BMKG Waspadai Musim Kemarau 2020 Lebih Kering

Kepala BMKG, Dwi Korita.
Klik untuk perbesar
Kepala BMKG, Dwi Korita.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), Dwi Korita mengungkapkan, bahwa Indonesia pada tahun ini mengalami El Nino Netral dengan tingkat kekeringan pada musim kemarau lebih tinggi dibandingkan normalnya. 

“Awan hujan masih tersedia sekitar bulan April-Mei. Ini waktu yang paling tepat untuk menyelenggarakan Tekhnologi Modifikasi Cuaca (TMC) pada beberapa provinsi rawan karhutla untuk mengisi embung dan membasahi gambut,”kata Dwi saat rapat antisipasi Karhutla 2020 secara virtual bersama KLHK, Kamis (23/04).

Sedangkan Kepala BPPT, Hammam Riza, mengungkapkan, bahwa pelaksanaan TMC akan lebih efisien apabila menggunakan pesawat berkapasitas besar milik TNI. 

Baca Juga : Ketua MPR: Waspadai Potensi Masalah Sosial Akibat PSBB

BPPT sudah melaksanakan TMC di Provinsi Riau dengan pelaksanaan sebanyak 27 sorti, menghasilkan hujan hampir setiap hari dengan volume 97,8 juta m3, sehingga titik hotspot di Riau, pernah berkurang hingga nihil.

Namun tantangan karhutla di Provinsi ini dinilai, masih sangat besar saat nanti datang musim kemarau. Untuk meningkatkan upaya pencegahan karhutla, beberapa langkah prioritas akan dilakukan KLHK.

Di antaranya, dengan berkoordinasi kepada Gubernur Provinsi rawan Karhutla sebagai Kepala Satgas Dalkarhutla Provinsi, utamanya dalam hal antisipasi kekeringan pada lahan gambut. 

Baca Juga : Ekspor-Impor Melambat, Trafik Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok Turun 4-5 Persen

Selain itu, mengupayakan TMC untuk pembasahan lahan gambut yang rencananya dilaksanakan awal Mei di lokasi yang teridentifikasi berulangkali terjadi karhutla. Yaitu Riau (Bengkalis, Pelalawan), Sumatera Selatan (Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir), dan Jambi (Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Timur).

Selanjutnya berkoordinasi dengan para pihak untuk melaksanakan TMC, mengaktifkan sektor swasta, dan melakukam sosialisasi kepada masyarakat tani hutan untuk upaya pencegahan pembukaan lahan tanpa membakar. 

Hal terpenting lainnya, memberikan peringatan yang lebih tegas kepada pemegang izin yang lokasinya secara berulang terjadi karhutla.

Baca Juga : Religius, Jaksa Agung ST Burhanuddin Hobi Mengaji

Berdasarkan Satelit Terra/Aqua (NASA) Conf. Level =80%, hotspot per 1  Januari-23 April 2020 sebanyak 737 titik. Sedangkan pada periode yang sama tahun 2019 jumlah hotspot sebanyak 1.177 titik. Artinya, terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 440 titik atau 37,38 persen. [FIK]