Menpar Kasih Peringatan

Kebijakan Bagasi Berbayar Ganggu Sektor Pariwisata

Klik untuk perbesar
Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya. (Foto : IG @ menpar.ariefyahya).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kebijakan bagasi berbayar maskapai berbiaya murah bakal mengganggu kinerja pariwisata. Kebijakan ini sebaiknya tidak diputuskan secara buru-buru atau mendadak.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menyebut kebijakan bagasi berbayar maskapai berbiaya murah di Tanah Air sangat berpotensi menurunkan kinerja sektor pariwisata.

“Sudah pasti kebijakan itu akan menurunkan pariwisata, jadi simpel itu.’price elasticity, jadi harga naik demand turun sudah pasti itu,” kata Arief, di Jakarta, kemarin.

Berita Terkait : Pelapor Kasus Pengaturan Skor Sepakbola Dikabarkan Cabut Berkas


Mantan bos Telkom ini sedih dengan kebijakan pencabutan bagasi gratis sejumlah maskapai penerbangan berbiaya rendah itu. Menurut dia, pariwisata menjadi sektor yang terkena dampak langsung dari kebijakan tersebut.

“Apakah kita mau enggak menanggung itu kalau mau menanggung teruskan,” katanya. Hal itu, kata dia, perlu menjadi perhatian sebab penurunan penggunaan layanan pesawat relatif drastis dalam beberapa waktu terakhir sejak rencana kebijakan tersebut, bergulir.

“Karena penurunannya relatif drastis ada problem kemarin misalnya dari Riau turun 40 persen seperti itu. Jadi harusnya ini dimengerti,” katanya. Arief mengusulkan kebijakan pencabutan bagasi gratis LCC tersebut tidak dilakukan secara tergesa-gesa atau mendadak.

Berita Terkait : Soal Lahan HGU, Silakan LSM Cek Ke Kantor Pajak

“Usulan saya kalau mau naik atau berbayar pun tidak tergesa-gesa, tidak ujug-ujug naik sekian persen, karena elasticity,” katanya. Penurunan pengguna layanan pesawat, kata Arief, sebetulnya juga akan berdampak langsung pada maskapai. “Itu risikonya maskapai juga pasti demandnya akan turun,” katanya.


Namun apapun bentuknya, ia memastikan bahwa kebijakan tersebut akan memukul sektor pariwisata karena sampai saat ini tercatat tingkat pengeluaran seseorang paling besar  saat berwisata adalah dari unsur transportasi udara.

Tercatat pengeluaran wisatawan untuk belanja transportasi sekitar 30-40 persen dari total pengeluarannya dalam bepergian. “Unsur spending orang 30-40 persen ada di transportasi jadi kalau itu naik 100 persen, kalau dari 100 yang semula bisa hanya 80 persen maka batallah orang itu,” katanya.

Berita Terkait : Menpora Ceritakan Perjalanan Hidupnya Hingga Jadi Menteri Di Mata Najwa

Meski begitu, Menpar mengaku tidak akan mengoreksi target kunjungan wisatawan tahun ini karena kebijakan tersebut. “Apa berani saya koreksi target,” katanya.

Tercatat ketentuan layanan bagasi sebelumnya telah tercantum dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 185 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Dalam Pasal  22 butir C, maskapai dengan pelayanan no frilss (standar minimum) atau LCC bisa mengenakan biaya untuk pengangkutan bagasi tercatat. Misalnya saja maskapai Citilink mengumumkan pengenaan tarif pada bagasi tercatat mulai 8 Februari 2019 yang tarifnya diterapkan secara bervariasi mulai dari Rp 9 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram. [DIR/NET]

RM Video