Kunjungan Wisman 2018 Naik Signifikan Capai 15,81 Juta

Bali masih menjadi destinasi wisata favorit turis wisman. (Foto: Humas Kemenpar).
Klik untuk perbesar
Bali masih menjadi destinasi wisata favorit turis wisman. (Foto: Humas Kemenpar).

 Sebelumnya 
Untuk wilayah Amerika tercatat sebanyak 567,7 ribu atau tumbuh 5,71% dari tahun lalu sebanyak 537 ribu kunjungan. Kunjungan wisman dari wilayah Oseania (Australia, Selandia Baru, Papua Nugini, dan Oseania lainnya) mencapai 1,57 juta atau tumbuh 4,43 persen dibandingkan tahun lalu sebanyak 1,50 juta. Untuk wilayah Oseania, wisman Australia memberikan kontribusi terbesar sebanyak 1,3 juta atau tumbuh 3,52 persen dibandingkan tahun 2017 sebanyak 1,25 juta kunjungan.

Sementara itu kunjungan wisman dari wilayah Afrika ke Indonesia tahun 2018 tercatat sebanyak 88,6 ribu atau minus 2,82 persen dibandingkan tahun lalu sebanyak 91,2 ribu kunjungan. Jumlah wisman yang berkunjung tersebut tidak mencapai dari target yang ditetapkan 17 juta sepanjang 2018. Namun dari sisi pendapatan devisa, kontribusi sektor pariwisata selama 2018 diproyeksi menunjukkan kenaikan yang signifikan.

Baca Juga : Tinggikan Pintu Stasiun MRT

Sederetan bencana yang melanda menjadi faktor utama yang menyebabkan target terkoreksi mengingat bencana yang melanda terjadi di destinasi-destinasi favorit wisman. Erupsi Gunung Agung, gempa Lombok, tsunami Palu, hingga tsunami Selat Sunda pada akhir tutup tahun mendorong terjadinya penurunan wisman.

Jurus Pamungkas Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, upaya meningkatkan kunjungan wisman ke Indonesia tahun ini yang ditarget 20 juta orang dilakukan dengan menerapkan strategi super extra ordinary sebagai jurus pamungkas.

Baca Juga : Masyarakat Rame-rame Nolak Larangan Dokumentasi Persidangan

Jurus pamungkas tersebut mencakup 3 program yaitu Border Tourism, Tourism Hub, dan Low Cost Terminal. “Border tourism harus kita seriusi karena merupakan cara efektif untuk mendatangkan wisman dari negara-negara tetangga,” kata Arief Yahya.

Ia menjelaskan hal itu akan efektif pertama karena wisman dari negara tetangga memiliki faktor kedekatan (proximity) secara geografis sehingga wisman lebih mudah, cepat, dan murah menjangkau destinasi di Indonesia. Kedua, mereka juga memiliki kedekatan kultural/emosional dengan masyarakat di Tanah Air sehingga lebih mudah didatangkan.

Baca Juga : Pemprov Gerak Cepet Dong Angkut Sampah Sisa Banjir

Ketiga, potensi pasar Border Tourism masih sangat besar, baik dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Papua Nugini, maupun Timor Leste. Selain itu menerapkan program tourism hub menjadi strategi layaknya menjaring di kolam tetangga yang sudah banyak ikannya.

Maksudnya, wisman yang sudah berada di hubungan regional seperti Singapura dan Kuala Lumpur ditarik untuk melanjutkan berlibur ke Indonesia.
 Selanjutnya