RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah mengatakan pandemi Covid-19 merupakan kesempatan emas bagi perkembangan riset dan teknologi. Inovasi di bidang kesehatan terus dikembangkan untuk melawan penyebaran virus corona.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, pandemi memang membawa bencana kepada Indonesia dan seluruh dunia. Tapi, ia juga mengakui dengan adanya pandemi ini, membawa berkah bagi riset dan teknologi Indonesia. 

Berita Terkait : Rapor Menteri Saat Pandemi Dan Resesi

Bambang menambahkan selama 6 bulan pandemi ini mendorong transformasi digital. Pemerintah juga berupaya merespon situasi pandemi. "Melalui konsorsium riset dan inovasi Covid-19 di bawah Kemenristek/BRIN Indonesia telah mengembangkan lebih dari 61 inovasi selama masa pandemi ini dengan pendekatan triple-helix," ungkap Bambang saat menjadi pembicara di diskusi virtual bersama Rakyat Merdeka dengan tema Pandemi Melahirkan Inovasi, Selasa (6/10).

Menurut Bambang pandemi justru mempermudah riset dan inovasi. Dalam waktu relatif singkat para peneliti bisa mengembangkan banyak sekali teknologi di bidang kesehatan. Itu berarti peneliti di negara kita sangat talented. "Tinggal bagaimana diarahkan supaya tidak egois secara institusi ataupun egois secara keilmuan," ujarnya.

Berita Terkait : Menteri Teten : LPDB Perkuat Permodalan Koperasi Di Indonesia

Bambang juga mengatakan, pelajaran penting lainnya dari masa pandemi ini adalah memberikan dampak positif di bidang riset terlebih dalam hal peningkatan semangat kolaborasi riset yang dilakukan oleh para peneliti baik di perguruan tinggi maupun lembaga riset.

Semangat kerja sama sangat diperlukan masa pandemi, alasannya sederhana, karena  biasanya para peneliti sibuk sendiri-sendiri dengan minat dan topik yang diminati. "Namun, saat ini para peneliti memiliki musuh bersama yaitu Covid-19,” jelasnya. 

Berita Terkait : Negara Tidak Boleh Takluk Pada Ancaman Siapa Pun!

Bambang nengatakan masa pandemi Covid-19 telah mendorong peran ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi lebih kuat dengan adanya kolaborasi dan sinergi antar peneliti dari berbagai disiplin ilmu.

Dalam hal ini Ia memberikan contoh sederhana berdasarkan pengalaman Indonesia belum pernah membuat ventilator selama masa pandemi. "Tetapi karena kebutuhan ventilator sangat dibutuhkan saat ini,  dalam waktu tiga bulan Indonesia dapat memproduksi ventilator untuk kebutuhan pasien Covid-19,  para peneliti kami berhasil membuat ventilator sendiri," pungkas Bambang. [DIR]