RMco.id  Rakyat Merdeka - Rapat terbatas kabinet yang digelar kemarin terasa spesial. Pasalnya, Ratas digelar pasca video Presiden Jokowi memarahi para menteri viral. Lantas apa reaksi para menteri menanggapi kemarahan bosnya? Ternyata, tak semua menteri berani bicara. Pulang rapat, hanya Sri Mulyani, Moeldoko, Teten Masduki dan Doni Monardo yang berani kasih komentar.

Rapat terbatas yang dipimpin Presiden Jokowi ini digelar di Istana Merdeka, Jakarta. Rapat yang membahas percepatan penanganan Covid-19 ini turut didampingi Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Sejumlah menteri hadir dalam Ratas tersebut. Di antaranya, Menko Polhukam Mahfud MD, Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendi, Menkes Terawan Agus Putranto, Menteri BUMN Erick Thohir, Menkop Teten Masduki, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko hingga Kepala BNPB Doni Monardo.

Berita Terkait : Ini Pesan Jokowi Di Hari Kesaktian Pancasila

Tensi kemarahan Presiden terlihat mulai agak direm dalam rapat terbatas (ratas) di Istana Merdeka, kemarin. Tapi air muka menteri-menteri yang pulang ratas, rata-rata masih terlihat agak tegang. Mereka yang berjalan menyusuri pilar-pilar Istana, terkesan buru-buru cabut menghindar awak media. Hanya Sri Mulyani, Moeldoko, Teten dan Doni yang berani bicara. Tapi, keempat menteri itu bicara di tempat terpisah.

Sepulang ratas, Menteri Keuangan Sri Mulyani baru bicara di DPR. Sementara Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki baru ngomong di Gedung Smesco, Jakarta. Praktis, cuma Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo yang bicara di kompleks Istana.

Lalu kemana Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto? Sosok yang kerap disorot kamera, ketika Jokowi meluapkan emosinya dalam sidang kabinet paripurna, Kamis (18/6) lalu. Dia dicari-cari warganet kemarin. Sampai namanya masuk dalam jajaran trending topik Twitter kemarin.

Berita Terkait : Manggung Di PBB, Biasanya Jokowi Kasih Ke Wapres

Sebenarnya, Terawan hadir dalam ratas kemarin. Usai dari Istana, Terawan ikut rapat kerja dengan Komisi IX DPR. Namun, sebelum atau sesudah rapat, Terawan belum bersedia diwawancarai.

Doni, usai ratas menyampaikan beberapa penekanan Presiden kepada wartawan. Antara lain adalah pelibatan seluruh komponen. Terutama unsur TNI-Polri dalam upaya mitigasi dan upaya mengurangi risiko. Termasuk dibantu oleh sejumlah tokoh yang ada di daerah, baik itu tokoh agama, tokoh masyarakat, budayawan, dan antropolog. Sehingga tiap-tiap daerah itu memiliki karakteristik dan potensi yang bisa dilakukan agar semua bisa menekan laju penambahan kasus. “Tidak cukup bupati, walikota, atau gubernurnya,” sebutnya.

Sementara, Moeldoko mengatakan Presiden sudah beberapa kali memperingatkan para menteri dan pimpinan lembaga negara untuk bekerja ekstra keras, agar mampu mengatasi krisis yang diakibatkan pandemi Covid-19. Namun, sambung Moeldoko, belum ada hasil yang signifikan dari kinerja para menteri dan pimpinan lembaga.

Baca Juga : Bos Gapmmi: UU Cipta Kerja Untungin Buruh

Lalu, Sri menjelaskan duduk perkara masih rendahnya realisasi insentif kesehatan yang terdapat dalam program Pemu lihan Eko nomi Nasional (PEN) mencapai 4,68 persen dari Rp 87,55 triliun di hadapan anggota Komisi XI DPR.

Salah satu perkara yang sempat bikin Jokowi emosi. Bukan cuma kesehatan. Sri juga merinci realisasi insentif dalam program PEN. Perlindungan sosial (social safety net) seperti bansos saat ini mencapai 34,06 persen, pemerintah daerah (pemda) 4 persen, insentif usaha 10,14 persen, serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebesar 22,74 persen.

Teten menilai wajar Presiden marah. “Pak Presiden itu marah karena beliau tahu persis lapangan,” katanya [SAR/MEN/UMM]