Sebelumnya 
Terhitung ada 4 kali Jokowi mengulang-ulang kata keseimbangan, sejak awal bicara. Baru kemudian dia bicara lugas. “Tidak perlu sok-sokan akan me-lockdown provinsi, me-lockdown kota, atau me-lockdown kabupaten. Karena akan mengorbankan kehidupan masyarakat,” sentil Jokowi.

Tapi, entah ke siapa kalimat ini dia tujukan. Ia mengajak untuk memberikan penilaian berdasarkan fakta dan data. Bukan kira-kira. Jokowi mengklaim, penanganan Covid-19 di Indonesia cukup baik. Grafik persentase kesembuhan dari kasus positif Covid-19 di Tanah Air, kemudian muncul di layar. Arah garisnya terus bergerak naik. Di titik akhir, per 2 Oktober menunjukkan angka 74,9 persen. Melampaui persentase kesembuhan dunia: 74,43 persen. Begitu pun dengan jumlah kasus positif dan angka kematian.

Berita Terkait : Anak Buah Mega Tak Akan Dipenjara

Akan tetapi, Jokowi membandingkannya dengan negara-negara yang punya jumlah penduduk besar. Bukan lagi dengan data rata-rata global. Indonesia, dalam data yang disodorkan Jokowi itu, berada di urutan 23 dengan 295.499 kasus dibanding negara lain di dunia. Juaranya, menurut data itu adalah Amerika Serikat (7.495.136 kasus), disusul India, Brazil, Rusia, dan Kolombia yang masuk 5 besar negara dengan jumlah kasus Covid-19 terbanyak saat ini. Indonesia juga masih jauh di bawah AS, Brasil, India, Meksiko dan Inggris dalam hal angka kematian. “Sebaiknya, kalau membandingkan, ya seperti itu,” cetusnya.

Pencapaian dalam hal ekonomi, klaim Jokowi, juga tidak jelek-jelek amat. “Ekonomi kita menurun, ya, betul. Itu fakta. Tapi, mana ada negara yang tidak menurun ekonominya?” tanya Jokowi. Kinerja ekonomi Indonesia, kata Jokowi, masih lebih baik dibanding negara-negara lain di dunia. Termasuk dengan beberapa negara di Asia Tenggara. “Sekali lagi, ini fakta. Ini harus kita ambil hikmahnya agar kita juga tetap optimis, tetap optimis, dan tidak kehilangan harapan. Sekali lagi, saya tegaskan, kita harus tetap optimis,” ajak Presiden, berulang kali.

Berita Terkait : Jokowi Divaksin Corona, Rupiah Melesat

Di pertengahan video, Jokowi memamerkan banyaknya program perlindungan sosial di tengah pandemi. Triliunan rupiah digelontorkan di tengah keterbatasan keuangan negara. “Saya mengambil risiko untuk mengatasi masalah ini,” tegasnya.

Namun, Jokowi mengaku belum puas. Ia minta para anak buahnya, yakni para menteri untuk lebih baik lagi dalam bekerja. Soal mini lockdown juga disinggung lagi. Menurut Jokowi, Pembatasan Sosial Berskala Mikro itu lebih baik. “Penyesuaian kebijakan itu jangan dianggap pemerintah mencla-mencle, Covid-19 ini masalah baru,” imbuhnya.

Berita Terkait : Siaran Langsung, Ini Link YouTube Jokowi Disuntik Vaksin Covid

Di akhir video, Jokowi meminta agar polemik dan kegaduhan dikurangi. Lalu, ia menyampaikan terima kasih kepada tenaga medis, TNI/Polri, ASN hingga relawan yang terlibat dalam penanganan pandemi. Kepada masyarakat, Presiden menyerukan agar taat pada protokol kesehatan.

Apa yang bisa ditangkap dari video Jokowi ini? Pakar Gestur, Handoko Gani coba menganalisa dari komunikasi tubuh yang ingin disampaikan Jokowi. Menurutnya, ada beberapa kalimat penekanan yang disampaikan Jokowi tidak selaras antara pikiran, perasaan dan spektrum suaranya. Kalimat itu antara lain: “keseimbangan yang pas” dan “tidak buruk” ketika mengucapkan: pencapaian kita sejauh ini tidak buruk. “Pikiran dan perasaan Pak Presiden perlu diselaraskan dengan spektrum suara,” saran Global Authorized Operator Layered Voice Analysis itu, dalam obrolan WhatsApp dengan Rakyat Merdeka, tadi malam. [SAR]