Sebelumnya 
Kemensos juga menyasar program khusus yang ditujukan bagi warga yang terdampak corona atau yang tidak pernah mendapatkan bansos reguler. "Atau ada yang mengistilahkan sekarang ini misbar alias miskin baru," ucapnya.

Dia melihat, selama terjun ke lapangan memberi bansos, kondisi orang miskin di perkotaan itu lebih mengerikan dibanding kondisi orang miskin di pedesaan. Kalau di desa, biaya makan lebih murah, kesetiakawanan lebih tinggi, dan udara lebih segar. Sedangkan miskin di perkotaan, tempat tinggal acak-acakan, biaya makan mahal, apalagi saat PSBB, ruang gerak terbatasi.

"Biasanya income per bulan Rp 5 juta tiba-tiba karena pandemi jadi Rp1 juta. Kalau di pedesaan, uang segitu cukup. Tapi kalau di Jakarta, ya susah. Jangankan Rp 1 juta, di Jakarta, Rp 5 juta aja kadang-kadang susah," imbuhnya.

Baca Juga : PBSI Home Tournament, Apriyani/Mychelle Hadapi Ribka/Fadia di Final

Selain dampak ekonomi, Kemensos juga mengantisipasi perihal dampak sosial akibat pandemi. Lagi-lagi dia menegaskan, Kemensos tidak ingin selalu berperan memberikan bantuan, namun ada sesuatu yang lebih powerfull. Yaitu gotong royong menanggung beban di masa-masa sulit seperti saat ini.

"Paling mudah apabila kita merasa memiliki kemampuan lebih, ya bantu saudara kita yang pantas dibantu sesuai kemampuan. Dibanding misalnya ikut-ikutan mengkritik pemerintah," imbaunya.

Menurutnya, di saat-saat sulit seperti ini, yang pertama dan utama adalah rakyat harus membangun optimisme. Kalau ini tidak bisa, elemen bangsa akan kesulitan untuk bergerak. Contohnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua ini sudah minus. Kuartal ketiga juga masih sulit.

Baca Juga : Ketua KPK: Korupsi Juga Kejahatan Kemanusiaan

Dia pun memastikan, pemerintah terus bergerak. Seperti menaikkan anggaran Covid dari Rp 405 triliun menjadi Rp 677 triliun. Sebesar Rp 203 triliun di antaranya dalam bentuk perlindungan sosial, meski pun tidak semuanya dikelola Kemensos.

"Ini menunjukkan komitmen pemerintah menanggulangi dampak dari Covid-19 ini. Angka tersebut bisa terlihat besar, juga kecil. Bahkan anggaran Covid di beberapa negara yang APBN-nya sedikit lebih kecil dari Indonesia, tapi anggaran Covid-nya lebih besar dari kita," paparnya.

Kalau anggarannya terlihat besar karena Indonesia memang negara yang sangat luas. Jumlah penduduknya saja 250 juta dan tersebar di seluruh wilayah yang dibatasi laut. "Oleh karena itu, di luar anggaran Covid yang dialokasikan pemerintah, kita gunakan kekuatan kita yang paling utama, yaitu gotong royong," tegas Mensos.

Baca Juga : Duel Joshua Vs Fury Bangkitkan Gairah Tinju Kelas Berat

Lewat gotong royong ini, Mensos mengajak semua pihak, yang mampu apalagi konglomerat untuk bersama-sama membantu saudara-saudara yang kesusahan. [UMM]