RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto menyerukan, kepada industri jamu untuk selalu meningkatkan daya saing produk-produk jamu dan mendukung keberadaan pelaku UMKM jamu.

Strategi ini krusial untuk mengembangkan produk-produk jamu bagi pasar luar negeri. Apalagi, pandemi Covid-19 mengubah perilaku konsumen menjadi lebih sadar kesehatan.

Hal ini disampaikan Mendag Agus saat memberikan sambutan dalam seminar web (webinar) “Jamu Modern untuk Pasar Indonesia, Asia, Afrika, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Serikat” yang digelar oleh Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu), Selasa (15/9).

“Kita dapat mengubah momentum krisis ini menjadi lompatan kesempatan,” ujar Mendag dalam keterangannya, Rabu (16/9).

Berita Terkait : Mendag Ajak Semua Pihak Bersinergi Optimalkan Niaga Elektronik

Menurut dia, jamu adalah salah satu keunggulan lokal yang memiliki potensi besar di pasar domestik dan luar negeri. Apalagi disrupsi yang terjadi selama pandemi Covid-19 ini telah menggeser perilaku dan pola konsumsi masyarakat dunia ke arah yang semakin sadar kesehatan. Dengan demikian, potensi jamu di masa depan bisa lebih menjulang.

Dari sisi peningkatan akses pasar, baik pasar ekspor maupun dalam negeri, Mendag melihat pelaku usaha jamu dapat menggencarkan pola distribusi omnichannel yang menggabungkan kekuatan saluran distribusi daring seperti marketplace, media sosial, dan situs web, dengan saluran distribusi luring yang konvensional.

Menurut Mendag, industri dalam negeri dapat mencontoh kejelian industri jamu dalam melihat peluang ekspor di tengah pandemi. Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan mengapresiasi inisiatif GP Jamu yang melihat peluang jamu di masa pandemi sebagai produk herbal asli Indonesia untuk diekspor ke mancanegara.

“Peran GP Jamu itu akan membantu gerak ekonomi dan perdagangan Indonesia dan di saat yang bersamaan menjaga masyarakat tetap sehat melalui konsumsi jamu,” imbuh Mendag.

Baca Juga : Tok! Pemerintah Blokir IMEI Gadget Ilegal

Mendag juga menyampaikan, industri jamu Indonesia mampu menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Industri jamu memiliki peran penting dalam perekonomian nasional dengan menyediakan lapangan kerja untuk tiga juta tenaga kerja, dan tahun lalu tumbuh 6 persen atau berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. 

“Dengan bahan baku yang kurang lebih 90 persen berasal dari dalam negeri, industri jamu akan memberikan multiplier effect yang signifikan dalam pertumbuhan perekonomian mulai dari sektor hulu hingga hilir,” kata Mendag.

Di tengah pandemi Covid-19, sejumlah sektor mampu bertahan dari pandemi. Misalnya industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 8,65 persen pada kuartal II-2020 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu di sektor biofarmaka atau tanaman obat, nilai ekspor secara keseluruhan memang ikut terdampak pandemi. Pada periode Januari–Juli 2020, nilai ekspor produk biofarmaka adalah 5,69 juta dolar AS. Nilai ini turun 12,60 persen dari nilai ekspor pada periode yang sama 2019 yang senilai 6,51 juta dolar AS.

Baca Juga : Absen di AS, Halep Incar Trofi Italia Open

Tetapi, peningkatan nilai ekspor di sejumlah kawasan tujuan ekspor memberi harapan untuk jenis produk biofarmaka. Pada periode Januari–Juli 2020, nilai ekspor produk biofarmaka ke kawasan Timur Tengah justru meningkat sebesar 511,41 persen menjadi 38,82 ribu dolar AS, meroket dari 6,35 ribu dolar AS pada periode yang sama 2019.

Kenaikan ekspor juga terjadi ke Amerika Serikat yang naik 8,36 persen dan Eropa 5,26 persen pada periode yang sama. Negara tujuan ekspor produk biofarmaka Indonesia pada periode Januari–Juli 2020 masih didominasi oleh India (52,83 persen), Singapura (7,82 persen), Jepang (6,25 persen), Vietnam (5,37 persen), dan Malaysia (4,98 persen).

Pada 2019, Indonesia menempati urutan ke-18 negara pengekspor biofarmaka ke dunia dengan pangsa pasar sebesar 0,62 persen. Pemasok biofarmaka dunia masih didominasi oleh India (34,88 persen), China (8,10 persen), dan Belanda (7,16 persen).

“Hal ini menyadarkan kita bahwa potensi produk biofarmaka nasional, seperti jamu, yang bahan bakunya berlimpah di dalam negeri ini perlu kita optimalisasi,” katanya. [DIT]