RMco.id  Rakyat Merdeka - Dokter dan tenaga kesehatan merupakan pekerjaan yang sangat berisiko di tengah pandemi Covid-19. Sampai saat ini, sudah ada 132 dokter yang gugur akibat terpapar Covid-19. Fakta ini tentu saja sangat disayangkan, mengingat dokter adalah garda terdepan dalam penanganan pasien Covid-19. 

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Nasional Doni Monardo menjelaskan, jumlah dokter di Indonesia sangat terbatas. Tidak sebanding dengan jumlah penduduk. Secara keseluruhan, jumlah dokter ada 200 ribu, dokter spesialis 36 ribu, sedangkan dokter spesialis paru-paru hanya ada 2.000.

Berita Terkait : dr Reisa: Vaksin Tak Masukkan Penyakit Ke Tubuh

"Katakanlah, ada 2.000 dokter paru untuk melayani 270 juta warga negara kita. Artinya, satu orang dokter paru harus melayani 135 ribu warga negara kita. Kehilangan satu dokter paru, berarti kehilangan pelayanan untuk 135 ribu warga negara kita. Karena itu, dokter adalah aset penting bangsa kita. Nilainya strategis," kata Doni, saat diskusi virtual Wartawan Bertanya Doni Monardo Menjawab, di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (9/10).

Agar beban kerja dokter dan tenaga medis tidak semakin meningkat, dan pasien Covid pun dapat dirawat dengan baik, Doni meminta masyarakat untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan 3M: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer.

Berita Terkait : Hari Ini, MRT Jakarta Beroperasi Normal

"Kita hanya diminta melaksanakan protokol kesehatan. Itu sangat mudah. Tidak sulit. Tidak sebanding dengan perjuangan dokter, tenaga medis, dan tenaga kesehatan lain yang terjun menangani Covid-19. Karena itu, kita semua harus punya komitmen untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan," papar Doni.
 Selanjutnya