RMco.id  Rakyat Merdeka - WAKIL Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mengawal betul progres kerja tim Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang kini berada di China untuk meneliti kehalalan vaksin Covid-19 produksi Sinovac Biotech.

Sang Kiai memerintahkan MUI berhati-hati dalam meneliti kehalalan vaksin produksi Sinovac tersebut. Perwakilan MUI saat ini masih sibuk mengecek kandungan bahan baku vaksin tersebut bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Vaksinnya sudah ada dan sudah diperiksa. Yang ada di Beijing, sudah ada tim bersama BPOM juga Majelis Ulama. Menjelang vaksinasi sudah harus lebih dulu keluar label halalnya,” kata Ma’ruf saat meninjau simulasi vaksinasi di Puskesmas Cikarang, Kabupaten Bekasi, kemarin.

MUI harus terlebih dulu menerbitkan status kehalalan vaksin tersebut sebelum dilakukan vaksinasi massal.

Berita Terkait : Imunisasi, Cegah Kecacatan Hingga Kematian

Ma’ruf menjelaskan, dari sisi syariat Islam vaksin boleh digunakan dengan dua alasan, yaitu, memang halal atau dalam keadaan darurat. Dan MUI punya peran menentukan boleh tidaknya vaksin Covid-19 digunakan berdasarkan ajaran Islam.

Dalam kesempatan itu, Ma’ruf memberi sejumlah catatan terhadap simulasi vaksinasi. Menurutnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) perlu memperhatikan kesiapan data peserta vaksinasi, distribusi vaksin hingga pengelolaan limbah vaksin. “Ini persiapan betul-betul cukup matang supaya nanti terjadi vaksinasi tidak ada hambatan apa-apa,” ujarnya.

Sementara, Juru Bicara Wapres Ma’ruf Amin, Masduki Baidlowi mengungkapkan, saat ini Wapres masih menunggu laporan MUI terkait progres penelitian kehalalan vaksin Covid-19 Sinovac dari China.

“MUI akan sangat berhati-hati untuk urusan vaksin sampai betul-betul fix, baru kemudian akan dilaporkan kepada Wapres,” kata pria yang akrab disapa Cak Duki ini.

Berita Terkait : 64,8 persen Responden Siap Disuntik Vaksin Corona

Menurutnya, uji kehalalan vaksin tidak sesederhana yang dipikirkan banyak orang. Butuh proses panjang dan tak sebentar. Sebab, MUI harus benar-benar seksama menjalankan proses verifikasi tersebut.

Cak Duki menjelaskan sekelumit rentetan prosesnya. Dia bilang, apabila sudah diteliti lebih lanjut terkait kandungannya, tim dari MUI nantinya akan menggelar sidang fatwa untuk menentukan halal atau tidaknya produk tersebut.

Setelah itu, tim dari MUI akan melaporkan kepada Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) terkait produk yang diuji kehalalannya tersebut.

“Dalam menjalani proses itu tidak mungkin tidak berkoordinasi dengan pemerintah. Pasti akan dilaporkan ke Wapres. Saat ini Wapres juga sedang menunggu (laporannya). Karena yang meminta untuk segera berangkat itu Wapres, tapi sekarang belum ada laporan,” ucapnya.

Berita Terkait : Jualan Online, Raup Untung Di Tengah Pandemi Covid-19

Cak Duki mengatakan, terdapat 2 orang tim verifikator dari MUI yang berangkat ke China untuk mengecek kehalalan vaksin Corona.

Seperti diketahui, pemerintah telah menandatangani kesepakatan pengadaan 143 juta dosis konsentrat vaksin Covid-19 dengan perusahaan farmasi asal China, yaitu Sinovac, Sinopharm dan CanSino. Masing-masing 65 juta,15 juta hingga 20 juta konsentrat vaksin.

Vaksin hasil karya Sinovac ini rencananya juga akan diproduksi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Bio Farma. [DIR]