RMco.id  Rakyat Merdeka - Perang melawan Corona di Indonesia sudah masuk bulan ketujuh. Belum ada tandatanda, kapan virus asal China ini bakal hilang. Lonjakan kasus masih tetap tinggi, meskipun yang sembuh juga tinggi. Presiden Jokowi mengaku, pemerintah terus bekerja keras mengendalikan virus sialan itu. Jokowi bilang, pemerintah tak berpangku tangan.

Untuk diketahui, kasus Corona pertama kali masuk Indonesia, 2 Maret lalu. Dengan demikian, terhitung Sabtu (3/10), Corona menyerang Indonesia genap 7 bulan. Hingga kemarin, total warga yang positif Corona mencapai 303.498 orang. Sedangkan yang berhasil sembuh mencapai 228.453 orang dan 11.151 orang meninggal dunia.

Berita Terkait : SBY Tak Nyerang Jokowi

Menyikapi perang lawan Corona dalam 7 bulan ini, Jokowi menyampaikan pendapatnya dalam sebuah video berdurasi 7 menit 40 detik. Video dengan pilihan ruang gelap untuk berbicara ini, diunggah Jokowi melalui semua jejaring media sosial miliknya; Facebook, Instagram, Twitter dan YouTube.

Mengenakan kemeja putih dipadukan jas bergaris berwarna biru gelap, Jokowi duduk bersender di sebuah kursi kayu. Usai melepas masker, tampak dengan jelas wajah Jokowi yang kontras dengan latar ruangan berwarna gelap. Kantong matanya terlihat makin tebal. Tidak ada senyuman di awal. Wajahnya terlihat lelah. “Strategi pemeritah sejak awal adalah mencari titik keseimbangan. Kesehatan tetap nomor satu, tapi tidak mengorbankan ekonomi,” ucap Jokowi memulai pembicaraannya.

Berita Terkait : Pengamat Ini Bilang, Ada Gerakan yang Sengaja Recokin Terus Kerja Jokowi

Kata Jokowi, dalam 7 bulan ini, banyak tantangan yang dihadapi. Tapi sudah banyak juga yang sudah dilakukan pemerintah untuk menjinakkan virus asal China itu. Meskipun, diakuinya, itu masih jauh dari sempurna. “Namun kita tidak berpangku tangan. Banyak yang sudah kita kerjakan. Maka, mari kita bicara fakta dan data, bukan kira-kira,” ujarnya.

Jokowi memberi klarifikasi terkait persepsi publik yang menuding pemerintah menomorduakan kesehatan setelah ekonomi. Kata dia, persepsi itu tidak benar. Kesehatan publik tetap nomor satu. Tetap prioritas. “Tetapi memprioritaskan kesehatan bukan berarti mengorbankan ekonomi,” tegasnya. Kenapa? Karena, jika mengorbankan ekonomi, lanjut Jokowi, maka itu sama saja dengan mengorbankan kehidupan puluhan juta orang. “Ini bukan opsi yang bisa kita ambil. Sekali lagi, kita harus mencari keseimbangan yang pas,” tegasnya lagi.
 Selanjutnya