Lawan Produk Impor, Perajin Cangkul Kalisemo Diminta Gabung Koperasi

Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kemenkop UKM Victoria Simanungkalit (tengah) saat meninjau para perajin cangkul di desa Kalisemo. (Foto: ist)
Klik untuk perbesar
Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kemenkop UKM Victoria Simanungkalit (tengah) saat meninjau para perajin cangkul di desa Kalisemo. (Foto: ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Agar beban dan biaya produksi lebih murah, para perajin cangkul di sentra cangkul Desa Kalisemo, Kecamatan Liano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, agar tergabung dalam satu wadah usaha bernama koperasi.

Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Victoria Simanungkali mengatakan, dengan berkoperasi akan tercipta efisiensi produksi dan juga pemasaran. Tentunya, akan menekan harga satuan cangkul.

"Dengan berkoperasi, segala kendala yang dihadapi selama ini bisa diantisipasi. Di antaranya, pengadaan mesin teknologi pembuat cangkul, bahan baku, hingga pemasaran, bisa dilakukan koperasi," ujarnya di Jakarta, Kamis (9/1).

Dengan begitu, kata Victoria, para perajin hanya fokus pada produksi cangkul dan kualitasnya. Urusan lain-lainnya, termasuk permodalan, akan disiapkan koperasi.

Ia akan mendorong pengembangan Sentra Cangkul Desa Kalisemo tersebut. Kementerian juga akan menjalin kerja sama dengan PT Krakatau Steel dalam pengadaan bahan baku baja untuk cangkul dengan standar nasional atau SNI. 

Baca Juga : Digarap KPK, Adik Ipar Nurhadi dan Pengusaha Thong Lena Mangkir

"Setelah itu, kita akan mendorong agar cangkul lokal masuk ke dalam e-katalog," imbuhnya.

Lebih dari itu, kata Victoria, pihaknya juga sudah bekerja sama dengan BUMN-BUMN, instansi pemerintah, hingga pemerintah daerah, agar menggunakan produk cangkul buatan anak bangsa sendiri. 

"Berupaya menjaga produksi dan kualitas cangkul dalam negeri, yang tentunya secara perlahan akan mampu mengurangi cangkul asal impor," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Purworejo Bambang Susilo juga menekankan pentingnya berkoperasi bagi para perajin cangkul Desa Kalisemo. 

"Melalui koperasi, mereka akan memproduksi cangkul yang berkualitas dengan harga lebih murah, ketimbang produksi cangkul sendiri-sendiri," katanya.

Baca Juga : Penyidik KPK Ditangkap Polsek Jember

Selama ini proses pembuatan cangkul masih dilakukan secara manual atau belum menggunakan teknologi mesin. "Saya yakin, dengan berkoperasi, perajin cangkul bisa melawan produk cangkul impor," ujarnya.

Bambang bilang, secara produk cangkul Desa Kalisemo secara kualitas memang sudah bagus. Hanya saja, dari sisi harga masih terbilang tinggi bila dibandingkan produk cangkul asal impor. 

"Kenapa bisa lebih mahal, karena yang diproduksi perajin Kalisemo adalah cangkul untuk sektor pertanian," cetusnya. Sementara cangkul impor hanya bisa digunakan untuk proyek bangunan. Jadi, secara kekuatan dan kualitas, cangkul untuk pertanian lebih berkualitas dan lebih kuat.

Salah seorang perajin cangkul Kalisemo bernama Slamet Widodo menjelaskan, sentra cangkul Desa Kalisemo sudah sejak dulu ada, alias sudah turun temurun keluarga di sana.

"Sudah dari zaman kakek-kakek kita, Desa Kalisemo sudah dikenal sebagai sentra cangkul," katanya.

Baca Juga : China Dihantam Corona, Industri Ketiban Untung

Di Desa Kalisemo terdapat 11 sentra cangkul dengan produksi 15 cangkul perhari persentra. Pemasaran produk cangkul sudah masuk ke pasar di Yogyakarta, Magelang, Boyolali, Salatiga dan tentu saja Purworejo.

Dengan harga cangkul sebesar Rp 150 ribu, Slamet mengakui memang lebih mahal ketimbang cangkul impor. Karena, produk cangkul Kalisemo berbahan plat besi yang diisi baja.

Katanya, jangan disamakan dengan cangkul buatan pabrik yang hanya berbahan baku besi tanpa baja. "Jadi, secara kualitas, produk cangkul Kalisemo jauh lebih tinggi dibanding cangkul impor," tutup Slamet. [DWI]