Soal Pembangunan Infrastruktur

Jokowi: Kalau Pencitraan, Saya Bangunnya Di Jawa...

Klik untuk perbesar
Presiden Joko Widodo (Foto: Twitter @jokowi)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi kembali bicara soal serangan kubu lawan terkait masifnya pembangunan infrastruktur. Jokowi menegaskan, pembangunan infrastruktur di eranya bukan untuk kepentingan politik. Tapi untuk meningkatkan daya saing bangsa. Mengejar ketertinggalan dari negara tetangga. Kalau demi pencitraan, kata Jokowi, pembangunan infrastruktur pastinya akan difokuskan di Pulau Jawa.

Ada dua acara yang dihadiri Jokowi, Selasa (15/2). Agenda pertama yang dihadiri Jokowi adalah Pembukaan Rapat Kerja Nasional Kesehatan Nasional Tahun 2019 di Nusantara Hall ICE BSD, Tangerang, Banten. Dari sana, Jokowi geser ke acara Rembuk Nasional Pendidikan Kebudayaan (RNPK) 2019 Kemendikbud Depok.

Dalam sambutan di dua acara itu, Jokowi bicara soal capaian pembangunan infrastruktur. Intinya, Jokowi menyampaikan infrastruktur adalah syarat agar bangsa bisa bersaing. Karena itu selama 4,5 tahun ini ia membangun pelabuhan, bandara, pembangkit listrik, hingga jalan tol. Ia tak ingin, Indonesia yang telah tertinggal dari negara tetangga, makin tertinggal. 

Berita Terkait : Gapensi: Belum Semua Daerah Nikmati Percepatan Infrastruktur


Karena itu, Jokowi menyebut ia membangun infrastruktur yang merata. Pembangunan ini bukan sekadar urusan ekonomi semata. Tapi juga mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. “Ada urusan yang berkaitan dengan persatuan. Kita sebagai sebuah negara besar dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote. Ini yang sering orang tidak merasakan," kata Jokowi.

Jokowi bilang, jika ia seorang politikus, pembangunan infrastruktur pastinya akan dilakukan di Pulau Jawa. Namun, Jokowi mengaku tak melakukan itu. Dia ingin pembangunan merata di seluruh wilayah Indonesia. "Kalau saya orang politik, bangun itu di Jawa aja. Karena 149 juta penduduk kita ini ada di Jawa. Return politiknya cepat, ekonomi juga cepat," kata Jokowi.

Jokowi meyakini, infrastruktur yang sudah dibangun besar-besaran di periode pertama pemerintahannya sudah cukup bagi Indonesia untuk bisa bersaing dengan negara lain. Mulai tahun depan, apabila terpilih kembali, pemerintahannya akan fokus pada pembangunan sumber daya manusia. "Infrastruktur sudah berjalan, bisa ditinggal, kita bergeser ke pembangunan SDM," kata Jokowi.

Berita Terkait : Dengarkan Pidato Visi Indonesia Jokowi, 80 Ribu Pendukung Bakal Penuhi Sentul

Dalam bidang pendidikan, menurut Jokowi, pemerintah akan fokus pada sekolah vokasi, balai latihan kerja, hingga pondok pesantren. Ia memastikan anggaran akan dikucurkan besar-besaran. Selain itu, pemerintah juga akan mengembangkan skill guru sebagai garda terdepan di bidang pendidikan. "Guru-guru harus diupgrade, terutama yang berkaitan dengan kemampuan skill. Kemampuan guru-guru dalam melatih siswanya. Guru yang terampil harus lebih banyak dari guru normatif," ucap Jokowi.


Kepala Negara meyakini, dengan infrastruktur yang sudah dibangun besar-besaran dan pengembangan SDM yang akan segera dilakukan, Indonesia akan jadi negara maju dan bisa bersaing dengan negara-negara lain. "Kita bisa melakukan lompatan katak, melompati negara lain, inilah kesempatan kita," kata Jokowi. 

Terpisah, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengatakan Presiden memerintahkan menteri-menteri di kabinetnya untuk pamer pencapaian kinerja pemerintah. Moeldoko menyebut hal ini dititahkan Jokowi sejak Oktober 2018, tepat empat tahun masa pemerintahan. "Ini perintah Presiden, segera sampaikan ke publik bahwa kami telah lakukan ini, ini, ini. Jangan sampai dibilang mana pemerintah, enggak ada kerjanya," kata Moeldoko di kantornya, kemarin.  

Berita Terkait : Ma’ruf: Jokowi Pasti Minta Masukan Saya

Moeldoko menepis instruksinya itu sebagai masa kampanye. Namun untuk memenuhi hak informasi publik. Meski begitu, Moeldoko tak menutup kemungkinan data-data pencapaian yang dipaparkan para menteri akan digunakan sebagai amunisi Jokowi di debat capres. "Bisa juga iya (dipakai dalam debat), bisa enggak. Bisa iya karena itu data-data yang memang disampaikan beliau,” tuntasnya. [BCG]
 

RM Video