Mengapa Kalsel Layak Jadi Gerbang Ibu Kota Negara?

Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor (kanan) bersama Ketua MPR Bambang Soesatyo (tengah), Ketua DPR Puan Maharani (kiri), Ketua Dewan Pers, mantan Mendikbud (2009-2014) dan mantan Menteri Komunikasi dan Informasi (2007-2009) Mohammad Nuh, saat mendampingi Presiden Joko Widodo pada puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) di Banjarbaru, Kalsel, Sabtu (8/2). (Foto: Muhammad Rusmadi/RM)
Klik untuk perbesar
Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor (kanan) bersama Ketua MPR Bambang Soesatyo (tengah), Ketua DPR Puan Maharani (kiri), Ketua Dewan Pers, mantan Mendikbud (2009-2014) dan mantan Menteri Komunikasi dan Informasi (2007-2009) Mohammad Nuh, saat mendampingi Presiden Joko Widodo pada puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) di Banjarbaru, Kalsel, Sabtu (8/2). (Foto: Muhammad Rusmadi/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kalimantan Selatan (Kalsel) layak menjadi Gerbang Ibukota Negara. Hal ini ditegaskan Wakil Gubernur Kalsel Rudy Resnawan, saat membuka Seminar Forum Investasi. Seminar bertema ‘Pers Menggelorakan Kalimantan Selatan Gerbang Ibukota Negara’ ini, digelar di Banjarmasin, Kalsel, Sabtu (8/2) lalu, sebagai bagian acara puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) setiap 9 Februari.

Tahun ini, perayaan HPN dipusatkan di Ibukota Kalsel, Banjarmasin.   

Seminar ini dihadiri Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Prof. Yasonna Hamonangan Laoly, sejumlah duta besar negara sahabat, para pengusaha, para pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dari pusat hingga daerah, pimpinan media dan berbagai pemangku kepentingan.

Berita Terkait : Nurbaya Puji Kalsel Sebagai Kawasan Hijau Di Ibu kota Negara

Seminar ini, tegas Rudy, amat penting. Bahkan menjadi gaung rangkaian HPN. Dia berharap, hasil seminar ini bisa jadi acuan dan pedoman, bahwa Kalsel memang layak jadi Gerbang Ibukota Negara. Tak sekadar kesepakatan-kesepakatan, mantan Wali Kota Banjarbaru dua periode (2000-2010) ini juga berharap, seminar ini bisa membuahkan hasil nyata bagi percepatan pembangunan di Kalsel. Sehingga pada 2024, Gerbang Ibukota Negara bisa terwujud.

Istilah Gerbang Ibu Kota Negara sendiri, terangnya, secara resmi diperkenalkan oleh Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor, di hadapan Presiden Joko Widodo pada puncak perayaan HPN di Banjarbaru, Kalsel pada Sabtu (8/2) lalu.  

Setidaknya, ujar Rudy, ada sejumlah alasan kelayakan Kalsel sebagai Gerbang Ibukota Negara. Secara geografis, Kalsel persis berada di tengah Indonesia, bebas gempa dan gunung berapi. Juga berbatasan langsung dengan rencana ibukota negara di Kalimantan Timur (Kaltim) nantinya. Baik dari Tenggara maupun Kalsel.
    
“Dari wilayah Utara di Kabupaten Tabalong. Dari wilayah Tenggara di Kabupaten Tanah Bumbu. Jarak menuju rencana wilayah ibukota negara yang baru, tidak lebih dari 250 kilometer. Jika dihubungkan dengan tol, jarak ini tidak terlalu jauh untuk membangun konektifitas darat, antara ibukota negara dan gerbang ibukota di Kalsel,” jelasnya.
    
Kedua, lanjut Rudy, sisi laut wilayah Kalsel sangat strategis. Bahkan punya kedalaman laut yang memenuhi standar pembangunan pelabuhan samudera. Saat ini, ujarnya, di Kalsel juga sedang dibangun Pelabuhan Swarangan di Kabupaten Tanah Laut.
    
Kemudian Pelabuhan Mekar Putih di Kabupaten Kotabaru, juga sedang dalam perencanaan pembangunan. Pelabuhan ini, jelasnya, berhadapan langsung dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II. Yang melintasi Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, Selat Lombok.
    
ALKI adalah alur laut yang ditetapkan sebagai alur pelaksanaan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan berdasarkan konvensi hukum laut internasional. Alur ini merupakan alur pelayaran dan penerbangan. Yang dapat dimanfaatkan oleh kapal atau pesawat udara asing di atas laut tersebut untuk pelayaran dan penerbangan damai dengan cara normal. 

Baca Juga : KBRI Dukung Pameran Hannover Messe 2020 di Paris

Alki II ini memiliki kedalaman laut minimal 20 meter. “Ini lebih dalam dibanding pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya –red) dan Tanjung Priok (Jakarta –red). Sangat strategis menopang sentral Poros Maritim Nusantara,” beber Rudy.

Alasan ketiga, jelas putra Amuntai, Hulu Sungai Utara ini, tersedia lahan dan kawasan untuk membangun sarana dan prasarana penopang gerbang ibukota negara. Khususnya di kawasan industri Batulicin dan Jorong.
    
Kondisi ini menurutnya masih ditambah ketersediaan energi listrik yang cukup di Kalsel. Bahkan, Kalsel sangat potensial membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mulut tambang. 
Untuk akses udara, ungkapnya, Kalsel juga sudah punya Bandara Internasional Syamsuddin Noor di Kota Banjarbaru. Bahkan masih ditopang bandara lainnya di tiga kabupaten. Masing-masing Tabalong, Tanah Bumbu dan Kotabaru.

Pendukung lainnya, seperti ketahanan pangan, Kalsel dia yakinkan tak perlu diragukan lagi. Karena untuk ketersediaan beras saja misalnya, selain surplus dan punya produksi padi tertinggi di Kalimantan, Kalsel menurut Rudy merupakan provinsi penyangga beras nasional.

Baca Juga : Terpilih Jadi PM Malaysia ke-8, Muhyiddin Sujud Syukur di Rumahnya

Hal lain yang bahkan juga menjadi kebanggaan Kalsel, masih menurut Rudy, karena adanya potensi pariwisata Kalsel yang tak kalah dibanding daerah lain. Terlebih setelah Pegunungan Meratus ditetapkan sebagai Geopark Nasional.
    
“Saat ini, bahkan sedang berproses menuju Geopark Internasional. Di sepanjang geopark ini, banyak destinasi wisata yang bisa dikembangkan. Nanti Kalsel in syaa Allah bisa jadi tujuan utama berwisata dari ibukota negara,” yakinnya.   
    
Terakhir, ujar Rudy, Kalsel juga siap menjadi pusat pengembangan dan inkubator start- up digital di wilayah Kalimantan. Yang juga bisa menjadi Borneo Digital Valley.

“Para stakeholders dan dunia usaha, mari ikut membangun dan mengembangkan ekosistem digital di Kalsel. Dalam menghadapi tantangan dan menangkap peluang di tengah disrupsi teknologi dan industry,” ajaknya. [RUS]