Bahan Baku Aman, Industri Tekstil Siap Meroket

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kedua kiri) mendengarkan penjelasan dari Direktur RGE Anderson Tanoto (kiri) mengenai teknologi produksi canggih pada pabrik Asia Pacific Rayon (APR) di Kabupaten Pelalawan, Riau, Jumat (21/2). (Foto: ist)
Klik untuk perbesar
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kedua kiri) mendengarkan penjelasan dari Direktur RGE Anderson Tanoto (kiri) mengenai teknologi produksi canggih pada pabrik Asia Pacific Rayon (APR) di Kabupaten Pelalawan, Riau, Jumat (21/2). (Foto: ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Industri Tekstil dan Produk tesktil (TPT) diramal bakal tumbuh pesat. Hal ini seiring ketersediaan bahan baku TPT di dalam negeri.

“Optimalisasi pemakaian bahan baku yang berasal dari dalam negeri menjadi sangat penting dalam mendongkrak kinerja sektor industri TPT di Indonesia,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita ketika menghadiri peresmian fasilitas produksi viscose rayonPT Asia Pacific Rayon (APR) di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, kemarin.

Pada kesempatan itu, fasilitas baru yang menelan nilai investasi sebesar Rp 15 triliun (1,1 miliar dolar AS), diresmikan langsung oleh Presiden Jokowi. Menperin yang turut mendampingi Presiden, memberikan apresiasi kepada APR atas realisasi penanaman modalnya membangun pabrik tersebut.

“Ini merupakan suatu langkah yang luar biasa, karena pabrik merupakan satu-satunya yang terintegrasi, dari mulai pembibitan pohon yang kayunya menjadi bahan baku rayon, sampai proses produksinya itu sendiri. Ini menurut pandangan saya, harus diangkat pada dunia, bahwa Indonesia memiliki kemampuan seperti ini,” papar Agus.

Berita Terkait : Ekspor Pipa Fiberglass Ke AS, Perusahaan Ini Diacungi Jempol Menperin

Fasilitas baru APR tersebut saat ini memiliki kapasitas produksi viscose rayon sebesar 240.000 ton per tahun, dan akan diupayakan meningkat menjadi 600.000 ton dalam beberapa tahun ke depan. Suplai bahan baku perusahaan ini telah melalui sertifikasi nasional (Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu) dan internasional (Programme for the Endorsement of Forest Certification).

Viscose rayon merupakan serat benang yang berasal dari olahan kayu dan dapat terurai secara alami. Serat rayon produksi APR tergolong material yang berkelanjutan karena berasal dari bahan baku yang terbarukan. Komoditas ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan impor terhadap bahan baku tekstil seperti kapas yang kebutuhannya masih belum dapat dipenuhi dari dalam negeri.

Melalui dukungan tenaga kerja langsung sebanyak 1.500 orang, pabrik APR tersebut diproyeksi mampu menghasilkan devisa hingga 131 juta dolar AS dan substitusi impor mencapai 149 juta dolar AS. “Jadi, intinya, pabrik ini merupakan lompatan yang besar dan baik untuk ekspor maupun substitusi impor,” ujarnya.

Selain peresmian operasional fasilitas baru APR, Jokowi melakukan pelepasan kontainer berisi serat rayon untuk diekspor ke Turki sebanyak 10.190 ton serta pengiriman ke Jawa Tengah sebesar 12.000 ton. Negara tujuan ekspor selanjutnya, antara lain ke Pakistan, Bangladesh, Vietnam, hingga negara-negara Eropa.

Berita Terkait : Ini Lima Jurus Menteri Agus Kerek Pertumbuhan Industri

Kementerian Perindustrian mencatat, melalui investasi APR dan PT Rayon Utama Makmur, kapasitas industri rayon nasional saat ini menjadi 857 ribu ton per tahun, naik dibanding tahun 2018 sebesar 536 ribu ton per tahun. Bahkan, dari investasi kedua perusahaan tersebut, berpotensi mendongkrak ekspor hingga 131 juta dolar AS per tahun.

Agus optimistis, dengan penguatan struktur industri di dalam negeri mulai dari sektor hulu sampai hilir, akan bisa meningkatkan daya saing nasional sehingga menghasilkan produk yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan internasional. Namun demikian, agar semakin menghasilkan produk yang kompetitif di kancah global, diperlukan pembaruan teknologi manufaktur yang modern.

“Oleh karena itu, kami juga akan melakukan pemberdayaan kepada sektor hilir, terutama industri tekstil dan garmen. Nantinya, kami akan kaji regulasi agar mereka bisa mendapatkan dengan mudah program peremajaan mesin,” ungkap Menperin. Hal ini sesuai dengan implementasi program prioritas pada peta jalan Making Indonesia 4.0

Merujuk data Kemenperin, laju pertumbuhan industri TPT terus meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2019, industri TPT tumbuh sebesar 15,35 persen atau naik signifikan dibanding tahun 2018 (tumbuh 8,73 persen) dan tahun 2017 (3,83 persen). Pertumbuhan ini didukung tingginya produksi pakaian jadi di sentra industri TPT.

Berita Terkait : Begini Cara Kemenperin Dongkrak Pertumbuhan Industri

 Dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, industri TPT merupakan satu dari lima sektor yang mendapat prioritas pengembangan dalam kesiapan memasuki era industri 4.0. Aspirasi yang akan diwujudkan dalam peta jalan tersebut adalah menjadikan produsen tekstil dan pakaian jadi nasional masuk jajaran lima besar dunia pada tahun 2030. [DIT]