RMco.id  Rakyat Merdeka - Kabupaten Temanggung memiliki jargon Swadaya Bhumiphala yang berarti kemandirian dalam bidang agrikultur. Hingga kini wilayah di lereng Gunung Sindoro, Sumbing dan Prau ini masih mengandalkan pertanian dan perkebunan sebagai penopang perekonomian rakyat.

Dari sisi geografis, wilayah Kabupaten Temanggung memang tidak bisa disangkal memiliki kekayaan alam yang sangat mendukung potensi agrikultur. Wilayah perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian variatif, dua gunung api aktif yang menjadi penyebab kesuburan lahan.

Kabupaten Temanggung terkenal dengan komoditas vanili, kopi dan tembakau. Ketiga komoditas tersebut bahkan tergambar dalam logo Kabupaten Temanggung.  Selain itu, terdapat potensi pengembangan asparagus yg dikelola oleh Asosiasi Temanggung Asparagus Farm (ATAF) yang terletak di Dusun Sobohan, Desa Mangunsari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah.

Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung Joko Budi Nuryanto menyampaikan, pengembangan asparagus di Temanggung seluas 14 ha dengan produksi rata-rata  15-20 ton/ha.

Berita Terkait : Bersama Kementan, Warso Farm Siap Kembangkan 13 Hektar Lahan Buah Naga dan Durian

“Komoditas ini cocok di ketinggian wilayah, kontur tanah dan kemiringan serta serapan cahaya matahari seperti di Temanggung.   Asparagus tergolong tanaman super food dengan harga yang terbilang sangat tinggi dibanding produk pertanian lainnya,” ujar dia melalui keterangan, Rabu (12/8).

Selain itu, tanaman ini dapat tumbuh dalam waktu 5-10 tahun, bergantung pada perawatan tanaman. 

"Tanaman ini diambil tunas baru (rebung) untuk diolah menjadi bahan sayur kualitas unggulan," jelas dia. 

Ketua Asosiasi Temanggung Asparagus Farm (ATAF) Basori Supriyanto menyampaikan asparagus merupakan komoditas sayuran level menengah ke atas dalam klasifikasi hasil pertanian.

Berita Terkait : DPO Modoinding Picu Animo Pelanggan Pasar Swalayan

“Dengan kandungan nilai gizi yang tinggi produk asparagus banyak diminati pasar, bahkan permintaan pasar sering tidak terpenuhi. Kekurangan produk asparagus terjadi karena masih rendahnya produktivitas asparagus itu”, tambahnya.

Dalam kunjungan kerjanya ke ATAF, Direktur Jenderal Hortikultura Kemantan Prihasto Setyanto menyampaikan potensi pengembangan asparagus sangat besar dan permintaan pasar juga terbuka luas. 

Asparagus kualitas premium, katanya harga jual sekitar Rp80.000 per kilogram, sehingga dalam satu hektare bisa menghasilkan Rp 1,6 miliar per tahun.

“Tidak hanya pasar nasional, pasar Asia masih kekurangan stok dan produksi asparagus dari Indonesia tergolong dalam kualitas tinggi," tambah pria yang kerap dipanggil Anton. 

Berita Terkait : Setujui Penambahan Anggaran, DPR Dukung Barantan Percepat Ekspor Komoditas Pertanian

Anton berharap agar asosiasi dapat meningkatkan penampilan dari kemasan produk asparagus untuk meningkatkan nilai tambah produk. Ini sebagaimana arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo

"Bapak Menteri Pertanian meminta agar kita terus mendorong kualitas komoditas hortikultura," jelas dia. 

“Dengan kerja keras semua pihak, mudah-mudahan pemerintah akan mendorong upaya ekspor asparagus ke luar negeri yg masih terbuka luas di Asia, Timur Tengah, Amerika Serikat maupun Eropa,” pungkas Prihasto. [KAL]