Usai Musim Hujan Kini, Kemenkes Waspadai DBD

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono (tengah). (Foto: Kemenkes RI)
Klik untuk perbesar
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono (tengah). (Foto: Kemenkes RI)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian  Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan kepada dinas kesehatan di daerah agar mengantisipasi penyebaran wabah Demam Berdarah Dengue (DBD).Sebab, berbagai penyakit termasuk DBD akan mulai ramai usai musim hujan. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono mengatakan, saat ini memang masih musim penghujan. 

Sedangkan DBD biasanya tumbuh saat musim hujan berkurang. Anung mengakui, sampai saat ini Kemenkes belum mendapatkan data adanya peningkatan kasus atau pun peningkatan daerah yang melaporkan adanya kasus demam berdarah. 

“Mengacu pada pola tahun 2019 dan beberapa tahun sebelumnya, peningkatan kasus yang dilaporkan pada umumnya terjadi saat curah hujan mulai berkurang di daerah tersebut sehingga menyisakan genangan di beberapa tempat yang memungkinan menjadi perindukan nyamuk aedes,” kata Anung, kemarin. 

Berita Terkait : Curah Hujan Tinggi, Kementan Minta Petani Terapkan Jurus Ini

Meski masih dalam musim hujan, Anung mengimbau, untuk mencegah DBD yang paling efektif adalah menutup, menguras, mengubur barangbarang yang mampu menampung air dan menjadi tempat perindukan nyamuk.

Disamping itu, kebersihan secara umum, khususnya daerah reseptif dan potensi menjadi tempat nyamuk hinggap atau istirahat seperti semak, gantungan pakaian dan daerah yang harus dibersihkan secara periodik dan berkelanjutan. “Masyarakat juga perlu melakukan pemantauan jentik secara berkala secara mandiri sebagai bagian dari upaya pencegahan tersebut,” ujarnya.

 Tak hanya DBD, Kemenkes juga sudah berkoordinasi dengan dinas kesehatan daerah Provinsi dan Kabupaten Kota melalui pemberian edaran yang intinya mengingatkan kembali akan potensi kejadian penyakit.

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

 “Imbauan juga untuk halhal yang harus dilakukan oleh masyarakat serta yang harus disiapkan oleh fasilitas pela yanan kesehatan sebagai antisipasi outbreak atau pening katan kasus,” jelasnya. 

Cuaca ekstrem dan banjir seperti beberapa minggu ke belakang meningkatkan risiko penyebaran penyakit, salah satunya demam berdarah (DBD) di musim hujan. Lembaga Kesehatan Dunia WHO menyebut banjir secara tidak langsung dapat menyebabkan peningkatan penyakit yang ditularkan melalui vektor atau hewan pembawa penyakit, misalnya lalat, kutu, tikus, ular, siput air tawar dan nyamuk. 

Hujan deras dan banjir mungkin terlihat bisa mengusir perkembangbiakan nyamuk, tetapi hewan pengisap itu akan muncul kembali ketika air surut. Air yang menggenang karena hujan atau meluapnya sungai dapat menjadi surga bagi nyamuk untuk berkembang biak dengan leluasa.

Baca Juga : Sejumlah Wilayah Di Indonesia Rentan Rawan Pangan

Apalagi, nyamuk menyebarkan berbagai penyakit, sa lah satunya demam berdarah. Kemenkes mencatat se banyak 110.921 kasus DBD terjadi sepanjang 2019. Angka itu meningkat cukup drastis dibandingkan tahun sebelum nya dengan 65.602 kasus. Sementara The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan bahwa 400 juta orang terjangkit DBD per tahun. 

Melihat banyaknya kasus demam berdarah yang terjadi di seluruh dunia, di tahun yang sama WHO mengklasifikasikan demam berdarah sebagai penyakit tanpa disertai tanda atau gejala. Akan tetapi jika menunjukkan gejala mengindikasikan bahwa demam berdarah yang diderita tergolong parah atau serius. Bahkan jika tidak segera ditangani, demam berdarah dapat mengancam jiwa. [DIR]