RMco.id  Rakyat Merdeka - Sudah dua pekan, Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan pegang komando perang lawan Corona di 9 Provinsi. Apakah berhasil? Ternyata, belum memuaskan. Memang, angka kesembuhan membaik, tapi penambahan kasus positif masih tinggi, begitupun angka yang meninggal. Capaian ini membuktikan: Luhut memang dianggap jago di segala hal, tapi tetap saja dia bukan Superman.

13 September yang lalu, Presiden Jo­kowi memerintahkan Luhut sebagai Wakil Ketua Komite Pengendalian Covid-­19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional untuk mengurus Corona. Bersama Ketua Satgas Penanganan Covid­-19, Doni Monardo, ada 3 target yang diberikan Jokowi pada Luhut dalam waktu 2 pekan.

Pertama, penurunan penambahan kasus positif harian. Kedua, pening­katan angka kesembuhan. Dan ketiga, penurunan angka kematian. “Dalam waktu dua minggu,” kata Luhut da­lam rapat perdananya dengan para Gubernur provinsi prioritas (14/9).

Apakah ketiga target yang ditugaskan Jokowi ke Luhut ini tercapai? Jubir Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito memberi penjelasan gamblang. “Semua pihak ingin mengetahui bagaimana perkembangan dua minggu terakhir terkait 9 provinsi prioritas ditambah Banten. Yaitu tanggal 13-27 September. Sejak ditunjuknya Menko Marves dan Ketua Satgas Penanganan Covid-19,” kata Wiku dalam keterangan pers dari Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Pertama, kasus positif. Wiku mengatakan, dalam periode 13-27 September, terjadi kenaikan jumlah kasus aktif di 10 provinsi prioritas yang berakibat kenaikan secara nasional. Total kasus aktif di 10 provinsi prioritas tersebut, 13 September, masih berjumlah 39.271 pasien.

Berita Terkait : Tuh Kan, Pak Mahfud Ngeri Kalau Begini Nih

Namun, sepekan setelah Luhut ditugaskan, kasus aktif di 10 provinsi bertambah menjadi 40.693. Sepekan setelahnya atau pada 27 September, kasus aktif di 10 provinsi itu kembali bertambah menjadi 41.798.

Kedua, angka kesembuhan. Wiku menjelaskan, dalam 2 pekan ini, terjadi penambahan signifikan pasien sembuh di 10 provinsi prioritas. Pada 13 September, jumlah pasien sembuh di 10 provinsi yakni 124.237 orang. Jumlahnya meningkat dalam waktu sepekan ke angka 141.244 pasien. Lalu dalam waktu dua pekan, angkanya kembali meningkat ke 161.091 pasien. Namun, persentase kontribusi kesembuhan di 10 provinsi prioritas terhadap kesembuhan nasional mengalami penurunan.

Ketiga, angka kematian. Kata Wiku, angka kematian masih terus terjadi penambahan di 10 provinsi prioritas. Pada 13 September, jumlah pasien meninggal dunia di seluruh provinsi prioritas 6.775 orang, lalu naik menjadi 7.687 pada sepekan setelahnya. Pada 27 September, angka kematian di sepuluh provinsi prioritas mencapai 8.327.

Jika dilihat per provinsi, maka ada lima provinsi yang mengalami penurunan persentase kematian, namun tidak signifikan dan cenderung stagnan. Lima provinsi lainnya mengalami peningkatan. “Terjadi peningkatan di Jawa Timur, Sumatera Utara, Papua, Bali, dan Banten,” kata ahli kebijakan kesehatan dan penanggulangan penyakit infeksi itu.

Apa tanggapan Luhut atas belum tercapainya target yang diberikan Jokowi ini? Luhut tidak menampik data perkembangan kasus Corona di 9 Provinsi yang dibeberkan Wiku. Namun, Luhut berkilah, kasus Corona yang terus naik bukan karena pemerintah yang kembali membuka perekonomian. “Ini karena masyarakat tidak disiplin,” tandas Luhut, kemarin.

Berita Terkait : Satgas: Masyarakat Ujung Tombak Penanganan Virus Covid-19

Jubir Menko Kemaritiman dan Investasi, Jodi Mahardi masih optimis bosnya bisa menunjukkan kinerja yang cemerlang dalam 2 pekan ini. Dia menyebut ada 3 strategi andalan Luhut yang akan dilanjutkan hingga vaksin datang. 

Pertama, penerapan disiplin protokol kesehatan dan deteksi awal penyebaran Covid-19 (testing dan tracing). Kedua, pembangunan pusat isolasi atau karantina terpusat, dan ketiga, peningkatan manajemen perawatan pasien Covid-19.

“Ya ini kan tidak semudah membalikkan tangan. Kita nggak bisa pastikan kapan pandemi akan berakhir,” kata Jodi, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Sementara itu, epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono mengaku tak kaget dengan capaian kinerja Luhut dalam 2 minggu ini. “Ya, tidak akan berhasil. Dia bukan Superman. Serahkan mandatnya ke presiden,” saran Pandu, dalam obrolan WhatsApp dengan Rakyat Merdeka, tadi malam.

Ia mengusulkan, agar Presiden membuat rencana penanganan pandemi dan pemulihan dampaknya dalam 5 tahun. Ia menyingkatnya dengan sebutan Pelita. Agar pemerintah punya program dan tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Karena, dia memprediksi virus yang bermula di Wuhan itu, tidak akan lenyap dalam waktu dekat.

Berita Terkait : Jangan Takut Divaksin, Tubuh Jadi Kebal dari Penyakit

Epidemiolog UI lainnya, Tri Yunis Miko Wahyono masih optimis. Asalkan, Pembatasan Sosial Bersakala Besar (PSBB) total diberlakukan secara

serentak. Tidak hanya di Jakarta. Minimal 10 provinsi prioritas. “10 provinsi yang tinggi aja kasusnya,” kata Miko, kepada Rakyat Me­rdeka, tadi malam.

Selain itu, penanggulangannya juga harus sinkron. Semua bergerak ke arah yang sama. “Jangan sampai mengalahkan Covid-19 dengan ekonomi,” sentilnya.

Di dunia maya, kinerja Luhut ini juga mendapat sorotan. Wakil Ketua MPR, Hidayat Nurwahid menyinggung melesetnya perintah Presiden terhadap Luhut. Lewat akun Twitternya @hnurwahid, politisi PKS menagih soal reshuffle. “Evaluasi Prof Wiku A (Jubir Satgas Penanganan Covid-19) ; 2 Pekan Luhut Diperintah Presiden @jokowi Untuk Turunkan Kasus Covid-19. Ternyata Malah bertambah, Kematian Naik di 5 Provinsi. Kembali targetnya tak terpenuhi. Bagaimana evaluasi @jokowi. Jadi resuhuffle?” cuit Hidayat.

Rizal Ramli juga ikut mengkritik kinerja Luhut dalam 2 pekan ini. “Fiasco 2 Minggu: tidak aneh gagal turunkan Covid, wong tidak ada perubahan strategi, hanya ngomong ‘segerobak’, ancam2 & tumpuk kekuasaan. Ubah definisi kematian covid, dikira lihai tapi tidak cerdas. RI masuk ‘high risk’, negara-negara yang lock-out RI naik,” kata Rizal dalam akun Twitternya @RamliRizal. [SAR]