RMco.id  Rakyat Merdeka - Budidaya cabe terutama cabe rawit, tidak terlepas dari serangan OPT. Baik pada musim penghujan maupun musim kemarau. 

Kebiasaan petani yang masih menanam cabe secara monokultur, cenderung kurang menguntungkan secara ekonomi karena harga cabe yang sampai saat ini masih relatif tidak stabil. Selain itu juga rentan terhadap serangan OPT karena tersedianya inang yang cukup dan terus menerus. 

Pola tanam tumpangsari cabe dengan tanaman lain telah terbukti dapat mengurangi risiko serangan OPT.  Salah satu contoh adalah tumpang sari cabe dengan jagung yang dapat bersifat repelen (penolak) terhadap hama kutukebul sebagai vektor virus kuning.

Penelitian yang dilakukan oleh Retno Wikan, fungsional POPT Ditlin Hortikultura, pada tahun 2018 menunjukkan bahwa tanaman jagung dapat menghasilkan senyawa tertentu untuk menolak kutu kebul.

Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah komando Syahrul Yasin Limpo (SYL) mendorong dan memacu jajaran di Kementan untuk memenuhi kebutuhan cabai rakyat. Tujuannya agar Indonesia tetap aman dan terjaga melalui teknologi tumpang sari.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto dalam keterangannya, Jumat (10/7) menjelaskan, bahwa salah satu kunci keberhasilan produksi cabai rawit yaitu dengan penerapan budi daya tumpang sari cabe rawit-jagung. 

“Biaya produksi menjadi lebih rendah dan dapat meningkatkan ketahanan cabe terhadap penyakit, sehingga petani tidak harus membeli pestisida kimia yang mahal harganya," beber dia. 

Berita Terkait : Menteri Pertanian SYL Panen Padi Di Aceh Besar

Selain itu, kata Anton-sapaannya-, produk cabe yang dihasilkan juga lebih sehat." Lebih lama daya simpannya, dan aman dikonsumsi," jelas dia. 

Penerapan Tumpang Sari Cabe dan Jagung Di Purbalingga Dan Lampung Tengah

Petani cabe rawit di Desa Karanggambas, Kecamatan  Kutasari, Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah menggunakan pola tanam padi-jagung-cabe.

Penanaman padi dilakukan terlebih dahulu. Jerami padi yang telah dipanen digunakan sebagai mulsa untuk budi daya tumpangsari jagung dan cabe rawit yang ditanam setelahnya. Jika jagung sudah dipanen, batangnya tetap dibiarkan berdiri dan digunakan sebagai ajir tanaman cabe sehingga dapat bermanfaat, efisien dan berkelanjutan.

Praktik tumpangsari tersebut telah lama dilakukan petani setempat. Selain bermanfaat mengurangi biaya produksi, ternyata juga dapat mengurangi serangan OPT cabe.

Hal ini dapat dilihat dari pengalaman petani yang menanam dengan sistem monokultur cabe rawit, banyak tanaman yang terserang penyakit virus kuning, trips dan antraknosa. Namun demikian, saat petani menanam dengan sistem tumpangsari jagung-cabe rawit, tidak ada serangan OPT tersebut.

Pola tanam cabe dengan jagung juga dilakukan di Desa Kibang, Kecamatan Metro Kibang, Kabupaten Lampung Timur. Kelompok tani Harapan Jaya dan Kelompok tani Jaya Abadi yang diketuai Tukiran mencoba pola tanam tumpangsari cabe- jagung. 

Berita Terkait : Petani Organik Jeneponto Jaga Ketahanan Pangan Di Tengah Pandemi

“Tanaman jagung ditanam terlebih dahulu, kemudian setelah dua bulan baru ditanam cabe di sela-sela tanaman jagung," jelas dia. 

Tukiran optimis setelah satu bulan kemudian jagung akan panen. Setelah jagung dipanen, batang jagung dibiarkan setinggi 1-1.5 m." Nantinya difungsikan sebagai ajir tanaman cabe," pungkasnya. 

Tumpang Sari Cabe-Jagung Menguntungkan dan Harus Disebarluaskan

Kepala UPTD BPTPH Provinsi Jawa Tengah Herawati Prarastyani menceritakan tentang keuntungan tumpang sari cabe - jagung tersebut.

Menurut Herawati, dengan tumpangsari cabe-jagung, biaya pengolahan tanah yang relatif dapat ditekan karena sudah dilakukan di awal penanaman jagung dan masih dapat digunakan untuk pertanaman cabe.

“Petani tidak perlu membeli mulsa plastik karena jerami dan daun serta sisa bagian tanaman jagung yang dipanen dapat digunakan sebagai mulsa dan pupuk untuk pertanaman cabe. Selain itu, biaya untuk pembelian ajir juga tidak ada, karena sudah memakai batang tanaman jagung,” ujar Hera.

Hera menambahkan bahwa petani umumnya lebih senang menggunakan varietas jagung dengan batang yang kuat.

Berita Terkait : Kementan Dorong Penetapan Dan Pelepasan Galur Ternak

“Lebih tahan kekeringan pada musim kemarau sehingga mengurangi biaya pengairan," lanjutnya.

Senada, Direktur Perlindungan Hortikultura Sri Wijayanti Yusuf mengungkapkan dalam budidaya pengelolaan OPT harus dilakukan berdasarkan prinsip PHT. Sarana dan bahan pengendali yang digunakan juga harus ramah lingkungan. 

“Harapannya, kita dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia sintetik," jelas dia. 

Sri menambahkan, pengalaman dari petani yang sudah sukses menerapkan tumpangsari cabe - jagung ini, harus disampaikan dan ditularkan ke kelompok tani lainnya. [KAL]