Selalu Dipuji, Selalu Dibela

Prabowo Anak Emas Jokowi

Presiden Jokowi (kanan) dan Menteri Pertahanan RI saat Rapat Pimpinan Kementerian Pertahanan, TNI dan Polri di Lapangan Bhineka Tunggal Ika, Jakarta, Kamis (23/1). (Foto: Kemhan RI)
Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi (kanan) dan Menteri Pertahanan RI saat Rapat Pimpinan Kementerian Pertahanan, TNI dan Polri di Lapangan Bhineka Tunggal Ika, Jakarta, Kamis (23/1). (Foto: Kemhan RI)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Perlakuan Presiden Jokowi ke Menteri Pertahanan Prabowo Subianto tampak spesial. Seperti “anak emas”, Prabowo selalu dipuji, juga selalu dibela.

Sejak pertama kali diumumkan sebagai Menteri, Prabowo yang bekas lawan tandingnya di Pilpres itu, dapat perlakuan berbeda. Menteri lain, tak hanya diumumkan namanya, tapi juga diberikan tugas secara rinci. Tapi, hal ini tidak dilakukan ke Prabowo. “Pak Prabowo lebih tahu daripada saya,” ujar Jokowi saat mengumumkan kabinetnnya, waktu itu.

Kemarin, Jokowi kembali menunjukkan betapa spesialnya Prabowo di matanya. Jokowi melontarkan pujian terhadap Prabowo saat Rapat Pimpinan Kementerian Pertahanan (Kemenhan)-TNI-Polri, di Lapangan Bhinneka Tunggal Ika, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Jokowi memuji ketelitian Prabowo mengelola anggaran Kemenhan. Awalnya, Jokowi menyinggung anggaran pertahanan Kemenhan yang tahun ini mencapai Rp 127 triliun. Alokasi anggaran terbesar dibanding kementerian lainnya. “Hati-hati penggunaannya,” imbau Jokowi.

Kemudian, barulah dia memuji Prabowo. “Tapi yakin Pak Menhan ini kalau urusan anggaran, detail. Berkali-kali (diskusi) dengan saya, hampir hafal di luar kepala. Ini Pak, di sini Pak,” cerita Jokowi.

Berita Terkait : Perkuat Diplomasi Pertahanan, Prabowo Kunjungan Kerja Ke Abu Dhabi

“Sudah juga saya merasa aman untuk urusan Rp 127 triliun ini,” selorohnya.

Dia hanya berpesan agar Prabowo memanfaatkan APBN itu dengan efisien. Mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Disampaikan sudah sangat baik bahwa tidak ada yang namanya tawar-menawar mengenai kedaulatan, mengenai teritorial negara kita,” ujar Jokowi ketikan itu.

Mendengar ini, Prabowo membalas memuji Jokowi. Dia berterima kasih karena Jokowi mau menghadiri rapat terse but. “Kehadiran Bapak Presiden sebagai Panglima tertinggi Tentara Nasional Indonesia sungguh membangkitkan semangat moril dan percaya diri,” puji Prabowo.

Selain memuji, Jokowi juga membela Prabowo dari kritikan soal seringnya plesiran ke luar negeri. Kritikan itu sebelumnya dilontarkan PKS, partai penyokong Prabowo di Pilpres lalu.

Jokowi menegaskan, kunjungan kerja yang dilakukan Prabowo dalam rangka diplomasi pertahanan Indonesia. “Bukan yang lain-lain,” tegasnya.

Berita Terkait : Jokowi Hadiri Kenduri Kebangsaan di Bireuen Aceh

Selain diplomasi, Jokowi menyebut, kunjungan Prabowo ke berbagai negara itu juga dalam rangka melihat alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang akan dibeli Indonesia.

“Bagus atau tidak bagus. Benar atau tidak benar. Bisa digunakan atau tidak bisa digunakan, semua dicek secara detail,” terangnya. “Dan itu sudah kami diskusikan dengan Pak Menhan, tidak sekali dua kali. Banyak yang enggak tahu,” beber Jokowi.

Jokowi justru “memukul balik” pihak-pihak yang mengkritik Prabowo. “Kalau ada yang bertanya, (berarti) belum ngerti urusan diplomasi pertahanan,” kritik Jokowi.

Sebelumnya, Jokowi juga pernah membela Prabowo yang dikritik banyak pihak karena dianggap lembek terhadap ulah China yang melanggar perairan Natuna. Saat itu, Prabowo menyebut China sebagai sahabat.

Sikap Ketum Gerindra itu berbeda jauh dengan sikap Menlu, Retno Marsudi, yang lebih galak terhadap negeri tirai bambu.

Berita Terkait : Curah Hujan Tinggi, Kementan Minta Petani Terapkan Jurus Ini

“Saya kira, seluruh statement yang disampaikan sudah sangat baik bahwa tidak ada yang namanya tawar-menawar mengenai kedaulatan, mengenai teritorial negara kita,” ujar Jokowi ketika itu.

Sikap Jokowi yang kerap memuji dan membela Prabowo disebut Guru Besar Politik UI, Prof Budyatna, menunjuk kan adanya hubungan khusus di antara keduanya.

“Prabowo semacam anak emas Jokowi, yang selalu dipuji dan dibela dari kritikan-kritikan,” ujar Budyatna, semalam. Menurut Budyatna, sikap itu mungkin saja ditunjukkan Jokowi karena historis dalam Pilpres 2019.

“Itu keberhasilan besar, merangkul musuh besar, kompetitor terkuat dalam Pilpres, dan harus dijaga agar konsisten dalam koalisi. Bagaimana pun ini menyangkut keutuhan bangsa, yang sempat pecah belah pada 2019,” beber Budyatna. [OKT]