Jokowi: Nggak Logis, Azan Dilarang, Pernikahan Sejenis Dilegalkan

Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi menyerahkan 814 sertifikat tanah wakaf, di Masjid Istiqlal, Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, Jumat (8/3) siang. (Foto: Deny S/Humas)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di era medsos, hoaks alias kabar bohong dengan mudah merebak ke mana-mana. Apalagi, di masa menjelang Pemilu seperti sekarang ini. Untuk itu, Presiden Jokowi menitipkan pesan kepada para ulama, kyai, para tokoh-tokoh yang ada di kampung, yang ada di desa, agar bisa meluruskan hal yang tidak benar.

“Jangan sampai, masyarakat resah gara-gara urusan yang namanya hoaks, yang namanya kabar fitnah. Kabar bohong yang biasanya dimulai lewat media sosial,” tuturnya di sela penyerahan 814 sertifikat tanah wakaf di Masjid Istiqlal, Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, Jumat (8/3) siang.

Berita Terkait : Wiranto Diserang, Relawan Jokowi Rapatkan Barisan

Jokowi mengatakan, saat ini hoaks bukan hanya ramai di media sosial saja, tapi sudah dari pintu ke pintu. “Katakan yang benar itu benar. Yang salah itu salah. Katakan yang haq itu haq. Yang bathil itu bathil. Sudah,” katanya.

Jokowi mengaku tak senang dipuji-puji. Tapi juga, jangan sampai ada menuduhnya PKI. Sebab, dirinya lahir tahun 1961, sementara PKI dibubarkan tahun 1965-1966. “Umur saya baru 4 tahun. Nggak ada PKI balita,” tandasnya.

Baca Juga : Jokowi Umumkan Susunan Kabinet Kerja II, Besok Pagi

Jokowi juga menyoal isu pemerintah bakal melarang azan. Ia menegaskan, hal itu sangat mustahil. “Kita ini negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, kok azan dilarang? Logikanya kan nggak masuk. Tapi di bawah, itu terus dihembus-hembuskan, dan yang percaya itu tidak sedikit. Menurut survei, ada 9 juta lebih masyarakat Indonesia yang percaya isu tersebut," paparnya.

Ia juga menyampaikan ada lagi fitnah, yang menyebutkan pemerintah akan melegalkan kawin sejenis. “Logikanya nggak masuk,” tegas Jokowi.

Baca Juga : Anak Buah Jonan Patungan Listrik

"Kita ini adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, dengan norma-norma agama yang kita anut ini sangat sesuai dengan syariat. Kita juga memiliki nilai-nilai tata krama, nilai-nilai etika, nilai-nilai budaya," imbuhnya. [HES]