Diresmikan Jokowi, B30 Hemat Devisa Rp 63 Triliun

Presiden Jokowi meresmikan penerapan program B30 di SPBU COCO MT Haryono Jakarta Selatan, Senin (23/12). (Foto: Randy T Kurniawan/Rakyat Merdeka)
Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi meresmikan penerapan program B30 di SPBU COCO MT Haryono Jakarta Selatan, Senin (23/12). (Foto: Randy T Kurniawan/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka -
Presiden Jokowi meresmikan penerapan program Biodiesel 30 persen (B30) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) COCO MT Haryono Jakarta Selatan, Senin (23/12). Program B30 diharapkan bisa hemat devisa negara.
    
Dalam kesempatan itu, Jokowi didampingi Menko Perekonomian Airlangga Hartanto, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri ESDM Arifin Tasrif, Menteri BUMN Erick Tohir, Wakil Menteri I BUMN Budi Gunadi Sadikin, Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama, dan  Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati.

Menurut Jokowi, program B30 yang telah dimulai November lalu. Dia meminta, agar pengurangan impor Solar harus dilakukan secara serius. Apalagi, program B30 dapat menghemat devisa sekitar Rp 63 trilliun. 

“Ingat kita penghasil sawit tersebar di dunia. Kita punya sumber bahan nabati sebagai pengganti Solar. Kita manfaatkan untuk kemandirian energi nasional,” tegas Jokowi.

Berita Terkait : Bertemu PM Viktor Orban, Jokowi Bahas Beasiswa Hingga Pelatihan Sepakbola di Hongaria

Program B30 juga akan dapat mengurangi impor BBM dan menciptakan permintaan domestik Crude Palm Oil (CPO) yang sangat besar. Hal ini dapat memberikan multiplier effect bagi 13,5 juta petani perkebunan Kelapa Sawit. Ini artinya, B30 akan berdampak kepada para perkebunan kecil yang membina petani rakyat yang selama ini bekerja di Kebun Sawit dan para pekerja yang bekerja di pabrik Kelapa Sawit.

“Program B30 nantinya menjadi B50 dan seterusnya juga menjadi B100. Akan tidak mudah kita ditekan-tekan lagi oleh negara lain, terutama kampanye negatif dari beberapa negara terhadap ekspor CPO kita. Karena kita sudah memiliki pasar di dalam negeri yang besar,”ujar Presiden. 

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan, Pertamina siap mensukseskan program B30 yang menjadi salah satu progam strategis pemerintah 2020. Peresmian ini  dilakukan lebih cepat dari yang direncanakan semula pada Januari 2020. Harapannya, pada awal 2020, seluruh SPBU Pertamina sudah menyalurkan B30.

Berita Terkait : Jokowi Mau Naikkan Usia Pensiun Prajurit TNI Jadi 58 Tahun

Nicke menambahkan, Pertamina telah melakukan langkah cepat dengan melakukan penyaluran B30 sejak November 2019 di beberapa wilayah antara lain Tangki BBM (TBBM) Medan Sumatera Utara, Kilang Plaju Sumatera Selatan, TBBM Panjang Lampung, TBBM Plumpang DKI Jakarta, TBBM Balikpapan Kalimantan Timur, TBBM Rewulu Yogjakarta, TBBM Boyolali Jawa Tengah, Kilang Kasim Papua. 

“Kini, Pertamina telah menyiapkan 28 TBBM sebagai titik simpul pencampuran B30, yang nantinya akan disalurkan ke seluruh SPBU millik Pertamina di seluruh Indonesia" ujar Nicke.

Untuk mengamankan suplai FAME (Fatty Acid Methyl Ester) sebagai bahan utama pencampuran B30, lanjut Nicke, Pertamina telah melakukan penandatanganan kerjasama pengadaan FAME dengan 18 Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN) yang ditunjuk oleh pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM) pada Senin (16/12).

Berita Terkait : Rapim Kemhan Besok Bakal Dihadiri Presiden Jokowi

B30, tambah Nicke, merupakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan karena emisi gas buang yang memiliki tingkat pencemaran yang rendah tanpa mengurangi performa kendaraan. Pertamina berharap agar masyarakat dapat memanfaatkan produk Biosolar B30 dan turut menjaga kelestarian alam melalui penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan.

Program B30 ditargetkan bisa mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 14,25 juta ton C02 selama tahun 2020. Selain itu,  Program B30 juga ditargetkan bisa menyerap tenaga kerja tambahan hingga 1,29 juta orang. [DIT]