Mustahil, Pemerintah Hapus Pendidikan Agama

Klik untuk perbesar
Dirjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama, Kamaruddin Amin. (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Belum lama ini, viral rekaman seorang ibu yang mengatakan bahwa Presiden Jokowi akan menghilangkan pendidikan agama di sekolah. Menanggapi hal ini, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin menegaskan, pemerintah tidak mungkin menghapus pendidikan agama dari kurikulum sekolah. Apalagi, madrasah.

"Di negara sekuler seperti Inggris dan sejumlah negara Eropa Barat saja, pelajaran agama wajib di sekolah. Tak cuma sekolah yang diselenggarakan oleh gereja (faith based school), tetapi juga sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah (public schools)," jelas Kamaruddin di Jakarta, Selasa (5/3).


"Apalagi di Indonesia, negara yang bangsanya dikenal sangat religius. Mustahil, pelajaran agama dianggap tidak penting, dan akan dihilangkan," lanjutnya.

Berita Terkait : Komisi IV Apresiasi Gerak Cepat Mentan Bantu Korban Bencana Alam Sulsel dan Sultra

Dijelaskan, dalam empat tahun terakhir, Ditjen Pendidikan Islam Kemenag justru terus berupaya meningkatkan akses dan mutu pendidikan agama dan keagamaan. Berbagai program afirmatif terus dilakukan.

Keberadaan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) sebagai madrasah unggulan, terus dikembangkan sehingga jumlahnya semakin banyak dan tersebar di berbagai provinsi.


"Pesantren salafiyah dan ma'had aly (perguruan tinggi di pesantren) juga kita rekognisi dalam bentuk penyetaraan atau muadalah. Pemerintah juga siapkan RUU Pesantren untuk memberikan afirmasi dan rekognisi, bahkan fasilitasi pada tradisi dan kekhasan keilmuan di pesantren," tuturnya.

Berita Terkait : Menduniakan Si Pedas Melalui Festival Cabe

Tak cuma itu. Sarana prasarana pendidikan tinggi keagamaan Islam Negeri (PTKIN) juga kian maju pesat. Seluruh PTKIN yang berjumlah 58 kampus, memiliki gedung perkuliahan baru. 

Intinya, penguatan pendidikan agama dan keagamaan, telah banyak dilakukan Kemenag. Baik dalam aspek fisik, pengembangan SDM (beasiswa), ataupun kurikulum maupun penguatan proses belajar mengajar.


"Saya justru optimis, pendidikan agama ke depan di Indonesia akan semakin kuat dan berkualitas," tandas Kamarudin. [HES]

RM Video