RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya memperkuat industri baja nasional. Apalagi industri ini sangat penting atau sering disebut mothers industry. 

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier mengungkapkan, hampir seluruh negara di dunia saat ini mengalami pelemahan permintaan terhadap produk baja karena dampak pandemi Covid-19. Untuk itu, pemerintah berupaya mencari peluang agar permintaan di sektor industri baja bisa meningkat. 

“Kita lihat di Amerika, ada upaya dari industri bajanya menyurati parlemennya untuk mengeluarkan semacam infrastructure bill yang tujuannya untuk mendorong industri baja agar bergerak,” ujarnya.

Pada saat pandemi, hampir seluruh industri baja ini mengalami slow down dan kemudian banyak dijumpai tenaga kerja yang mungkin dijaga, agar tidak terjadi PHK. “Ini satu upaya yang besar, jadi disrupsi dari supply chain secara global,” ujarnya. 

Berita Terkait : Kemenperin Dukung TKDN dan Sertifikasi Produk Farmasi

Pihaknya telah memacu industri baja di Tanah Air untuk melakukan inovasi agar roda bisnisnya tetap berputar. Inovasi jadi bagian kunci keberlangsungan baja kita. 

“Pemerintah, baik pusat, daerah, BUMN harus mengalokasikan minimal proyek-proyek infrastruktur yang menjadi bagian penting penyerapan baja nasional. Itu harus diprioritaskan,” tegasnya.

Lebih lanjut, jurus yang perlu dikeluarkan adalah penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) produk baja dan pengoptimalan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Taufiek menilai, secara teknis, SNI merupakan instrumen yang cukup baik untuk membendung impor khususnya produk hilir.

“Kalau bahan baku saya kira itu kan hanya di pabrik. Kalau konsepnya SNI itu kan beredar di pasar. Itulah yang menjadi fokus. Industri yang paling hilir yang menjadi perhatian kita harus SNI,” ujarnya.

Berita Terkait : Ini Jurus Kemenhub Selamatkan Sektor Logistik

Untuk TKDN juga sudah diupayakan sehingga produksi itu punva TKDN di atas 40 persen. Otomotis pemerintah, BUMN, harus membeli produk-produk yang dihasilkan dari dalam negeri. Itu yang menjadi konsentrasi kita,” ujarnya. 

Taufiek menambahkan, negara-negara yang berkonsentrasi di sektor industri baja menggunakan skema stimulus untuk menggairahkan sektor industri bajanya. “Dengan skema stimulus, diharapkan adanya pertumbuhan permintaan baja. Sikap serupa juga dilakukan China. Negara tersebut mengeluarkan bounce sampai sekitar 326 miliar dolar AS,” imbuhnya.

Apabila dilihat dari peta dunia, 52 persen pengguna baja itu di sektor konstruksi dan bangunan. Kemudian, 16 persen di equipment/machining, 12 persen di sektor otomotif, 10 persen di household, dan 3 persen di sektor lainnya seperti alat elektronik. “Ini adalah gambaran besar mengapa infrastruktur menjadi penting untuk didorong dana pemerintah,” kata Taufiek.

Industri baja diprioritaskan karena dinilai sebagai mother of industry, yang produksinya digunakan sebagai bahan baku untuk sektor lainnya. Sehingga, Taufiek menyampaikan, konsep pengembangan industri yang perlu dibangun haruslah fokus pada peningkatan utilisasi industri, minimal tidak jatuh

Berita Terkait : Tingkatkan Pembangunan Infrastruktur, Kemenperin Perkuat Industri Baja Nasional

“Jadi kita tumbuhkan sektor industri baja ini karena demand yang selalu ada, sehingga ekonomi tetap bergerak,” ujarnya. [DIT]