RMco.id  Rakyat Merdeka - Perkembangan ekonomi global di tengah Pandemi Covid-19, telah menciptakan krisis kesehatan. Ini berefek domino terhadap aspek sosial, ekonomi, serta keuangan, seiring pembatasan aktifitas masyarakat dalam rangka membatasi penyebaran wabah.

Hal ini disampaikan Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto. Namun demikian, dia menyebutkan, perlu juga disoroti, sektor pertanian masih mampu tumbuh positif sebesar 2,19 persen. Begitu pula sektor informasi dan komunikasi, yang tumbuh tinggi sebesar 10,88 persen.

Terlepas dari perlambatan ekonomi, paparnya, kinerja sektoral di bulan Juni menuju ke arah membaik pada sektor-sektor utama. Pelonggaran PSBB di sejumlah wilayah, mulai meningkatkan mobilitas masyarakat. Sehingga aktifitas ekonomi mulai bergerak.

Sejumlah indikator di bulan Juni 2020 memperlihatkan sinyal positif. Seperti Peningkatan Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur, Indeks Keyakinan Konsumen, penjualan mobil, penjualan ritel, dan survey kegiatan dunia usaha.

Berita Terkait : RUU Cipta Kerja Selesai Dibahas, Airlangga Ucapkan Terima Kasih Pada DPR

Airlangga menuturkan, kinerja keuangan beberapa emiten selama Semester I 2020 juga menunjukkan peningkatan dibanding Semester I 2019. Dari sektor perdagangan internasional, beberapa komoditas ekpor menunjukkan perbaikan, seiring peningkatan ekonomi China.

“Hal ini membuat ekspor Indonesia di bulan Juni 2020 meningkat, mencapai USD 12,01 Miliar. Inflasi inti yang mencerminkan aggregate demand mulai mengalami peningkatan pada Juli 2020,” ungkapnya.

Sebelumnya, pemerintah telah membentuk Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2020, yang terdiri dari Komite Kebijakan yang menetapkan program dan kebijakan, Ketua Pelaksana yang mengintegrasikan pelaksanaan kebijakan, dan Satuan Tugas yang melaksanakan dan mengendalikan implementasi di lapangan.

“Komite ini membuat semua perumusan dan pelaksanaan program serta kebijakan, dilakukan secara lebih terkoordinasi dan terintegrasi. Sehingga bisa mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional dan menyelamatkan perekonomian dari potensi terjadinya krisis ekonomi,” tegasnya.

Berita Terkait : Bos Golkar Pede Perekonomian Indonesia Bisa Pulih Lebih Cepat

Meski juga harus disadari, ujar Airlangga lagi, pada tahun 2020, ekonomi global diproyeksikan memang berkontraksi. Sebagian besar negara di dunia pun menghadapi ancaman resesi.

Di saat yang sama, perkembangan ekonomi Indonesia di tengah wabah ini pun berdampak terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia, dari 4,97 persen pada triwulan 4-2019, menjadi 2,97 persen pada triwulan 1-2020.

Tekanan perlambatan ekonomi dan efek Covid-19, lanjut Airlangga, terus berlanjut. Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan 2-2020 terkontraksi minus 5,32 persen. Sehingga secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia Semester I-2020 dibanding Semester I-2019, terkontraksi -1,26 persen.

“Keterbatasan aktivitas ekonomi akibat pembatasan sosial dan fisik, sangat berdampak terhadap faktor pembentuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar pertumbuhan pun terkontraksi -5,51 persen,” jelasnya.

Berita Terkait : Airlangga Mau Gairahkan MICE Di Destinasi Wisata

Menurut Airlangga, kontraksi konsumsi rumah tangga ini menjadi penekan di tengah kinerja investasi dan perdagangan internasional yang juga terbatas. Dari sisi sektoral, dua sektor utama yang berkontribusi terbesar serta berhubungan dengan aktivitas ekonomi masyarakat adalah sektor perdagangan dan manufaktur.

“Kedua sektor ini masing-masing terkontraksi -7,57 persen dan -6,19 persen. Mengingat kedua sektor ini merupakan sektor dengan serapan tenaga kerja tertinggi, maka dampaknya terhadap penghasilan dan konsumsi masyarakat semakin besar,” ujarnya. (DWI)