Apresiasi Kinerja Kemenkes

Jokowi : Kasus Stunting Harus Dimusnahkan Dari Bumi Indonesia

Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi. (Foto : istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Jokowi mengapresiasi upaya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menurunkan angka stunting dari 37 persen pada 2014, menjadi 30 persen pada 2018.

"2014 stunting kita 37 persen. Alhamdulillah berkat kerja keras kita semua sudah turun menjadi 30 persen. Ini harus turun lagi menjadi 20 persen, menjadi 10 persen, dan hilang,” pinta Presiden saat acara Pembukaan Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) 2019, kemarin.

Meski begitu, mantan gubernur DKI Jakarta ini meminta kasus stunting dimusnahkan dari bumi Indonesia. Kematian ibu melahirkan juga menjadi perhatian Jokowi, selain stunting. “Jangan sampai negara lain sudah berbicara teknologi arti- ficial inteligence, virtual reality, internet of things, sudah berbicara big data, sudah berbicara bit coin, crypto currency. Kita urusan stunting saja belum selesai, urusan kematian ibu (melahirkan) belum rampung,” ujarnya.

Berita Terkait : Jokowi Ingin Pangkas Defisit Perdagangan Dengan China

Dengan tingkat kesehatan masyarakat yang meningkat, menurut mantan wali kota Solo ini, kualitas SDM dapat didorong ke arah yang lebih baik. Pembangunan SDM menjadi syarat mutlak agar Indonesia tidak terjebak sebagai negara berpendapatan menengah.


Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek menjelaskan, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka stunting menurun menjadi 30,8 persen dari angka 37,2 persen pada Riskesdas 2013. Namun, ini masih di atas angka toleransi WHO yakni 20 persen.

“Stunting adalah masalah gizi kronis yang mana keluarga dan masyarakat belum merasa bahwa itu adalah masalah. Ini karena belum banyak yang mengetahui penyebab, dampak dan pencegahannya,” kata Nila.

Berita Terkait : Pesawat Jokowi Mendarat Mulus Di Tengah Pekatnya Kabut Asap Riau

Dia mengatakan, ketidakpahaman masyarakat terhadap perilaku berisiko yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya stunting, menjadi salah satu tantangan bagi Kemenkes untuk memangkas angka persentase stunting di Indonesia. Karena itu, diperlukan sinergi lintas sektor untuk upaya percepatan pencegahan stunting.

Perilaku berisiko yang dapat berkontribusi meningkatkan angka stunting di antaranya pola makan tidak tepat pada anak, termasuk makanan pendamping ASI (MPASI), pola asuh yang tidak tepat, pemanfaatan air bersih dan sanitasi bersih yang kurang memadai, polusi, asap rokok, kekurangan gizi mikro, dan pemanfaatan pelayanan kesehatan.

“Penting untuk mengubah perilaku (gaya hidup), harus diawali dari diri sendiri. Misalnya ingin hamil, harus memperhatikan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk mencegah stunting,” kata Nila. [DIR]