Panen Raya Di Gorontalo

Jokowi : Dulu Kita Impor Jagung 3,5 Ton, Sekarang Kecil Sekali

Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi melaksanakan panen raya jagung, di Desa Botuwombatu, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, Jumat (1/3) siang. (Foto: Setkab)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Empat tahun terakhir, impor jagung yang dilakukan pemerintah menembus angka 3,5 juta ton. Sekarang, impor jagung turun drastis. Pada tahun 2018, Indonesia hanya mencatat angka impor jagung sebanyak 180 ribu ton.

 “Kecil sekali karena sudah bisa disuplai dari produksi para petani jagung,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada panen raya jagung, di Desa Botuwombatu, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, Jumat (1/3) siang.

Didampingi Ibu Negara Iriana, Presiden Joko Widodo menyampaikan terima kasihkepada para petani jagung karena Indonesia kini tidak tergantung lagi kepada jagung impor dari luar negeri. "Dulu impor kita 3,5 juta ton dari dalam negeri yaitu produksi jagung. Sekarang sudah tidak, disuplai hampir semuanya dari dalam negeri," tambah Presiden Jokowi.

Berita Terkait : Di Kebun Raya Bogor, Jokowi Serahkan Hewan Kurban Sapi Ongole 1,2 Ton


Sebelumnya, Presiden Jokowi mengatakan, pemerintah ingin produksi jagung meningkat, tetapi harganya jangan sampai drop turun. Oleh sebab itu, ia setuju gagasan Gubernur Gorontalo, jika kelebihan produksi itu jangan semuanya masuk ke pasar di dalam negeri tapi juga ada sebagian yang harus kita ekspor.

“Untuk apa? Agar harga ini stabil pada posisi yang baik dan menguntungkan. Kalau produksinya semakin banyak dan kita tidak bisa menjualnya ke luar, harganya akan jatuh, rata-rata seperti itu,” kata presiden.

Ia menunjuk tanaman cabai. Saat harga tinggi semua petani menanam cabai. Begitu panen membludak produksinya, harganya jatuh. Jatuh bareng-bareng, rugi bareng-bareng. “Ini yang harus kita jaga karena kalau harga tinggi misalnya cabai harga tinggi ibu-ibu pasti semuanya mengeluh harga tinggi. Tetapi kalau harga jatuh, murah, petaninya yang teriak-teriak,” ujar Presiden.

Berita Terkait : Ki Manteb Wayangan Di Istana, Jokowi Disamakan Kresna

Presiden menegaskan, pemerintah menjaga ini tidak gampang, termasuk jagung. Ia ingat akhir tahun 2014, harga jagung saat itu dirinya ke Dompu di NTB untuk panen jagung di sana. Banyak petani marah-marah karena harga jagung saat itu Rp1.400-Rp1.600.


Akhirnya pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres), sehingga harga terdongkrak menjadi di atas Rp2.700 saat itu. “Tapi juga sekali lagi kalau suplainya selalu banyak dan kita tidak bisa membuang sebagian produksi itu keluar harga bisa jatuh lagi,” ucap Presiden mengingatkan.

Menurut Presiden, sulitnya mengendalikan harga jagung karena yang berproduksi itu tidak hanya di Gorontalo, ada di Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur, ada di Jawa Tengah, ada di Jawa Barat, ada di Sumatera, semuanya nanam jagung. Yang paling penting, menurut  Presiden, per hektarnya ini yang produksinya harus tambah. "Kalau sekarang per hektar  8 – 9 ton, ya bisa dinaikkan lagi menjadi 10 ton."

Berita Terkait : Minta Kebakaran Hutan Segera Diatasi, Jokowi Telepon Langsung Kepala BNPB

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie. [IPL]

RM Video