Tembak Mati 3 TNI, Teroris Papua Ngelunjak

Klik untuk perbesar
Jenazah anggota TNI Serda Mirwariyadin disemayamkan setibanya di baseops Lanud I Gusti Ngurah Rai, Bali, Jumat (8/3). (Foto: ANTARA/Fikri Yusuf)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua kembali berulah. Kelompok pimpinan Egianus Kogoya itu menyerang anggota TNI, yang sedang bertugas mengamankan pembangunan infrastruktur di Nduga, Papua. Tiga prajurit Kopassus gugur. Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Jenderal (Purn) Moeldoko geregetan. Rakyat juga sama. Ini teroris Papua kok ngelunjak banget, tumpas saja!!!

Ketiga prajurit Kopassus yang gugur itu adalah Serda Mirwariyadin, Serda Siswanto Bayu Aji dan Serda Yusdin. Jumat (8/3) siang, ketiga jenazah pahlawan itu sudah dievakuasi dari Timika, Papua, dibawa ke kampung halamannya masing-masing. Mereka diangkut dua pesawat Garuda dan Sriwijaya. Jenazah Mirwariyadin diangkut ke Denpasar. Selanjutnya diterbangkan ke Nusa Tenggara Barat (NTB). Jenazah Siswanto dibawa ke Grobogan, Jawa Tengah. Jenazah Yusdin diterbangkan ke Palopo, Sulawesi Selatan. Ketiga prajurit itu dinaikkan pangkatnya menjadi Sersan Satu (Sertu) anumerta. 

Ketiga prajurit Kopassus gugur saat melakukan pengamanan jalur pergeseran pasukan keamanan pembangunan infrastruktur Trans Papua Wamena-Mumugu di Kabupaten Nduga. Mereka yang hanya berjumlah 25 orang, diserang secara mendadak oleh KKSB yang jumlahnya diperkirakan 50 sampai 70 orang, Kamis (7/3) sekitar pukul 08.00 waktu setempat. KKSB menggunakan senjata api juga senjata tradisional.

Berita Terkait : Situasi Mulai Normal, Jokowi Siap Undang Tokoh Papua ke Istana

Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Muhammad Aidi mengatakan, prajurit TNI berhasil merampas 5 pucuk senjata milik anggota KKSB. Juga ditemukan satu mayat, dan diperkirakan setidaknya 7-10 orang anggota kelompok juga tewas, namun semua jenazah berhasil dibawa kabur teman-temannya.

Kasus ini menambah panjang daftar penyerangan yang dilakukan oleh KKB. Tahun 2017, ada 9 kasus kontak senjata antara TNI dan KKB yang terekam media. Tiga aparat dilaporkan tewas dalam kontak senjata itu. Setahun kemudian, jumlah korban bertambah. Ada 4 korban warga sipil dan 3 aparat. Selama 2014 hingga November 2018, 15 warga sipil dan 14 aparat tewas dari berbagai insiden serangan bersenjata di Papua.


Presiden Jokowi sudah menginstruksikan kepada TNI-Polri, agar segera menyelesaikan masalah ini. Menangkap semua pelakunya. Namun, diakuinya tak mudah menyelesaikan persoalan ini. “Kita harus tahu, yang namanya Nduga, medannya tuh medan hutan belantara. Bukan sesuatu yang gampang,” kata Jokowi di Lampung, Jumat (8/3).

Berita Terkait : Densus 88 Tembak Mati Terduga Teroris di Bekasi

Jokowi mengaku pernah berkunjung ke lokasi tersebut. “Kita kan pernah ke sana. Tidak mudah bagi Polri, bagi TNI untuk mengejar dan menyelesaikan ini. Tidak mudah, karena medannya betul-betul sangat berat dan hutan belantara,” ucap Jokowi. 

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengatakan, penyelesaian kasus ini harus dimulai dengan mengganti sebutan KKB. Kata dia, sebutan kelompok kriminal itu tak ada bedanya dengan kelompok kriminal di kawasan Tanah Abang. 

Dia ingin, pemberian nama KKB diganti menjadi kelompok separatis. Dengan begitu, status operasi penumpasan bisa ditingkatkan. “Ini yang perlu dipikirkan lagi,” kata Moeldoko di kantornya, Jumat (8/3).

Berita Terkait : Tumpas Teroris Papua, TNI-Polri Banyak Ngeluh

Dia menanyakan, apakah benar tindakan yang dilakukan KKB Papua selama ini merupakan tindakan kelompok kriminal. 

Menurut Moeldoko, pemberian nama kelompok kriminal membatasi tugas TNI menumpas kelompok ini. Karena prajurit TNI di lapangan, sifatnya hanya membantu personel Polri yang memiliki wewenang penuh untuk menumpas KKB Papua. 


“Karena kalau (nama) kelompok kriminal, malah TNI jadi santapan mereka. TNI melihat ini kekuatan (KKB saat menyerang), tapi ‘wah nggak bisa, gue (prajurit TNI) di depan, harus polisi. Ini masalah prajurit (di lapangan),” ungkapnya. [BCG]