RMco.id  Rakyat Merdeka - Dalam upaya penanggulangan konflik satwa liar, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dikomandoi Siti Nurbaya telah membentuk 18 Wildlife Rescue Unit (WRU) di UPT Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE). 

Pembentukan WRU bertujuan untuk respon cepat penanganan langsung satwa yang terlibat konflik dengan manusia, penyelamatan, translokasi dan proses mengembalikan satwa korban konflik kembali ke habitatnya.

"KLHK terus melakukan berbagai upaya mengurai gangguan terhadap habitat satwa liar. Di antaranya, melakukan patroli operasi jerat, menurunkan laju kerusakan hutan, pembinaan habitat dan populasi satwa liar, mencegah fragmentasi dan gangguan habitat terutama di kawasan hutan konservasi, hutan lindung dan kawasan perlindungan setempat lainnya," kata Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Indra Exploitasia, Selasa (14/04). 

Baca Juga : Kemenperin Latih 200 Industri Tekstil Kerek Daya Saing

Indra mengatakan, pelestarian satwa dapat berhasil apabila semua pihak bekerja bersama. Mendorong kesadaran semua pihak akan nilai penting Harimau Sumatera, hingga terbentuknya kemandirian penanganan konflik tingkat tapak dalam rangka membantu pemerintah dalam konservasi Harimau Sumatera. 

"Kita perlu lebih mawas diri dan waspada dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Satwa liar memiliki peran penting dalam relung ekologi. Oleh karenanya, kita perlu menjaga dan melestarikan alam beserta isinya. Konservasi Harimau Sumatera harus diupayakan semaksimal mungkin demi kelestarian salah satu satwa kebanggaan Indonesia ini,” jelas Indra.

Dalam kurun 2 tahun terakhir, lanjut Indra, KLHK bersama Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya-Yayasan ARSARI Djojohadikusumo (PR-HSD Yayasan ARSARI) sudah berhasil melakukan pelepasliaran Harimau Sumatera, yaitu, Bonita, Atan Bintang dan Bujang Ribut. Upaya penyelamatan Harimau Sumatera, perawatan dan rehabilitasi, dan pelepasliaran merupakan rangkaian kegiatan yang tidak mudah dilakukan.

Baca Juga : Dewa Gitar Eddie Van Halen Tutup Usia

Sebelumnya, dilakukan penyelamatan Harimau Sumatera Enim di Muara Enim Sumatera Selatan, pada Senin 21 Januari 2020, yang saat ini direhabilitasi di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung. 

Selain itu, Harimau Sumatera Batua di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Lampung, pada tanggal 2 Juli 2019, yang saat ini direhabilitasi di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung.

Juga ada Harimau Sumatera Sopi Rantang di Kabupaten Agam Sumatera Barat, pada tanggal 18 April 2018, dan Harimau Sumatera Bujang Ribut di Lubuk Kilangan Padang Sumatera Barat pada tanggal 28 Agustus 2018. 

Baca Juga : Dituduh Curangi Pemilu, PM Kirgizstan Mundur

Penyelamatan juga dilakukan untuk Harimau Sumatera Dara di Subulussalam Aceh, yang dilepasliarkan kembali ke dalam Kawasan Taman Nasioanal Gunung Leuser. 

"Sementara di 2016 silam ada upaya penyelamatan Harimau Sumatera dari jerat pemburu yang tidak kalah dramastisnya. Yaitu, Harimau Sumatera betina Gadis di Taman Nasional Batang Gadis Sumatera Utara dan Harimau Sumatera jantan Monang di hutan Desa Parmonangan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara,” tandasnya. [FIK]