Kemenperin Terus Tambah Industri Penikmat Gas Murah

Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: ist)
Klik untuk perbesar
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan penambahan jumlah sektor industri yang akan bisa menikmati harga gas di level 6 dolar AS per MMBTU. Ini bertujuan untuk mendongkrak daya saing industri dan meningkatkan investasi di dalam negeri.

“Kami telah meminta tambahan sekitar 430 perusahaan yang sektor industrinya sudah ada dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Rabu (18/3).

Berdasarkan Perpres 40 Tahun 2016, ada delapan sektor yang mendapatkan harga gas sebesar 6 dolar AS per MMBTU, yakni industri petrokimia, industri kaca (glassware), industri kaca lembaran, industri keramik, industri sarung tangan karet, industri baja, industri oleokimia, dan industri pupuk. Dari delapan sektor tersebut, sebelumnya Kemenperin sudah memasukkan 88 perusahaan.

Selain itu, Agus telah mengusulkan sebanyak 325 perusahaan yang akan bisa menikmati harga gas kompetitif di luar sektor yang sudah ada dalam Perpres 40 tersebut. Sektor ini meliputi industri logam, industri otomotif, industri permesinan, industri makanan, minuman, dan refinery – minyak goreng, industri ban, serta industri pulp dan kertas.

Berita Terkait : Kemenhub Berikan Rekomendasi ke Daerah yang Akan Lakukan PSBB

“Pada prisipnya, Bapak Presiden menyetujui untuk memasukan usulan tambahan dari industri tersebut,” tegasnya. Menperin menambahkan, pihaknya telah memperhitungkan kebutuhan gas industri pada tahun ini sebesar 2400 MMSCFD.

“Sedangkan untuk tahun depan kebutuhannya akan mencapai 2600 MMSCFD, dan pada tahun 2024 kebutuhannya sebesar 3600 MMSCFD,” ungkap Menperin. Sementara itu, produksi gas dari dalam negeri diperkirakan sekitar 7000 MMSCFD. “Jadi kalau kami lihat, kebutuhan gas industri sebetulnya pada 2020 ini hanya sepertiga dari produksi gas nasional,” imbuhnya.

Menurut Agus, yang juga perlu diperhatikan adalah ketersediaan pasokan gas industri, termasuk secara pararel mengeksplor lebih dalam lagi tentang opsi ketiga, yakni berkaitan dengan importasi gas agar ada harga yang kompetitif di dalam negeri.

Opsi pertama, yaitu mengurangi atau bahkan menghilangkan jatah pemerintah. Opsi yang kedua, pemberlakuan Domestic Market Obligation (DMO).

Berita Terkait : Pandemi Covid-19 Tak Halangi Indonesia Ekspor Beras Pandan Wangi ke Singapura

“Tentu, ini yang akan kami pelajari untuk bisa segera dilaksanakan di daerah Sumatera. Sebab, di daerah Sumatera paling tidak sudah ada infrastruktur yang berkaitan dengan FSRU di Aceh dan Lampung,” jelasnya.

Ke depan, lanjut Agus, pemerintah akan mengintensifkan upaya-upaya strategis untuk membangun infrastruktur-infrastruktur, termasuk akan mengundang pihak swasta, sehingga harga gas industri bisa ditekan menjadi 6 dolar AS per MMBTU.

“Kemudian kami sampaikan juga, bahwa Bapak Presiden memerintahkan kepada kami untuk setiap saat melakukan evaluasi dan monitoring, agar kebijakan gas 6 dolar ini memang tepat sasaran,” jelasnya. Terkait hal tersebut, Agus mengemukakan, pihaknya akan menyiapkan Permenperin.

“Tentu juga harapan kami bahwa kebijakan yang akan dimplementasikan pada 1 April ini akan membawa industri semakin tinggi performance-nya,” tandasnya.

Berita Terkait : Tepung Jagung Olahan Cilegon Tembus Pasar Israel

Pada pengantar rapat terbatas mengenai penyesuaian harga gas untuk industri, Presiden Jokowi menyampaikan, industri yang diberi insentif harus mampu meningkatkan kapasitas produksinya dan meningkatkan investasi barunya.

Industri yang diberi insentif juga mampu meningkatkan efisiensi proses produksinya, sehingga produknya menjadi lebih kompetitif,” ujarnya. Selain itu, industri yang diberi insentif harus bisa meningkatkan penyerapan tenaga kerja.

Kepala Negara mengingatkan agar industri yang diberikan insentif penurunan harga gas harus betul-betul diverifikasi dan juga dievaluasi. Sehingga pemberian insentif penurunan gas akan memberikan dampak yang signifikan bagi ekonomi kita, memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. [DIT]