Yuk, Coba Pangan Lokal Hasil Pekarangan Untuk Lebaran

Kuntoro Boga Andri
Klik untuk perbesar
Kuntoro Boga Andri

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pertanian (Kementan) mengajak masyarakat Indonesia melakukan Gerakan Ketahanan Pangan Nasional melalui konsep Pangan dari Pekarangan atau family farming. Sebab, melalui cara itu, kebutuhan pangan keluarga secara swadaya bisa dipenuhi untuk mendukung gerakan yang lebih besar Kemandirian Pangan.

Kepala Biro Humas dan Informasi publik Kementan, Kuntoro Boga Andri menjelaskan, family farming merupakan cara mudah dalam menghasilkan panganan sehat dan berkualitas seperti sayur-mayur, umbi-umbian, aneka buah dan sumber protein hewani termasuk ikan sesuai potensi lokal.

Berita Terkait : Jelang Lebaran, Stok Bawang Merah Aman

“Intinya setiap keluarga bisa mensubstitusi kebutuhan pangannya. Masyarakat bisa membangun kebun keluarga dengan memanfaatkan lahan kosong dan pekarangan rumah," ujar Kuntoro, Sabtu (23/5).

Kuntoro menjelaskan, konsep family farming juga bisa menghasilkan bahan baku pangan tradisional sebagai bagian budaya masyarakat nusantara. Bahan-bahan hasil panen lokal bisa diolah menjadi aneka kuliner khas Nusantara dan diversifikasi pangan nonberas.

Berita Terkait : Rektor UIN Apresiasi Perkembangan Teknologi Pertanian

“Memang, makanan berbahan dasar sagu, jagung, umbi-umbian dan sayur-mayur adalah bahan dasar yang sejak dulu banyak dijadikan sajian istimewa di hari raya. Jadi, selalu ada hidangan pangan tradisional yang khas untuk disantap bersama keluarga saat Lebaran,” katanya.

Mengenai hal ini, kata Kuntoro, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam beberapa kesempatan meminta agar masyarakat terus mempromosikan pangan daerah berbahan baku lokal secara masif. Dia berharap dengan cara ini konsep family farming dan diversifikasi pangan berkembang  baik.

Berita Terkait : Hasil Penelitian, Pestisida Nabati Efektif Atasi Serangan Antraknosa Pada Cabe

Di sisi lain, Mentan Syahrul juga mengajak  masyarat suka mencoba makanan daerah  dari berbagai kawasan Nusantara. Ini penting dilakukan agar ke depan promosi pangan daerah ke level nasional dapat sukses.

Misalnya, orang Jawa Tengah mencoba hidangan Sulawesi Utara. Begitu juga dengan orang Jawa Barat yang perlu mencoba makanan orang papua, dan lain sebagainya. Hanya melalui cara ini, kuliner Nusantara bisa makin populer, disukai masyarakat dan lestari. [KAL]