RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah tengah bekerja keras memajukan seluruh desa. Pemerintah menargetkan: semua desa tertinggal hilang di Tahun 2024.

Demikian salah satu inti perbincangan Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Wamendes PDTT), Budi Arie Setiadi, saat berkunjung ke dapur redaksi Rakyat Merdeka, kemarin. Dalam kunjungan ini, Budi cerita banyak mengenai tantangan, program, dan juga hasil kerja dalam lima bulan terakhir.

Berikut obrolan lengkapnya:

Dalam lima bulan ini, hal mendasar apa yang tengah dibenahi Kemendes PDTT?

SDM (sumber daya manusia). Semua berpulang SDM. Kalau SDM-nya enggak punya visi, enggak kreatif, enggak inovatif, susahlah itu.

Sejauh ini, masih banyak enggak desa tertinggal?

Sampai saat ini masih ada 20 ribu desa dengan status tertinggal dan sangat tertinggal dari 74.950 desa. Masih sekitar 24-25 persen.

Berita Terkait : Smart Village, Wajah Masa Depan Indonesia

Di mana saja itu?

Misalnya kayak di (Kabupaten) Bogor. Itu saya kaget juga. Ada desa di Bogor masuk kategori tertinggal. Padahal, infrastrukturnya sudah ada, jalan, internet sudah lengkap. Setelah saya cek, indikatornya apa desa ini bisa tertinggal. Ternyata kemiskinan. Indi katornya itu ada 50 indikator, mulai dari ekonomi, sosial, ekologinya, ketahanan masyarakatnya, dan lain-lain.

Kalau yang terbaik?

Yang terbaik itu di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sana, desanya desa maju dan mandiri. SDM-nya kreatif kreatif. Warganya bisa membuat berbagai terobosan. Yang mandiri itu baru sekitar 1.000 an. Ini masih sangat kecil, ada datanya lengkap di tempat kami. Kategorinya terukur.

Apa target yang diberikan Presiden Jokowi ke Kemendes PDTT?

Target Presiden dalam 5 tahun ini sangat keras. Sampai 2024, hilang semua status desa tertinggal. 20 ribu desa tertinggal tadi harus bisa naik kelas. Kami berusaha sekuat tenaga agar 20 ribu desa itu jadi desa berkembang bahkan sampai di titik maju. Apalagi, dana desa ini makin lama makin besar.

Bagaimana Kemendes merealisasikan target itu?

Berita Terkait : OJK Bangun Literasi Dan Inklusi Keuangan Desa Tertinggal Lewat BUMDes

Ini program sangat serius sekali. Saya sudah ngomong, enggak bisa main-main ini. ada 443 desa di seluruh Indoensia dengan status gelap gulita. Desa tanpa listrik. Penerangannya cuma obor dan terang bulan. Sebagian besar ada di Papua dan Indonesia Timur lainnya. Tapi kan enggak ada pilihan. Menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kita sudah 75 tahun merdeka. Kita ingin Indonesia bebas dari kegelapan. Terus terang, kami sudah 2 kali rapat dengan PLN dan ESDM. Kami pun sebenarnya deg degan, kok bisa 433 desa itu enggak ada listrik.

Itu sudah 5 tahun dana desanya kemana? Jadi apa? Siap desa itu dapat dana berapa?

Dengan angka sekarang, sekitar Rp 900 juta sampai Rp 1 miliar per desa seluruh Indonesia. Ini kan jadi pertanyaan kita, dana desanya ke mana. Spiritnya Pak Presiden kan dana desa itu supaya warga desa bisa berdaya. Menurut hemat saya, dana desa itu adalah instrument distribusi keadilan.

Adakah penyalahgunaan?

Sudah turun. awal-awal, ribuan orang kepala desanya bermasalah. Sekarang terus berkurang. Tapi, jangan karena ada kepala desa yang bermasalah, lalu dikatakan dana desa enggak efektif, enggak juga. apalagi sekarang pengelolaan dana desa sudah lebih terkontrol.

Dengan kemajuan teknologi informasi, kepala desa yang ngaco akan lebih gampang terekspos. Sekarang, tinggal kita fokus pada peningkatan SDM-nya. Memang, kepala desanya ini capacity building perlu ditingkatkan untuk mendorong kemajuan desanya.

Berita Terkait : Pertanian Organik Bisnis Masa Depan, Pemuda Harus Ambil Bagian

Kapan 433 desa itu bisa terang?

Saya bilang, kalau bisa sebelum 17 agustus sudah terang. Dari Sabang sampai Merauke sudah bisa menikmati listrik. Problemnya, karena program ini banyak juga temanteman saya dari daerah lain protes. Wah, desa kita juga kurang listrik. Nah ini, kurang listrik sama enggak ada listrik dua hal yang berbeda. Kalau ini gelap gulita, enggak ada listrik.

Bisa dibayangkan itu. ada 14.125 desa di Indonesia memang statusnya kurang listrik. Kalau dari definisi PLN, listrik itu ada yang bisa diakses 6 jam, 12 jam, dan 24 jam. Memang, idealnya 12 jam lah, sehingga malamnya anakanak sekolah bisa belajar.

Teknologi apa yang akan dipakai untuk menerangi 433 desa itu agar cepat?

Teknologinya sudah ada. PLN yang siapkan. Namanya Talis, singkatan dari tabung listrik. Sama kayak aki (accu) jaman dulu. Saya masih ingat itu, waktu kecil nonton tivi hemat-hemat listriknya. Sekarang namanya power bank gede. Kapasitasnya 500 watt per hour. 433 desa itu mencakup 13 ribu keluarga. Rata-rata cuma 35 KK per desa.

Sebelum 17 Agustus harus nyala lah. Kita minta semua teman-teman kerja keras. Ya sekitar 5 bulan lagi mudah-mudahan bisa lah. Kalau desain teknologinya sudah lebih solid lah. Tinggal pemasangannya. [SAR]