RMco.id  Rakyat Merdeka - Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Jalan dan Perkeretaapian, Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) mencatat PSBB berdampak pada turunnya volume penumpang kereta api sebesar 68 persen. 

Kepala Balitbanghub, Umiyatun Hayati Triastuti mengatakan, dibutuhkan berbagai macam jurus untuk kembali membangkitkan sektor transportasi. Menurutnya, berdasarkan data Kementerian Perhubungan, jumlah bus dan jumlah penumpang pada angkutan jalan mengalami penurunan drastis. Hal yang sama juga terjadi pada angkutan kereta api. 

Berita Terkait : Ini Jurus Kemenhub Selamatkan Sektor Logistik

Jumlah perjalanan kereta api menurun dampak dari adanya pembatasan pasca terjadinya pandemi pada bulan Maret-April. Upaya pemulihan dilakukan dengan strategi yang dirumuskan atas kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Diperlukan strategi pemulihan bisnis angkutan jalan dan perkeretaapian dengan paradigma humanitarian transport agar bisnis angkutan orang pada transportasi jalan dan kereta api tetap berlangsung dengan baik," ujarnya dalam webinar bertajuk Strategi Pemulihan Bisnis Angkutan Jalan dan Perekeretapiaan, Senin (21/9).

Berita Terkait : Bantu Taksi Bandara, Kemenhub Salurkan 200 Paket Sembako

Dari kajian yang dilakukan oleh Ahli Ekonomi UGM, Hengki Purwoto mengungkapkan, pemulihan bisnis perkeretaapian dapat diarahkan mengadopsi Blue Ocean Strategy (BOS) untuk menciptakan fitur layanan baru dalam menangkap potensi yang dimiliki. 

Inovasi di sektor perkeretaapian merupakan hal penting sehingga dapat menciptakan ruang pasar baru yang diperkirakan sebesar 70 persen dari saat ini. "Selain itu penerapan layanan dengan konsep adaptasi kebiasaan baru juga berpotensi menarik masyarakat untuk menggunakan moda kereta api," ujarnya.

Berita Terkait : Pecahkan Masalah Macet Puncak, Kemenhub Gandeng ITB

Sementara itu, rekomendasi kebijakan yang diberikan oleh Ahli Transportasi ITB, Ibnu Syabri mengatakan, dengan memberikan subsidi bahan bakar khusus untuk angkutan umum pada masa pandemi yang bertujuan untuk meningkatkan pengusaha.

"Selain itu agar pengemudi angkutan umum dapat bertahan memenuhi biaya operasional harian," ujarnya. [KPJ]