Tekan Impor Cangkul, Kemenkop Gelar Pelatihan Di Sukabumi

Pelatihan Pembuatan cangkul di Sukabumi. (Foto: ist)
Klik untuk perbesar
Pelatihan Pembuatan cangkul di Sukabumi. (Foto: ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Koperasi dan UKM menggelar pelatihan pembuatan cangkul untuk meningkatkan produksi dan menekan impor. 

Kemenkop UKM menggandeng Badan Litbang Logam Kementerian Perindustrian, PT Krakatau Steel, Setkab, SNI, BRI dan Sarinah dalam melakukan pelatihan tersebut. Pelatihan dilakukan di daerah Cisaat, Sukabumi.

Deputi Bidang Pengembangan SDM Kemenkop UKM, Arif Rahman Hakim menegaskan, akan terus memprioritaskan pelatihan bagi perajin cangkul untuk memenuhi kebutuhan cangkul dalam negeri sebagai produk subsitusi impor. "Saya yakin, di negeri ini banyak industri skala kecil yang memproduksi cangkul yang mungkin luput dari sentuhan pemerintah. Ini menjadi prioritas kami agar mereka bisa memenuhi kebutuhan cangkul dalam negeri dengan kualitas produk yang baik," kata Arif saat penutupan pelatihan peningkatan kualitas SDM perajin cangkul di Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (1/3).

Berdasarkan data yang ada, sejak 2017, jumlah UKM perkakas pertanian berjumlah 12.609 unit usaha. Dari jumlah itu, jumlah UKM produsen cangkul sebanyak 3.000 unit usaha yang tersebar di tanah air. Adapun sentra utama UKM produsen cangkul berada di empat provinsi. Yakni, Jawa Barat (Sentra Pasir Jambu Soreang dan Sukabumi), Jawa Tengah (Sentra Klaten dan Tegal), Jawa Timur (Sentra Tulungagung dan Kota Pasuruan), serta Banten (Sentra Baros). 

Berita Terkait : Ciptakan Kawasan Wisata Bali Baru, Kemenkop Genjot Pelatihan Usaha di Daerah

"Kami akan berkoordinasi dengan Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kemenkop dan UKM untuk segera melakukan kurasi terhadap perajin yang layak untuk dilatih agar tepat sasaran," imbuhnya.

Ia menambahkan, salah satu tujuan pelatihan ini adalah untuk mempelajari teknik produksi cangkul secara massal dengan menggunakan mesin produksi. Sehingga, kapasitas produksi cangkul dapat ditingkatkan 10 kali lipat dibandingkan dengan cara pembuatan cangkul konvensional. 

"Kelompok perajin cangkul konvensional didorong untuk bekerja kolektif melalui koperasi. Dengan cara berkoperasi mereka akan dapat membeli mesin produksi cangkul yang akan digunakan secara bersama atau factory sharing," jelas Arif.

Bagi Kemenkop dan UKM, ini merupakan pilot project kedua setelah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. "Dengan begitu, ketersediaan cangkul dalam negeri oleh anak negeri harus bisa diwujudkan," tegasnya.

Berita Terkait : Perajin Cangkul Klaten Siap Penuhi Kebutuhan Dalam Negeri

Menurut dia, kolaborasi dan sinergi seperti ini sebagai contoh yang bagus ditunjukan kepada masyarakat luas, bahwa pemerintah hadir pada setiap permasalahan masyarakat. "Tugas kita semua adalah mengkampanyekan untuk mencintai negeri ini dengan sepenuh hati, dibuktikan dengan cinta produk dalam negeri," katanya.

Sementara itu, Asdep Pengembangan kewirausahaan, Nasrun S menjelaskan, materi pelatihan yang disampaikan fasilitator/instruktur meliputi motivasi kewirausahaan, kelembagaan usaha, bisnis plan, desain dan kualitas produksi, brand (merek), pemasaran, serta mengelola keuangan. 

Nasrun berharap, dengan pelatihan kolaboratif ini dalam waktu dekat sudah kelihatan hasilnya. Karena masyarakat luas sudah lama mengenal cangkul buatan Sukabumi, dan orang juga mengetahui bahwa di kabupaten ini ada banyak produsen cangkul. 

Namun, diakui Nasrun, bisnis cangkul Sukabumi dalam beberapa dekade terakhir ini mulai terdesak adanya serbuan cangkul impor. Perlu dipelihara semua lintas pelaku yakni komitmen para pihak seperti bahan baku dari Krakatau Steel, Kualitas Produk dan pendampingan dari Perindustrian, untuk permodalan dapat dilakukan melalui LPDB KUMKM, apabila pengrajin sudah berkoperasi.

Berita Terkait : Kembangkan Produk UMKM, Kemenkop Gandeng 18 Kementerian Lembaga

Dalam kesempatan itu, salah seorang perajin bernama Muhammad Suhendar mengatakan, apabila ketersediaan bahan baku tersedia dengan harga terjangkau, dan bantuan  teknology peralatan dari pemerintah, dirinya yakin mampu bersaing dengan produk luar. "Dan kita tidak perlu lagi impor cangkul dari negara lain," katanya. [DWI]