RMco.id  Rakyat Merdeka - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan, masyarakat tetap boleh berkegiatan selama masa pandemi Covid-19. Syaratnya, menaati aturan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Selama virus Corona masih menghantui, masyarakat jangan memaksakan berkegiatan seperti dulu.

“Maulidan boleh, asal AKB. Maksimal 50 orang. Sisanya secara virtual. Pernikahan boleh, tapi maksimal 30 orang. Lainnya, memberi selamat via ponsel,” kata Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil, di Jakarta, kemarin.

Terkait kasus kerumunan massa di acara tabligh akbar di Magamendung, Emil mengatakan, Pemprov Jabar telah menjatuhkan sanksi kepada Pemkab Bogor berupa teguran lisan, teguran tertulis dan denda administratif.

Berita Terkait : Tolak Tes PCR Atau Ogah Divaksin Denda Rp 5 Juta, Bawa Kabur Jenazah Covid Kena Rp 7,5 Juta

Di acara itu, ungkapnya, jajaran aparat setempat telah berupaya menertibkan massa dan menegakkan protokol kesehatan (prokes). Ia mencatat, 1.200 personel gabungan keamanan yang terdiri dari Polri, TNI dan Satpol PP telah dikerahkan untuk menertibkan.

“Tapi kalau menghadapi jumlah massa yang banyak, pilihan represif itu ada risiko yang harus diperhitungkan. Di situlah risiko pemimpin di lapangan,” katanya.

Untuk itu, Emil mengajak semua pihak mengambil hikmah dari kasus pelanggaran prokes. Agar ke depannya tidak sampai ada lagi korban yang tertular Covid-19, hingga dua Kapolda digeser dari jabatannya.

Berita Terkait : Relawan Solid Bantu Pemerintah

Dia berharap, semua pihak kompak mentaati prokes demi memutus mata rantai penularan Covid-19.

“Buat para pemimpin, tokoh masyarakat, penyelenggara acara, hanya kekompakanlah yang bisa membawa keberhasilan keluar dari masa pandemi ini,” imbuhnya.

Emil juga meminta semua pihak berempati kepada para polisi, dokter dan tenaga kesehatan yang telah berupaya memutus rantai penularan Covid-19 selama hampir sembilan bulan ini.

Berita Terkait : Puskesmas Ciracas Rutin Sosialisasi Ke Perusahaan

“Sudah lebih dari 120 dokter meninggal dunia karena Covid-19. Jangan kita keukeuh menganggap kegiatan harus seperti dulu sebelum pandemi,” jelasnya. [DIR]