Rupiah 14 Ribu Lagi, Sri Mul Masih Bisa Tenang?

Menkeu Sri Mulyani. (Foto: Instagram)
Klik untuk perbesar
Menkeu Sri Mulyani. (Foto: Instagram)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Mewabahnya virus Corona mulai menembak keperkasaan rupiah. Kemarin, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjun bebas ke level 14.500 per dolar AS. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun ke level 5.311. Apa Menteri Keuangan Sri Mulyani masih bisa tenang?

Pelemahan rupiah berjalan begitu cepat. Awal pekan lalu, rupiah masih anteng di level 13.600 per dolar AS. Goncangan mulai terasa pada Kamis lalu. Tiba-­tiba saja, rupiah anjlok ke angka 14 ribu. Setelah itu, pelemahan tak bisa dihentikan. hanya dalam kurun waktu 48 jam, rupiah melemah sekitar Rp 300.

Dalam perdagangan di pasar uang kemarin, pergerakan rupiah ada di kisaran 14.080­ 14.500. Terakhir, rupiah parkir di level 14.200 per dolar AS. Ini adalah pelemahan tertinggi sejak awal tahun. Pasar saham juga begitu. Pada penutupan sesi pertama kemarin, IHSG anjlok 4,04 persen menjadi 5.311.

Bagaimana tanggapan Sri Mulyani? dia berusaha tenang. Kata dia, pemerintah bersama Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) terus mengikuti pergerakan pasar saham dan keuangan di dalam negeri dan di tingkat global. Menurut dia, pergerakan rupiah cukup signifikan di pasar keuangan global dipicu oleh perkembangan meluasnya penularan virus corona.

Berita Terkait : Bahan Baku Terganggu Corona, Industri Elektronik Terancam

Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengaku, akan terus meningkatkan koordinasi dan sinergi dengan Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Kita akan terus meningkatnya koordinasi dan sinergi antara kebijakan fiskal, moneter dan sektor Keuangan, serta kebijakan ekonomi lainnya­ untuk pertukaran informasi, dan respons kebijakan terhadap perkembangan yang ada, untuk menjaga ekonomi Indonesia tetap terjaga meski gejolak global meningkat,” kata Sri Mul seperti dikutip dari CNBC Indonesia, kemarin.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, juga ma­sih terlihat tenang melihat kondisi ini. Kata dia, rupiah memang melemah. tapi bukan cuma rupiah yang turun. Mata uang negara lain di kawasan Asia tenggara ikutan terkapar. Sebut saja ringgit malaysia, Baht Thailand, Dolar Singapura dan Won Korea. “Dibanding negara lain, pelemahan rupiah masih rendah,” kata Perry, di kantornya, kemarin.

Perry juga masih kalem saat menang­gapi anjloknya pasar saham. Padahal sejak awal tahun, dana asing yang kabur sudah mencapai Rp 30,8 triliun. Kata dia, saat ini pasar global sedang mendapat sentimen negatif lantaran virus corona yang mulai menyebar ke berbagai negara.

Karena kondisi itu, tak heran para investor global cenderung melakukan aksi penjualan saham maupun obligasi. Ini tak cuma terjadi di Indonesia. tapi juga di thailand, Singapura dan Korea Selatan. “Mereka saat ini cenderung jual dulu, nanti kemudian masuk lagi setelah kondisi membaik dan terus kita pantau,” tegas Perry.

Berita Terkait : Sri Mulyani Dibela DPR

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti mengatakan, gejolak eko­nomi saat ini cukup beralasan. Pertama, banyak negara mulai melaporkan kasus corona. Kondisi ini menimbulkan ketakutan. Sehingga mempengaruhi pasar. Kedua, wabah corona menyerang sektor riil, seperti pariwisata.

Selama ini wisatawan mancanegara yang paling banyak berlibur ke Indo­nesia adalah wisman dari China. Wi­satawan tersebut berkontribusi dalam penambahan devisa negara. Nilainya pun cukup besar, mencapai 1,2­1,5 miliar dolar AS. Namun dengan ada­nya virus corona, penerbangan dari dan ke China menjadi terhambat. Sektor pariwisata terpukul.

Menurut Destry sektor ini yang cukup sulit diatasi. Sebab orang tidak akan mulai melakukan perjalanan lagi hingga virus corona benar­benar teratasi. Ketiga, wabah ini juga menghantam siklus perdagangan dunia. Apalagi China memiliki peran yang cukup tinggi. Jika perdagangan China memburuk kondisi tersebut akan berpengaruh ke global termasuk ke Indonesia.

Waketum Gerindra, Fadli Zon me­ ngatakan, depresiasi rupiah yang tak terkendali bisa sebabkan krisis mo­neter lalu krisis ekonomi. Begitu juga dengan capital outflow (dana asing yang kabur) atau capital flight. “Ini pelajaran dari banyak krisis ekonomi seperti tahun 1997­1998,” ujarnya di akun twitternya, @fadlizon.

Berita Terkait : Omnibus Law Akan Melindungi Pekerja

Direktur Riset Core Indonesia, Piter Abdullah Redjalam mengatakan, me­lemahnya kurs rupiah akhir pekan ini tak terlepas dari wabah virus corona. Piter menyebut, belum tertanganinya wabah corona di China dengan pe­ nyebaran yang semakin meningkat di beberapa negara seperti Korea Selatan dan Italia memunculkan kekhawatiran tinggi di pasar keuangan global.

“Investor global yang sudah me­nunggu sekian lama sekarang me­yakini bahwa wabah ini tidak akan mudah diatasi,” kata Piter. Kata dia, butuh waktu yang lebih lama untuk menangani virus ini. Dampaknya terhadap perekonomian pun akan lebih besar dari yang selama ini diperkirakan. Dia memprediksi, kalau tidak ditangani dengan tepat, rupiah bisa anjlok ke level 15.000 per dolar AS. [BCG]