RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah siap menampung perusahaan asing yang bersiap hengkang dari China. Untuk itu, Kementerian BUMN (Badan Usaha Milik Negara) mengembangkan Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah, yang memiliki lahan seluas lebih dari 4 ribu hektare.
    

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, pengembangan KIT Batang ini merupakan kolaborasi antara pihaknya beserta perusahaan pelat merah dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), guna membangun ekosistem investasi dengan mitra strategis, baik domestik maupun internasional.
    

Ia menjelaskan, khusus untuk menarik investor lebih banyak, KIT Batang akan menerapkan konsep baru, yakni para investor tidak perlu membeli lahan. Sebagai gantinya, investor bisa menyewa dalam jangka waktu panjang bekerjasama dengan Holding Perkebunan yang dikoordinasikan PTPN III.
    

"Melalui PTPN III, kami yang akan membebaskan lahan, sehingga tanah seluruh kawasan ini menjadi milik BUMN dan akan memudahkan serta meyakinkan kerja sama dengan investor yang datang untuk menanamkan modal dengan cara sewa lahan berjangka panjang," ujarnya.
    

Ia menuturkan, fokus pemerintah mengembangkan KIT Batang karena didorong untuk meningkatkan perekonomian di Jawa Tengah, sekaligus agar kawasan industri ini mampu bersaing dan menjadi pengimbang dengan kawasan industri di Jakarta dan Pasuruan, Jawa Timur.
    

Berita Terkait : Sabet Rekor MURI, Menteri BUMN Apresiasi Pertamina SMEXPO 2020

Selain itu, keberadaan KIT Batang diharap mampu memperbesar Upah Minimum Regional (UMR) di Jawa Tengah yang masih tergolong rendah, sekaligus meningkatkan pemerataan kualitas sumber daya manusia.
    

Sebelumnya, Presiden Jokowi memang memerintahkan kepada Menteri BUMN, BKPM, untuk menyambut industri yang akan relokasi dari China ke Indonesia. Baik industri yang berasal Jepang, Korea, Taiwan, Amerika Serikat atau dari negara manapun, agar diberikan pelayanan sebaik-baiknya.
    

"Kami akan siapkan 4 ribu hektare, tahapan pertama 450 hektare terlebih dahulu, langsung. Misalnya ada yang mau, LG mau pindah besok? Silakan masuk, nggak usah urus apa-apa. Yang urus semua BKPM. Tentu dibantu gubernur, bupati," kata Jokowi.
    

Secara keseluruhan, pengembangan KIT Batang dilaksanakan dalam tiga fase dengan total lahan seluas 4.326,8 ha dan kondisinya sudah clear and clean. "Pada tahap pertama pengembangan KIT Batang di lahan seluas 450 hektare, yang diperkirakan akan menampung 30 ribu tenaga kerja lokal," kata Erick lagi.
    

Lebih lanjut dikatakannya, dukungan infrastruktur untuk kawasan tersebut juga sudah komplit karena terletak di sisi utara Tol Trans Jawa yang sudah disiapkan PT Jasa Marga (Persero). Bahkan, lokasi ini juga dilalui jalur kereta api dan akan disiapkan PT KAI (Persero) untuk menjadi dry port.
    

Berita Terkait : Ahok Bisa Bernapas Panjang

Tidak hanya itu, PT PLN (Persero) juga menyiapkan jaringan listrik. Saat ini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang berkapasitas 2x1.000 mega watt (MW) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 50 MW.
    

Sementara, BUMN lain yang juga memfasilitasi kawasan industri ini ada PTPN IX yang akan menyediakan lahan dan memproses konversi Hak Guna Usaha (HGU) ke Hak Guna Lahan (HPL). Serta PT Pembangunan Perumahan (Persero)/PTPP bersama PT Kawasan Industri Wijayakusuma (Persero)/KIW akan merencanakan master development. Sementara PT Pelindo III (Persero) akan mengelola pelabuhan dan PT Pertamina (Persero) akan menyediakan jaringan gas dan bahan bakar.
    

Ia menilai, jika dikaitkan dengan persaingan ekonomi global yang semakin ketat di era seusai Covid-19, upaya Indonesia menambah kawasan industri khusus di Jawa Tengah, seperti halnya KIT Batang menjadi keharusan untuk meningkatkan daya saing.
    

“Untuk mempercepat pembangunan Kawasan Industri Batang ini, Kementerian BUMN akan segera mengintegrasikan semua BUMN terkait dan bekerja sama dengan BUMD dan swasta," tegasnya.
    

Direktur Utama PTPP Novel Arsyad menambahkan, Kawasan Industri Batang memiliki lokasi strategis karena dapat ditempuh dengan waktu 4 jam dari Jakarta, 1 jam dari Semarang, berjarak 50 kilometer dari Bandara Ahmad Yani, Semarang dan 65 kilometer dari Pelabuhan Tanjung Mas yang juga berada di Semarang.
    

Baca Juga : Palestina Mikir Keluar dari Liga Arab

“Dengan dibukanya Kawasan Industri Batang maka akan memudahkan pergerakan logistik, dengan waktu tempuh 50 menit dari kawasan industri menuju Pelabuhan Tanjung Mas," katanya.
    

Rencananya dalam kerja sama dengan PT KIW, PTPP menata dari konsep bisnisnya kemudian desainnya, dan bagaimana hal tersebut dapat menarik minat investor.
    

"Kita harus membuat diferensiasi dengan area industri yang lain, karena area industri di sini cukup banyak. Kita juga harus menarik investor asing supaya mereka tidak pindah ke negara lain karena Indonesia punya kelebihan," tandasnya.[IMA]