RMco.id  Rakyat Merdeka - Libur panjang akhir tahun di musim pandemi Covid-19 perlu disikapi dengan cermat dan bijaksana. Libur panjang tidak boleh menambah kasus positif Corona.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid¬19, Wiku Adisasmito menegaskan, keputusan libur panjang ditentukan oleh pemerintah.

Namun, tanpa mengabaikan prinsip¬prinsip kesehatan masyarakat di masa liburan. Terutama, di masa pandemi Covid-19 ini.

“Jika kedisiplinan masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan dirasa kurang, maka libur dan cuti bersama Natal dan Tahun Baru bisa saja ditiadakan,” tegas Wiku pada konferensi pers di YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (20/11).

Dia menekankan, apapun keputusan pemerintah terkait libur panjang ini, merupakan upaya melindungi masyarakat dari kemungkinan terpapar Covid¬19.

Wiku kembali mengingatkan masyarakat agar disiplin mematuhi 3M, yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak.

Berdasarkan revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri Nomor 391 Tahun 2020, dan Nomor 2 Tahun 2020, tanggal 24¬25 Desember menjadi cuti bersama dan libur Natal, ditambah 28 Desember-31 Desember libur pengganti Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah.

Jika ditambah dengan tanggal 1¬3 Januari 2021 yang jatuh pada Jumat, Sabtu dan Minggu, maka ada sekitar 11 hari libur panjang.

Berita Terkait : Satgas Covid Ancam Terapkan Jam Malam

Netizen terbelah menyikapi rencana libur panjang akhir tahun pada Desember mendatang.

Ada yang setuju libur panjang tetap ada demi menjaga kehidupan perekonomian, tapi, banyak yang menolak karena ada potensi penyebaran virus Corona.

Tri Wahyu misalnya, dia menyatakan menolak adanya libur cuti bersama yang akan berlangsung akhir Desember.

Dia menilai, imbauan mematuhi protokol kesehatan (prokes) menjadi percuma saja karena tempat wisata pasti penuh oleh mereka yang berlibur.

Ditambah lagi, kata dia, tidak ada pembatasan kuota kunjungan ke tempat wisata tersebut.

“Menjaga ekonomi ya. Tapi kita tetap menjaga supaya penyebaran Corona tidak cepap meluas,” kata dia.

Arif Jamali Muis menyambung. Dia mem-bayangkan, akhir Oktober 2020, Kota Yogja macet, hotel¬hotel penuh, di mana¬mana ramai karena libur panjang.

Tapi, 2¬3 minggu berikutnya, rumah sakit di Yogja penuh pasien Covid-19, tempat isolasi mandiri ditutup sementara karena full.

Berita Terkait : Relawan Akan Terus Solid, Bantu Pemerintah Tangani Covid-19

“Jaga kesehatan kawan, selalu pakai masker jika beraktivitas,” saran dia.

Fendri Jaswie menambahkan, dampak libur panjang 14 hari lalu baru terjadi saat ini. Angka positif Covid¬19 melonjak tajam. Tingkat nasional dari 3.000¬an ke 4.798.

Riau berada di urutan dua, meroket dari 168 orang, jadi 688 orang hari ini. “Masihkah menganggap remeh Covid¬19?” tanya dia.

“Cluster libur panjang sudah jadi kenyataan. DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah ada lonjakan positif Covid¬19. Selalu waspada,” ujar Fatma_Reyna.

Menurut Thiwul, tak cukup dengan meniadakan libur panjang. Dia mengusulkan, harus ada langkah tegas menghentikan aktivitas berbahaya.

Termasuk juga, kata dia, harus ada sistem kesehatan yang menjamin terjaga nyawa.

“Yang penting lagi sistem ekonomi yang mampu menanggung itu semua,” ujar dia.

Adi Putranto malah ngegas. Dia meminta libur panjang akhir tahun harus tetap ada. Kata dia, pemerintah silakan menyebar masker buat yang sedang dalam perjalanan.

Berita Terkait : Distribusi Vaksin Bakal Gunakan Teknologi Digital

“Bagikan di rest area,” sarannya.

Menurut Herry Pradono, masalahnya bukan pada libur panjang. Tapi, pada kerumunan orang banyak yang tidak mengikuti protokol kesehatan.

“Hargai para petugas kesehatan yang berjuang kehilangan nyawa,” pintanya.

Untuk itu, Royce Kusuma meminta pemerintah support masker dan hand sanitizer di tempat-tempat yamg diperlukan.

“Untuk aksi preventif penyebaran Covid¬19,” saran dia.Senada, Madtauren juga menilai tidak ada hubungan antara libur panjang dan peningkatan Covid¬19.

Justru, kata dia, dengan libur atau lockdown, Covid¬-19 dapat ditekan. “Lockdown dua minggu saja sekalian libur panjang tahun baru,” usul Madtauren.

Ronaldo juga mendukung adanya libur panjang. Dia mengaku, kasihan dengan sektor pariwisata, hotel, mall, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), pariwisata.

Saat ini, kata dia, di sektor sektor tersebut, ratusan ribu pegawainya megap megap dan terancam PHK.“Bantuan Rp 600 ribu mana cukup,” pungkas dia. [TIF]