RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, hati-hati betul saat akan membeli alutsista dari luar negeri. Ia tak ingin keliru apalagi kemahalan. Karena itu, setiap tahap pembelian, ia laporkan ke atasannya, Menko Polhukam, Mahfud MD.

Kemarin, ia menghadap Mahfud untuk minta petunjuk. Prabowo pun mematuhi segala wejangan Mahfud. Prabowo benar-benar jenderal penurut ya.

Prabowo tiba di kantor Mahfud sekitar pukul 1 siang. Prabowo datang menumpang mobil Lexus putih bernomor pelat 1-00. Turun dari mobil, Prabowo langsung masuk. Ajudannya mengikuti dari belakang.

Dalam agenda, Prabowo sebenarnya dijadwalkan bertemu Mahfud pukul 11 siang. Namun, pertemuan baru digelar setelah salat Jumat. Sebab, sebelumnya Prabowo harus bertemu Menhan Uni Emirat Arab, Mohammed Ahmed Al Bowardi, di kantornya. Pertemuan itu membicarakan kerja sama industri pertahanan antara Indonesia dan Uni Emirat Arab.

Berita Terkait : Menhan Minta Alumni Akabri Angkatan 95 Jadi Benteng Merah Putih

Pertemuan Prabowo dengan Mahfud berlangsung singkat. Sekitar 15 menit. Kemudian, Prabowo kembali muncul. Mahfud mengantarnya sampai lobi gedung. Apa yang dibahas? Prabowo mengaku menemui Mahfud untuk melaporkan rencana pembelian alutsista.

Pertemuan itu membahas beberapa masalah pokok di bidang pertahanan. Seperti rencana pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) dari Korea Selatan. “Ya, alutsista dianggap mungkin terlalu mahal. Sedang ditinjau kembali. Kita sedang me-review, mengkaji,” kata Prabowo.

Prabowo mengatakan, ia dan Mahfud diperintah Presiden Jokowi untuk bernegosiasi kembali terkait alutsista. Ia mengatakan, beberapa di antaranya terkait kontrak lama di luar negeri. “Kami diperintah menego kembali begitu oleh Bapak Presiden,” kata Prabowo.

Prabowo menegaskan, sebagai pelaksana, dirinya patuh dengan perintah itu. “Jadi ya kita harus pandai pandai untuk menjaga kepentingan nasional,” imbuhnya. Prabowo juga mengatakan, pertemuan dengan Mahfud juga membahas prihal tiga warga negara Indonesia (WNI) yang disandera Abu Sayyaf di Filipina.

Berita Terkait : Prabowo Borong `Si Maung` 300 M

Dia mengaku akan mengadakan pertemuan lanjutan dengan Mahfud prihal kasus ini. “Sudah berita umum ya, ada 3 warga negara kita disandera di Filipina. Jadi, ya kita akan membahas nanti,” jelasnya.

Untuk pembahasan alutsista, diketahui sehari sebelumnya, Mahfud telah bertemu dengan Menhan Korea Selatan (Korsel), Jeong Kyeong-doo. Pertemuan keduanya membahas kerja sama di bidang alutsista pertahanan proyek jet tempur Korean Fig hter Xperiment/Indonesia Fighter Xperi ment (KFX/IFX) antara Indonesia dan Korsel.

Kerja sama itu, disebut Mahfud, masih dalam tahap negosiasi. Pembicaraan terkait kerja sama itu masih terus dilakukan. Namun, Mahfud tak menjelaskan secara rinci dan menyerah kannya kepada Prabowo.

Hingga saat ini, belum ada kejelasan perihal kerja sama antar kedua negara ini. Prabowo enggan menanggapi ketika ditanya tentang kelanjutan kerja sama pesawat KFX/IFX. Proyek pengembangan jet tempur KFX/IFX ini pernah tertunda pada 2009. Pada 7 Januari 2016, Indonesia dan Korsel menandatangani cost share agreement.

Berita Terkait : Prabowo Diingatkan Negara Lagi Tongpes

Menteri Pertahanan sebelumnya, Ryamizard Ryacudu, pernah mengungkapkan, Indonesia belum membayar 20 persen dari total biaya pengerjaan KFX/IFX fase kedua.

Kedua negara sebelumnya telah menyepakati kontrak proyek itu senilai Rp18 triliun atau 1,65 triliun won. Sebanyak 80 persen sisanya ditanggung pemerintah Korsel. Total dana yang dikeluarkan kedua negara untuk penggarapan fase kedua ini sebanyak Rp 8,6 triliun. [BCG]