dagang maupun lingkungan.

“Kebijakan itu bakal memberi celah mafia untuk bergerilya, bila diberi keleluasaan untuk mengirimkan benih lobster ke luar negeri,” terangnya.

Faisal memperkirakan, mafia bakal bermunculan untuk meraup keuntungan besar. Sebab, harga beli benih lobster saat ini telah mencapai 5.000 yen per ekor. [TIF]