RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Kesehatan Letjen (Purn) Terawan Agus Putranto baru saja dapat kesempatan bergengsi. Dia di­ kasih panggung oleh World Health Organization (WHO) untuk bicara soal penanganan Covid­-19 di Indonesia. Namun, Terawan diminta tidak geer dulu alias gede rasa dapat undangan tersebut. Mengingat, undangan itu bukan penghargaan atas kesuksesan dirinya menangani Covid­-19.

Terawan diundang WHO lewat sebuah surat untuk ikut dalam kon­ ferensi pers virtual, kemarin sore. Acara itu diikuti Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus serta Menkes dari 3 negara: Menkes Thailand, Anutin Charnvirakul, Menkes Afrika Selatan Zweli Mkhize dan Terawan.

Dalam undangannya, Terawan diminta berbagai pengalaman me­nerapkan penggunaan IAR Covid-­19 secara nasional. IAR Covid­-19 ini, semacam tool evaluasi dan monitoring dalam penanganan Covid­-19.

Acara dimulai sekitar jam 5 sore WIB. Setelah dibuka oleh host, acara dipandu Tedros Adhanom Ghebre­ yesus. Setelah Tedron, gantian Anutin Charnviraku sebagai pembicara per­tama. Kedua, Zwelini Mkhize. Tera­wan dapat giliran terakhir.

Berita Terkait : Bantu Penanganan Covid-19, Net1 Indonesia Berikan Internet Gratis Untuk 500 RS

Mantan Dirut RSPAD ini tampil kece dengan setelan jas hitam, komplit dengan dasi merahnya. Terawan berbicara dari ruang kerjanya di Kantor Kemenkes. Dia tidak sendiri, melainkan ditemani jajaran pejabat Kemenkes.

Apa yang disampaikan Terawan? Purnawiranan jenderal bintang 3 ini memulai pembicaraan dengan menyam­ paikan terima kasih pada WHO. “Sebuah penghargaan besar dapat berpartisipasi dalam acara hari ini,” kata Terawan.

Terawan mengatakan, menangani Covid­-19 di Indonesia bukan perkara mudah. Sebab, ada banyak sekali pe­mangku kepentingan, baik tingkat na­sional maupun daerah yang harus dia­jak bekerja sama dalam satu komando. 

“Meski begitu, di bawah kepemim­ pinan Presiden Jokowi dan koordinasi dari Covid­-19 Task Force Chief Jenderal Luhut Binsar Pandjaitan, seluruh stakeholder bisa berkomitmen dan berkontribusi dalam mendukung IAR,” ujar Terawan. “Rekomendasi IAR berkontribusi meningkatkan komando dan koordinasi,” katanya. 

Berita Terkait : Terawan Kumat Lagi

Setidaknya, ada sembilan hal yang menjadi dasar penerapan IAR yang dilakukan di Indonesia. Kesembilan poin itu yakni komando dan koordinasi, komunikasi risiko dan pemberdayaan masyarakat, survei­ lans dan memperkuat tim investigasi, pengawasan transportasi internasional, penguatan laboratorium, kontrol infeksi, manajemen kasus, suport logistik dan operasional serta mana­ jemen pelayanan kesehatan.

Sebelum acara ini digelar, sehari sebelumnya undangan Terawan mang­ gung di acara WHO sudah tersebar duluan. Bahkan ada berita dengan judul Kemenkes menyebut undangan itu sebagai pengakuan WHO atas ke­ suksesan Terawan tangani Covid­-19.

Berita seperti ini bisa dilihat di be­ berapa portal media online. Misalnya di CNN Indonesia yang berjudul “Ke­menkes: Terawan Diundang WHO Karena Berhasil Atasi Covid­-19”. Dalam berita tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Muhammad Budi Hidayat menyebut undangan tersebut merupakan undangan spesial dari WHO atas keberhasilan Indonesia yang dinilai mampu menangani pandemi ini usai penambahan kasus positif Covid-­19 melandai dalam beberapa pekan terakhir.

Setelah berita klaim keberhasilan Terawan ini tersiar, pihak WHO mem­bantah undangan itu sebagai pengakuan WHO atas keberhasilan Terawan. WHO mengklarifikasi bahwa ucapan “sukses” itu spesifik merujuk ke pro­gram IAR saja. Program IAR bahkan bisa dilaksanakan secara online.

Baca Juga : Satgas-Kemenkes Tingkatkan Pelacakan Kasus Covid-19...

“Itu artinya mereka telah menye­lesaikan IAR dan dapat menerapkan pelajaran­-pelajaran yang dipelajari, tak hanya untuk merespons pandemi terkini, tetapi untuk memperkuat sistem­-sistem mereka untuk bersiap lebih baik dalam darurat kesehatan di masa depan,” ujar jubir kantor pusat WHO di Jenewa, seperti dikutip dari Liputan6.com, kemarin.

WHO menegaskan, para menteri yang diundang termasuk Terawan ha­ nya diundang karena program IAR. “Kami mengundang menteri­menteri dari negara­negara yang telah me­ nyelesaikan IAR untuk berbagi pe­ ngalaman dalam melaksanakan review mereka,” tambah jubir WHO.

Sependapat dengan pernyataan pejabat WHO, ahli epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono mengingatkan, Terawan tidak terlalu bangga dengan undangan tersebut. Menurutnya, undangan tersebut tidak bisa diartikan pemerintah Indonesia berhasil dalam penanganan Covid­-19.

“Suratnya tidak salah ketik. Hanya yang baca yang tidak akurat mempersepsikan. Kapan lagi bisa bilang berhasil, walaupun pada kenyataannya gelombang pertama belum terlampaui. Toh sudah sibuk mengingatkan kemungkinan gelombang kedua. Itulah Indonesia,” pungkasnya, melalui akun @drprioni1. [MEN]